Solidaritas untuk Mgr. Paskalis Bruno Syukur, Umat Gelar Aksi Seribu Lilin di Depan Kedubes Vatikan

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 10 Feb 2026, 22:42
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Penulis & Editor
Bagikan
Solidaritas untuk Mgr. Paskalis Bruno Syukur, Umat Gelar Aksi Seribu Lilin di Depan Kedubes Vatikan Solidaritas untuk Mgr. Paskalis Bruno Syukur, Umat Gelar Aksi Seribu Lilin di Depan Kedubes Vatikan (Istimewa)

Ntvnews.id, Jakarta - Umat Katolik menggelar aksi Seribu Lilin dan doa bersama di depan Kedutaan Besar Vatikan (Nunciatura Apostolik) sebagai bentuk solidaritas kepada Mgr. Paskalis Bruno Syukur, OFM. Aksi ini dilakukan menyusul kembalinya Mgr. Paskalis ke Rumah Persaudaraan OFM pada 7 Februari 2026, setelah sebelumnya mengumumkan pengunduran dirinya sebagai Uskup Keuskupan Bogor pada 19 Januari 2026.

Dalam siaran pers yang diterima media, aksi tersebut disebut sebagai ungkapan kepedulian dan keprihatinan umat atas rangkaian peristiwa yang mengiringi pengunduran diri Mgr. Paskalis. Umat menilai, di balik sikap keikhlasan dan pilihan jalan sunyi yang diambil Mgr. Paskalis, terdapat sejumlah kejanggalan yang memunculkan pertanyaan serius mengenai proses dan keadilan yang dijalankan.

Dalam pernyataan pengunduran dirinya, Mgr. Paskalis menyampaikan pengakuan yang dinilai jujur sekaligus mengagetkan.

“Saya menerima keputusan dari Paus Leo XIV dan tentu saja menanggalkan jabatan sebagai Uskup. Bukan dengan rasa kehilangan, melainkan dengan kebebasan hati. Meski ada tekanan dan situasi sulit yang mengikutinya,” demikian pernyataan Mgr. Paskalis yang dikutip dalam siaran pers tersebut, Selasa, 10 Februari 2026.

Pengakuan mengenai adanya tekanan itulah yang kemudian memicu pertanyaan mendasar di kalangan umat. Mereka mempertanyakan dari mana tekanan tersebut berasal dan bagaimana seorang Uskup, bahkan yang disebut sebagai calon Kardinal, dapat didorong untuk mengundurkan diri sebelum seluruh persoalan diklarifikasi secara tuntas.

Umat menyebut, sebelum pengunduran diri tersebut, terdapat dua peristiwa penting. Pertama, beredarnya surat berisi tuduhan-tuduhan yang dinilai sumir dari dua pihak, yang kemudian menyebar luas dan viral. Kedua, penunjukan Visitator Apostolik untuk memeriksa tuduhan-tuduhan tersebut.

Namun hingga kini, menurut pernyataan solidaritas umat, tuduhan-tuduhan itu tidak pernah dibuktikan secara meyakinkan. Ironisnya, keputusan terhadap Mgr. Paskalis justru telah diambil sebelum kebenaran atas tuduhan tersebut terungkap sepenuhnya. Dari situ, umat mempertanyakan apakah Mgr. Paskalis telah diperlakukan secara benar, adil, dan bermartabat.

Dalam siaran pers tersebut ditegaskan bahwa solidaritas umat kepada Mgr. Paskalis bukanlah bentuk perlawanan terhadap Gereja Katolik.

“Solidaritas ini bukan perlawanan terhadap Gereja yang kami yakini sebagai Ibu dan Guru, dan juga bukan tuntutan agar beliau kembali menggembalakan Keuskupan Bogor,” demikian pernyataan dalam rilis itu.

Umat menyebut aksi ini sebagai seruan profetis agar otoritas Gereja dijalankan untuk merangkul dan melayani, bukan menekan dengan logika kekuasaan.

“Solidaritas ini merupakan harapan tulus agar para gembala Gereja menggunakan otoritas rohaninya untuk mengajarkan kebenaran, bukan menekan dengan logika kekuasaan yang menyerupai praktik politik duniawi,” tulis pernyataan tersebut.

Lebih jauh, umat Katolik Indonesia menyampaikan tuntutan konkret kepada Takhta Suci Vatikan. Mereka meminta dilakukan investigasi menyeluruh oleh tim independen yang imparsial.

“Meminta Takhta Suci Vatikan untuk melakukan investigasi melalui sebuah tim independen yang imparsial guna memeriksa dan mengevaluasi seluruh rangkaian proses visitasi hingga pengunduran diri Mgr. Paskalis Bruno Syukur, OFM,” demikian bunyi tuntutan tersebut.

Umat menegaskan bahwa sebagai bagian dari masyarakat yang hidup dalam tradisi demokrasi dan penghormatan terhadap hak asasi manusia, mereka berhak mengetahui apa yang sesungguhnya terjadi, bagaimana keputusan diambil, dan bagaimana keadilan ditegakkan dalam tubuh Gereja.

x|close