China Makin Intensif Tangkap Pemimpin Gereja, Partai Komunis Perketat Tekanan

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 12 Jan 2026, 16:40
thumbnail-author
Dedi
Penulis & Editor
Bagikan
Bendera China Bendera China (Istimewa)

Ntvnews.id, Jakarta - Tekanan pemerintah China terhadap gereja-gereja Kristen independen kembali meningkat. Dalam beberapa pekan terakhir, aparat melakukan penangkapan pemimpin gereja serta pembongkaran rumah ibadah, yang dinilai kelompok Kristen sebagai bukti menguatnya upaya Partai Komunis China menertibkan praktik keagamaan di luar kendali negara.

Di Chengdu, China tengah, Gereja Hujan Awal (Early Rain Covenant Church/ERCC) melaporkan sembilan pemimpin dan anggotanya ditangkap pada Selasa (06/01) setelah polisi menggeledah rumah serta kantor gereja.

Lima orang dibebaskan sehari kemudian, sementara empat lainnya, termasuk pemimpin gereja Li Yingqiang dan istrinya Zhang Xinyue, masih ditahan. Pihak gereja menyebut penangkapan itu sebagai “operasi terkoordinasi”, dengan dasar hukum dan status para tahanan yang belum dijelaskan.

"Saya sangat berharap agar tidak ada lagi keluarga kita yang harus mengalami badai semacam itu. Namun sebagai penatua yang ditunjuk oleh Tuhan untuk berdiri di antara kalian, tugas saya adalah mengingatkan kalian semua untuk bersiap-siap sebelum badai itu kembali,” ujar Li Yingqing.

Baca Juga: Wakil Katib PWNU DKI Diperiksa KPK Dalam Kasus Kuota Haji

Sementara itu, di Wenzhou, wilayah yang dikenal sebagai “Yerusalem China” aparat merobohkan sebagian bangunan Gereja Yayang. ChinaAid melaporkan ratusan polisi bersenjata dikerahkan untuk mengamankan lokasi.

Sementara itu, warga sekitar diminta pergi dan dilarang merekam aktivitas pembongkaran. Bob Fu, pendiri ChinaAid, menilai tindakan tersebut menunjukkan sikap tegas pemerintah pusat.

"Mobilisasi besar-besaran terhadap dua jaringan gereja independen utama menunjukkan, pemerintah pusat bertekad memberantas gereja-gereja Kristen sepenuhnya, kecuali gereja tersebut sepenuhnya diindoktrinasi ke dalam ideologi partai," ujarnya.

Tekanan terhadap gereja independen bukanlah hal baru. Pada Desember lalu, sekitar 100 anggota Gereja Yayang ditangkap dalam lima hari, dengan setidaknya 24 orang masih ditahan. Pada Oktober 2025, sekitar 30 pemimpin Gereja Zion ditangkap di tujuh kota, sementara pendirinya, Ezra Jin, hingga kini belum dibebaskan.

Baca Juga: Prabowo Bakal Kunjungi IKN Pertama Kali

Gereja Hujan Awal sendiri telah lama menjadi sasaran. Pada 2018, aparat menangkap pendeta Wang Yi dan istrinya, disusul penahanan sedikitnya 100 anggota gereja. Wang dijatuhi hukuman penjara atas tuduhan “menghasut tindakan makar pada kekuasaan negara” dan “operasi bisnis ilegal”, dengan jadwal bebas pada 2027.

"Pemerintah Xi Jinping telah memperketat kontrol ideologis, dan meningkatkan ketidaktoleransinya terhadap loyalitas di luar Partai Komunis China," ujar peneliti Human Rights Watch, Yalkun Uluyol.

"Pemerintah dan pemimpin agama di seluruh dunia yang peduli, harus mendesak pemerintah China membebaskan pemeluk agama yang ditahan, dan menghormati kebebasan beragama di China,” tambahnya.

Di bawah kepemimpinan Xi Jinping, China memperketat kebijakan agama melalui konsep “Sinofikasi agama”. Tahun lalu, pemerintah juga melarang pendeta dari semua agama berkhotbah langsung di media sosial, mengadakan kegiatan daring untuk anak-anak, serta menggalang dana di luar platform yang disetujui negara.

x|close