Ntvnews.id, Jakarta - Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) menegaskan bahwa keberhasilan investasi berkelanjutan di pasar negara berkembang sangat ditentukan oleh integrasi pembiayaan inklusif dan prinsip kehati-hatian korporasi. Penegasan tersebut disampaikan dalam diskusi di Paviliun Indonesia pada ajang World Economic Forum (WEF) 2026 di Davos, Swiss.
Group CEO PT Bank Rakyat Indonesia/BRI (Persero) Tbk Hery Gunardi dalam pernyataan yang diterima di Jakarta, Kamis, 22 Januari 2026, menyampaikan bahwa agenda keberlanjutan tidak cukup berhenti pada tataran kebijakan. Tantangan utamanya terletak pada kemampuan mengeksekusi pembiayaan agar benar-benar menjangkau sektor riil secara luas dan inklusif.
“Ketika kita berbicara tentang keberlanjutan di pasar negara berkembang, pertanyaannya bukan soal ambisi melainkan tentang eksekusi. Tantangannya adalah bagaimana modal dapat disalurkan secara aman, efisien, dan dalam skala besar ke sektor yang paling membutuhkan,” ujar Hery.
Dalam panel diskusi bertajuk Capital for Sustainability: Unlocking Sustainable Finance and Growth in Emerging Markets yang digelar di Indonesia Pavilion WEF, Swiss, Selasa, 20 Januari 2026, Hery menegaskan keterlibatan pelaku usaha mikro dan kecil menjadi elemen penting dalam mendorong transisi hijau sekaligus memperkuat pertumbuhan ekonomi yang inklusif.
Baca Juga: WEF Davos 2026, Rosan Ungkap Optimisme Investor terhadap Ekonomi Indonesia
Dengan jaringan lebih dari 7.500 kantor cabang dan basis nasabah mencapai 129 juta, BRI menempatkan prinsip keberlanjutan sebagai bagian dari praktik pembiayaan sehari-hari. “Namun, modal saja tidak cukup, kita membutuhkan kemampuan eksekusi. BRI berperan sebagai bank utama yang bermitra dengan pemerintah, lembaga pembiayaan untuk pembangunan, dan bank multilateral untuk menyalurkan berbagai pembiayaan kepada UKM,” ucap dia.
Sementara itu, Chief Financial Officer PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Novita Widya Anggraini menekankan pentingnya pengelolaan risiko dan kemitraan strategis dalam pembiayaan berkelanjutan. Menurutnya, proyek berkelanjutan memerlukan proses analisis yang lebih panjang dan mendalam untuk memastikan dampak finansial serta keberlanjutan jangka panjangnya.
“Hambatan utama dalam pembiayaan proyek adalah durasi analisis dampak finansial; sebagai bank, kami harus memastikan analisis berbasis risiko dilakukan secara menyeluruh jika bergerak sendiri. Maka dari itu, kemitraan menjadi sangat penting karena proyek berkelanjutan membutuhkan waktu ekstra untuk dievaluasi dampaknya,” kata Novita.
Baca Juga: Danantara Fokus Restrukturisasi BUMN dan Perkuat Infrastruktur Teknologi Himbara
Dengan total aset sekitar 150 miliar dolar AS, Bank Mandiri memandang pendekatan kolaboratif sebagai prasyarat agar pembiayaan proyek berkelanjutan tetap berjalan secara prudent dan sejalan dengan karakteristik investasi berdampak jangka panjang.
Dari perspektif global, President and Chief Executive Officer TCW Katie Koch menilai negara berkembang, termasuk Indonesia, memiliki posisi strategis dalam pergeseran arus modal internasional. Indonesia dinilai berpeluang besar memimpin pengembangan energi terbarukan, mulai dari tenaga surya, air, panas bumi, hingga bioenergi, sebagai penopang pertumbuhan industri digital dan teknologi masa depan.
Dalam pernyataan resmi yang diterima, Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menyatakan bahwa diskusi panel tersebut menegaskan pentingnya keterpaduan antara pembiayaan inklusif, kehati-hatian perbankan, dan kepercayaan investor sebagai satu ekosistem yang saling terhubung dalam mendorong investasi berkelanjutan.
