Ntvnews.id, Moskow - Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan bahwa otoritas negaranya telah berhasil mengendalikan situasi menyusul gelombang protes yang terjadi di berbagai wilayah.
"Situasi terkendali," kata Araghchi dalam pertemuan dengan para duta besar asing yang disiarkan televisi Iran pada Senin, 12 Januari 2026.
Ia menegaskan bahwa sejumlah pembatasan masih akan diberlakukan selama potensi ancaman dari aksi protes belum sepenuhnya mereda.
"Sebagian pembatasan masih berlaku, dan akan terus diterapkan sampai kami yakin tidak ada lagi ancaman," kata Araghchi.
Di sisi lain, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei menyampaikan bahwa permasalahan akses internet diperkirakan segera teratasi seiring kondisi yang dinilai semakin kondusif.
Baca Juga: Gelombang Protes Iran Tewaskan 648 Demonstran serta 109 Aparat Keamanan
Ia menambahkan bahwa gangguan konektivitas internet turut berdampak pada layanan konsuler yang dijalankan oleh misi diplomatik asing di Iran.
Kementerian Informasi dan Teknologi Komunikasi Iran menyatakan pemerintah tengah melakukan berbagai upaya untuk memulihkan layanan internet. Pembatasan komunikasi tersebut diberlakukan oleh lembaga keamanan setelah kerusuhan yang terjadi dalam beberapa hari terakhir.
Menurut koresponden RIA Novosti, layanan internet di Teheran tidak dapat diakses selama lebih dari 70 jam hingga Minggu, 11 Januari 2026. Layanan seluler hanya beroperasi secara terbatas pada siang hari dan sepenuhnya dihentikan pada malam hari, sementara layanan pesan singkat juga mengalami penangguhan.
Baca Juga: Gedung Putih Tegaskan Trump Siap Gunakan Kekuatan Militer ke Iran
Iran dilaporkan menghadapi gelombang protes sejak akhir Desember 2025, dipicu oleh melemahnya nilai tukar rial. Para demonstran mempersoalkan volatilitas tajam kurs mata uang nasional serta dampaknya terhadap harga barang di tingkat grosir dan eceran.
Bank sentral Iran mencatat tingkat inflasi tahunan mencapai 38,9 persen. Nilai tukar dolar Amerika Serikat di pasar tidak resmi melonjak dari sekitar 50.000 rial sebelum Mei 2018, ketika Amerika Serikat menarik diri dari kesepakatan nuklir dengan Iran, menjadi sekitar 1,4 juta rial atau setara sekitar Rp23.792 per dolar AS.
(Sumber: Antara)
Ilustrasi - Aksi unjuk rasa di Iran. ANTARA/Anadolu/as. (Antara)