Trump Kembali Bersikeras AS Harus Kuasai Greenland

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 20 Jan 2026, 07:25
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Arsip - Presiden AS Donald Trump berbicara kepada wartawan saat perjalanan ke Tokyo di pesawat Air Force One, Senin 27 Oktober 2025. ANTARA FOTO/REUTERS/Evelyn Hockstein/agr Arsip - Presiden AS Donald Trump berbicara kepada wartawan saat perjalanan ke Tokyo di pesawat Air Force One, Senin 27 Oktober 2025. ANTARA FOTO/REUTERS/Evelyn Hockstein/agr (Antara)

Ntvnews.id, Washington D.C - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali menegaskan keinginannya untuk mengambil alih Greenland, meskipun langkah tersebut menuai penolakan keras dari para sekutu Eropa.

Trump menyatakan bahwa “dunia tidak aman” apabila Amerika Serikat tidak menguasai Greenland, pulau strategis di kawasan Arktik yang saat ini berstatus wilayah otonomi Denmark.

Dilansir dari AFP, Selasa, 20 Januari 2026, pernyataan terbaru Trump itu, disampaikan melalui pesan kepada Perdana Menteri Norwegia Jonas Gahr Store, yang kemudian diungkap ke publik pada hari yang sama.

"Dunia tidak akan aman, kecuali kami memiliki kendali penuh dan total atas Greenland," tulis Trump dalam pesannya.

Baca Juga: WEF Davos Kembali Digelar, Isu Guncangan Global dan Agenda Trump Jadi Sorotan

Kantor Perdana Menteri Norwegia memastikan keaslian isi pesan tersebut melalui keterangan email kepada AFP.

Dalam pesannya, Trump juga menilai Denmark tidak memiliki kemampuan untuk melindungi Greenland dari potensi ancaman negara lain.

"Denmark tidak dapat melindungi wilayah itu dari Rusia atau China," kata Trump.

Ia bahkan mempertanyakan dasar klaim kepemilikan Denmark atas wilayah tersebut. "Mengapa mereka memiliki 'hak kepemilikan'? Tidak ada dokumen tertulis, hanya ada sebuah kapal yang mendarat di sana ratusan tahun lalu, tetapi kami juga pernah memiliki sejumlah kapal yang mendarat di sana," ujarnya.

Greenland, sebuah wilayah di Denmark yang memiliki otonomi tingkat tinggi. ANTARA/Anadolu/py <b>(Antara)</b> Greenland, sebuah wilayah di Denmark yang memiliki otonomi tingkat tinggi. ANTARA/Anadolu/py (Antara)

Trump, seperti dikutip laporan The Guardian, juga menyampaikan bahwa dirinya "telah berbuat lebih banyak, daripada siapa pun, untuk NATO sejak didirikan, dan sekarang NATO harus melakukan sesuatu untuk Amerika Serikat".

Sikap Trump ini sebelumnya telah mengguncang NATO dan Uni Eropa, terutama setelah ia menolak menutup kemungkinan penggunaan kekuatan militer untuk merebut pulau yang kaya sumber daya mineral dan memiliki posisi strategis tersebut.

Pemerintah Denmark dan otoritas Greenland sama-sama menegaskan bahwa pulau berselimut salju itu tidak untuk dijual dan tidak ingin menjadi bagian dari Amerika Serikat. Seiring meningkatnya ketegangan, sejumlah negara Eropa dilaporkan telah mengerahkan personel militer dalam jumlah terbatas ke Greenland.

Baca Juga: Raja Yordania Terima Diundang Trump Bergabung dalam Dewan Perdamaian Gaza

Menanggapi langkah tersebut, Trump pada Sabt, 17 Januari 2026, mengumumkan rencana penerapan tarif perdagangan sebesar 10 persen hingga 25 persen terhadap delapan negara Eropa, yakni Denmark, Norwegia, Swedia, Prancis, Jerman, Inggris, Belanda, dan Finlandia.

Trump menegaskan tarif itu "akan terus berlaku dan harus dibayarkan hingga tercapai kesepakatan untuk pembelian Greenland secara sepenuhnya dan total" oleh AS. Ancaman tarif tersebut pun dikecam negara-negara Eropa dan dinilai sebagai bentuk pemerasan.

Dalam pesan yang sama kepada Perdana Menteri Norwegia, Trump juga menyatakan bahwa dirinya "tidak lagi merasa berkewajiban untuk semata-mata berpikir tentang perdamaian" setelah gagal meraih Nobel Perdamaian. Ia menambahkan bahwa kini dirinya dapat "memikirkan apa yang baik dan tepat untuk Amerika Serikat".

x|close