Ntvnews.id, Tel Aviv - Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan sikapnya yang tidak akan mengakui Palestina, meskipun ia telah memastikan bergabung dengan Board of Peace atau Dewan Perdamaian.
Dalam keterangan persnya, Netanyahu menyampaikan bahwa agenda berikutnya adalah melucuti senjata Hamas sebelum proses pembangunan kembali Gaza dapat dilakukan.
Rencana Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk wilayah Gaza mensyaratkan pelucutan senjata kelompok tersebut. Namun, di Israel berkembang keraguan luas bahwa Hamas bersedia meletakkan senjatanya.
Penarikan lanjutan pasukan Israel dari Gaza, lanjut Netanyahu, bergantung pada keberhasilan pelucutan senjata Hamas dan demiliterisasi wilayah tersebut sesuai rencana yang telah ditetapkan. Ia menegaskan bahwa kepentingan politik dan keamanan Israel harus terpenuhi, serta menekankan bahwa rekonstruksi Gaza hanya bisa dilakukan setelah proses demiliterisasi selesai.
“Seperti yang saya sepakati dengan Presiden Trump hanya ada dua kemungkinan: ini akan dilakukan dengan cara mudah, atau akan dilakukan dengan cara sulit, tetapi dalam hal apa pun, itu akan terjadi,” kata Netanyahu mengenai pelucutan senjata, seperti dikutip dari Times of Israel, Jumat, 30 Januari 2026.
Baca Juga: MUI Minta Indonesia Keluar dari Board of Peace Bentukan Trump Gegara Tak Berpihak ke Palestina
“Saya sudah mendengar pernyataan bahwa kita akan mengizinkan rekonstruksi Gaza sebelum demiliterisasi. Itu tidak akan terjadi,” tegas Netanyahu.
Ia juga menjelaskan bahwa pembukaan Penyeberangan Rafah disepakati Israel dalam rencana Gaza 20 poin yang diusulkan Trump. Namun, hal tersebut bergantung pada pemenuhan kewajiban Hamas pada fase pertama rencana tersebut, yang menurutnya kini telah tercapai dengan kembalinya Gvili. Netanyahu menegaskan bahwa Israel akan tetap memegang kendali keamanan secara menyeluruh di kawasan Rafah.
“Negara Palestina di Gaza tidak akan terjadi,” tegas Netanyahu, seraya menyatakan bahwa dirinya telah “berulang kali” menggagalkan upaya pembentukan negara tersebut.
Benjamin Netanyahu (The Arab News)
Netanyahu menambahkan bahwa Penyeberangan Perbatasan Rafah antara Gaza dan Mesir “akan dibuka di kedua arah” ketika kembali beroperasi dalam waktu dekat. Ia mengaku tidak mengetahui secara pasti jumlah orang yang akan diizinkan masuk ke Gaza setiap hari, namun memperkirakan sekitar “50 orang ditambah anggota keluarga yang datang.”
“Kami tidak akan mencegah siapa pun untuk pergi,” tambahnya.
Meski demikian, Netanyahu menekankan bahwa tidak akan ada akses terbuka bagi arus barang. Ia menyebutkan bahwa keluar-masuk orang tetap diperbolehkan, tetapi seluruhnya akan melalui pemeriksaan ketat oleh Israel.
“Israel akan mempertahankan kendali keamanan atas seluruh wilayah dari Sungai Yordan hingga laut, dan itu berlaku untuk Jalur Gaza juga,” ujarnya.
Baca Juga: Indonesia Tegaskan Komitmen Perdamaian Palestina melalui Keikutsertaan dalam Board of Peace
Ia kembali menegaskan bahwa Qatar dan Turki tidak akan mengirimkan pasukan ke Gaza, meskipun kedua negara tersebut memperoleh kursi dalam badan yang bertugas mengawasi pemerintahan Gaza pascaperang.
“Saya mendengar bahwa kita akan membawa tentara Turki dan tentara Qatar ke Gaza. Itu juga tidak akan terjadi,” kata Netanyahu.
Board of Peace sendiri diresmikan oleh Presiden AS Donald Trump di sela-sela pertemuan World Economic Forum (WEF) di Davos, Swiss, pekan lalu. Setiap anggota dewan tersebut diwajibkan membayar iuran sebesar USD 1 miliar atau sekitar Rp17 triliun.
Arsip - Pemimpin Israel Benjamin Netanyahu. (Xinhua) (Antara)