Prabowo Minta Groundbreaking 18 Proyek Hilirisasi Rampung Paling Lambat Maret 2026

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 7 Jan 2026, 07:35
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi (NTVnews)

Ntvnews.id, Bogor - Presiden Prabowo Subianto menginstruksikan agar pelaksanaan peletakan batu pertama atau groundbreaking terhadap 18 proyek hilirisasi yang tengah dikaji oleh Danantara dapat dilakukan paling lambat pada Maret 2026.

Arahan tersebut disampaikan Presiden Prabowo dalam retret Kabinet Merah Putih yang berlangsung di Padepokan Garuda Yaksa, Hambalang, Bogor, Jawa Barat, Selasa, 6 Januari 2026.

“Dari enam proyek yang telah diputuskan untuk melakukan groundbreaking pada Januari, Presiden meminta agar sisa proyek lainnya dipercepat sehingga pada Februari atau paling lambat Maret, seluruh 18 proyek dapat dilaksanakan,” ujar Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi.

Prasetyo mengungkapkan, salah satu dari 18 proyek yang akan dibangun adalah proyek waste-to-energy atau pengolahan sampah menjadi energi listrik (PSEL).

Baca Juga: Prabowo Tegaskan Pemerintahannya Berjalan di Jalur Benar dan Diridai Tuhan

Ia menjelaskan, proyek tersebut akan dikembangkan di 34 titik yang tersebar di 34 kabupaten/kota, terutama di wilayah dengan volume timbunan sampah harian yang rata-rata telah mencapai 1.000 ton per hari.

Pembangunan fasilitas PSEL tersebut diharapkan dapat mengurangi beban lingkungan sekaligus menekan risiko kesehatan akibat penumpukan sampah.

“Waste-to-energy akan dibangun di 34 kabupaten/kota atau di 34 titik yang hari ini sampahnya sudah mencapai 1.000 ton lebih per hari. Ini memerlukan penanganan sesegera mungkin untuk diolah sehingga sampah-sampah tersebut tidak menggunung dan menimbulkan banyak masalah,” ujar Prasetyo.

Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi <b>(NTVnews)</b> Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi (NTVnews)

Sebelumnya, pemerintah menyampaikan bahwa 18 proyek hilirisasi tersebut telah melewati tahap prastudi kelayakan dan diperkirakan memiliki nilai investasi hingga Rp600 triliun. Realisasi investasi seluruh proyek itu akan dikoordinasikan langsung oleh Danantara Indonesia.

Adapun PSEL merupakan proses pengolahan sampah yang tidak dapat didaur ulang melalui teknologi tertentu untuk menghasilkan energi, seperti panas, listrik, maupun bahan bakar alternatif. Teknologi ini diharapkan mampu mendukung kemandirian energi nasional, mengurangi volume sampah terbuka, serta menekan ketergantungan pada energi konvensional seperti batu bara.

Selain proyek waste-to-energy, Prasetyo juga menyampaikan bahwa pemerintah akan segera melakukan groundbreaking proyek gasifikasi batu bara menjadi Dimethyl Ether (DME).

DME merupakan bagian dari program hilirisasi batu bara, di mana batu bara berkalori rendah diolah menjadi gas alternatif yang diharapkan dapat menurunkan ketergantungan Indonesia terhadap gas LPG.

Baca Juga: Mensesneg Ungkap Perkiraan Anggaran Bencana 2026, Satgas Segera Diputuskan Prabowo

“Kemudian, juga ada beberapa program yang berkenaan dengan energi, program-program di bidang pertanian juga,” ucap Prasetyo.

Lebih lanjut, ia menyampaikan Presiden Prabowo meminta agar seluruh program prioritas pemerintah, termasuk proyek-proyek hilirisasi, dapat dipercepat pelaksanaannya.

Presiden juga menekankan pentingnya penguatan koordinasi lintas kementerian dan lembaga guna memastikan keberhasilan berbagai program besar pada 2026.

“Orientasi kerja harus sepenuhnya untuk kepentingan bangsa dan negara serta masyarakat, dengan meninggalkan kepentingan pribadi dan ego sektoral. Apabila terjadi permasalahan, seluruh pihak diminta segera mencari titik temu agar program dapat berjalan dengan baik,” tutur Prasetyo.

Ia menambahkan, apabila muncul kendala dalam pelaksanaan program, seluruh pihak diminta segera mencari solusi bersama agar program tetap berjalan sesuai target.

Selain itu, Presiden Prabowo juga menegaskan agar seluruh jajaran pemerintahan bekerja secara cepat, cerdas, tidak normatif, serta mampu berpikir “out of the box” demi menghadirkan terobosan yang mempercepat pencapaian program-program nasional.

HIGHLIGHT

x|close