(Sumber: Antara)
Ketika kita berbicara tentang keberlanjutan di pasar negara berkembang, pertanyaannya bukan soal ambisi melainkan tentang eksekusi.., Jakarta (ANTARA) - Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) menegaskan pentingnya integrasi pembiayaan inklusif dan kehati-hatian korporasi sebagai fondasi utama investasi berkelanjutan, yang disampaikan dalam diskusi paviliun Indonesia di World Economic Forum (WEF) 2026, Davos, Swiss. Group CEO PT Bank Rakyat Indonesia/BRI (Persero) Tbk Hery Gunardi dalam pernyataan diterima di Jakarta, Kamis menyampaikan, keberlanjutan di negara berkembang tidak hanya berhenti pada tataran kebijakan, melainkan pada kemampuan mengeksekusi pembiayaan hingga menyentuh sektor riil secara luas dan inklusif. “Ketika kita berbicara tentang keberlanjutan di pasar negara berkembang, pertanyaannya bukan soal ambisi melainkan tentang eksekusi. Tantangannya adalah bagaimana modal dapat disalurkan secara aman, efisien, dan dalam skala besar ke sektor yang paling membutuhkan,” ujar Hery. Dalam panel diskusi bertajuk Capital for Sustainability: Unlocking Sustainable Finance and Growth in Emerging Markets yang digelar di Indonesia Pavilion WEF, Swiss, Selasa (20/1), ia menegaskan, keterlibatan pelaku usaha mikro dan kecil menjadi kunci dalam mewujudkan transisi hijau dan pertumbuhan ekonomi inklusif. Baca juga: Diaspora Indonesia sambut Prabowo di Swiss lewat sapaan “horas” Dengan jaringan lebih dari 7.500 kantor cabang dan basis nasabah mencapai 129 juta, BRI menempatkan keberlanjutan sebagai bagian integral dari strategi pembiayaan sehari-hari. “Namun, modal saja tidak cukup, kita membutuhkan kemampuan eksekusi. BRI berperan sebagai bank utama yang bermitra dengan pemerintah, lembaga pembiayaan untuk pembangunan, dan bank multilateral untuk menyalurkan berbagai pembiayaan kepada UKM,” ucap dia. Sementara itu, Chief Financial Officer PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Novita Widya Anggraini menyoroti pentingnya pengelolaan risiko dan kemitraan strategis dalam pembiayaan berkelanjutan. “Hambatan utama dalam pembiayaan proyek adalah durasi analisis dampak finansial; sebagai bank, kami harus memastikan analisis berbasis risiko dilakukan secara menyeluruh jika bergerak sendiri. Maka dari itu, kemitraan menjadi sangat penting karena proyek berkelanjutan membutuhkan waktu ekstra untuk dievaluasi dampaknya,” kata Novita. Baca juga: BKPM beri insentif pajak, dorong peran swasta perkuat SDM RI di WEF Dengan total aset sekitar 150 miliar dolar AS, Bank Mandiri memandang pendekatan kolaboratif sebagai prasyarat untuk memastikan pembiayaan proyek berkelanjutan tetap berjalan secara prudent, sejalan dengan karakteristik proyek yang berdampak jangka panjang. Dari perspektif global, President and Chief Executive Officer TCW Katie Koch menilai negara berkembang, termasuk Indonesia, berada pada posisi strategis dalam pergeseran arus modal internasional. Indonesia dinilai memiliki potensi besar memimpin pengembangan energi terbarukan, mulai dari tenaga surya, air, panas bumi, hingga bioenergi, sebagai penopang pertumbuhan industri digital dan teknologi masa depan. Group CEO PT Bank Rakyat Indonesia/BRI (Persero) Tbk Hery Gunardi dalam panel diskusi bertajuk Capital for Sustainability: Unlocking Sustainable Finance and Growth in Emerging Markets yang digelar di Indonesia Pavilion, WEF Davos 2026, Swiss, Selasa, 20 Januari 2026. (ANTARA/HO-BKPM) (Antara)