Demo Iran Makin Chaos hingga Internet Diputus Total, Tuduh AS dan Israel Terlibat

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 9 Jan 2026, 09:41
thumbnail-author
Dedi
Penulis & Editor
Bagikan
Demo Iran Demo Iran (Anadolu)

Ntvnews.id, Iran - Akses internet di hampir seluruh wilayah Iran dilaporkan terputus secara luas di tengah eskalasi demonstrasi nasional yang semakin memburuk. Pemadaman jaringan ini terjadi saat ketegangan antara massa aksi dan aparat keamanan terus meningkat akibat krisis ekonomi yang memicu kemarahan publik.

Kelompok pemantau jaringan internet global NetBlocks menyatakan pemutusan akses dilakukan secara masif seiring meluasnya unjuk rasa di berbagai kota. Dalam pernyataannya di media sosial pada Kamis, 8 Januari 2025, NetBlocks menyebut langkah tersebut sebagai bagian dari pengetatan sensor digital untuk membatasi komunikasi publik di tengah situasi genting.

Pemadaman internet nasional ini semakin menutup arus informasi dari dalam Iran dan memicu kekhawatiran internasional terhadap penanganan krisis sosial dan ekonomi yang tengah berlangsung.

Gelombang protes telah berlangsung sejak akhir Desember, dipicu lonjakan biaya hidup dan anjloknya nilai mata uang nasional. Demonstrasi tersebut berubah menjadi bentrokan yang memakan korban jiwa. Berdasarkan penghitungan kantor berita AFP dari laporan media lokal dan pernyataan resmi pemerintah, sedikitnya 21 orang dilaporkan tewas, termasuk anggota pasukan keamanan.

Dari Teheran, Al Jazeera melaporkan ribuan orang turun ke jalan pada Kamis malam, dengan aksi dimulai sekitar pukul 20.00 waktu setempat di sejumlah wilayah ibu kota.

Baca Juga: Google Hadirkan AI Gemini 3 Gratis di Gmail, Balas Email Jadi Lebih Mudah

Respons pemerintah Iran terhadap situasi ini menunjukkan perbedaan sikap di tingkat elite. Presiden Masoud Pezeshkian menyerukan agar aparat bertindak dengan “penahanan diri sepenuhnya” dalam menangani demonstrasi.

Sebaliknya, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei menyampaikan pernyataan keras. Awal pekan ini, ia mengatakan para perusuh harus “ditempatkan pada tempatnya”.

Nada serupa juga datang dari Ketua Mahkamah Agung Iran, Gholam-Hossein Mohseni-Ejei, yang menuding para demonstran bergerak sejalan dengan kepentingan Amerika Serikat dan Israel. Ia menegaskan tidak akan ada toleransi bagi pihak-pihak yang dianggap menciptakan instabilitas.

“Jika ada yang turun ke jalan untuk kerusuhan atau menciptakan ketidakamanan, atau mendukung mereka, maka tidak ada lagi alasan bagi mereka,” katanya.

“Masalah ini sudah menjadi sangat jelas dan transparan. Mereka kini beroperasi sejalan dengan musuh-musuh Republik Islam Iran,” ujarnya.

Situasi di Iran turut menjadi perhatian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyoroti meningkatnya risiko korban jiwa akibat eskalasi protes. Melalui juru bicaranya, Stephane Dujarric, ia menekankan pentingnya perlindungan terhadap hak kebebasan berekspresi, berserikat, dan berkumpul secara damai.

Baca Juga: Bahlil akan Wajibkan Penerapan Bioetanol dalam BBM Paling Lambat Tahun 2028

“Ia juga menyerukan kepada otoritas untuk menjunjung tinggi hak atas kebebasan berekspresi, berserikat, dan berkumpul secara damai. Semua individu harus diizinkan untuk berunjuk rasa secara damai dan menyampaikan keluhan mereka,” kata Dujarric.

Kelompok pembela hak asasi manusia juga kembali menyoroti tindakan aparat keamanan. Amnesty International melaporkan bahwa pasukan keamanan Iran memasuki Rumah Sakit Imam Khomeini di kota Ilam, Iran barat, dengan menembakkan gas air mata, merusak pintu, dan menyerang orang-orang di dalam fasilitas medis, termasuk tenaga kesehatan.

“Pasukan keamanan Iran harus segera menghentikan penggunaan kekerasan dan senjata api yang melanggar hukum terhadap para demonstran, mengakhiri penangkapan sewenang-wenang terhadap mereka yang mencari perawatan di rumah sakit, memastikan mereka yang terluka menerima perawatan medis yang mereka butuhkan, dan menghormati kesucian fasilitas medis,” kata Amnesty International.

x|close