Pesawat Kiamat AS Mengudara, Ketegangan AS–Rusia Kian Memanas

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 9 Jan 2026, 07:15
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Ilustrasi - Pesawat jet tempur. ANTARA/Anadolu Ilustrasi - Pesawat jet tempur. ANTARA/Anadolu (Antara)

Ntvnews.id, Washington D.C - Pesawat komando darurat milik Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, yang dikenal sebagai pesawat kiamat, dilaporkan terbang dari markasnya menuju Washington D.C.

Pergerakan pesawat ini terjadi di tengah aksi pasukan AS yang menyita sebuah kapal tanker minyak Rusia, situasi yang memicu kekhawatiran akan meningkatnya eskalasi konflik hingga berujung Perang Dunia III.

Pesawat tersebut adalah Boeing E-4B Nightwatch, yang berfungsi sebagai pusat komando terbang bagi para pejabat tinggi negara dalam kondisi krisis. Pesawat ini dirancang mampu bertahan dari serangan nuklir sekaligus mengoordinasikan operasi militer Amerika Serikat.

Berdasarkan data pelacakan Flightradar24, E-4B lepas landas dari Omaha, Nebraska, pada pukul 16.50 waktu setempat dan menempuh penerbangan hampir tiga jam menuju Camp Springs, dekat Washington D.C. Meski penerbangan itu bisa saja merupakan bagian dari rutinitas atau latihan, keberangkatannya juga dapat mengindikasikan peningkatan kesiapsiagaan menghadapi situasi darurat nasional. Hingga kini, belum ada konfirmasi resmi dari pihak berwenang mengenai alasan penerbangan tersebut.

Pesawat khusus ini bermarkas utama di Offutt Air Force Base, namun secara berkala juga dikerahkan ke sejumlah lokasi lain seperti Kelly Field di Texas untuk perawatan serta Pangkalan Angkatan Luar Angkasa Peterson di Colorado.

Baca Juga: Trump: 152 Pesawat Dikirim saat Operasi Penangkapan Maduro

Pada hari yang sama, pasukan khusus AS menyita kapal tanker minyak Rusia bernama Marinera, yang diduga memiliki keterkaitan dengan Venezuela. Insiden ini memicu desakan dari Moskow agar Rusia memberikan respons keras, termasuk seruan untuk menenggelamkan kapal-kapal milik Washington. Seruan tersebut disampaikan oleh Aleksey Zhuravlyov, wakil ketua pertama komite pertahanan Duma Negara Rusia, yang bahkan menyinggung kemungkinan penggunaan senjata nuklir sesuai doktrin militer Rusia.

Zhuravlyov menyamakan penyitaan kapal Marinera—yang sebelumnya bernama Bella 1—sebagai serangan terhadap wilayah Rusia karena kapal tersebut mengibarkan bendera Rusia.

"Kita perlu memberikan respons militer: serang dengan torpedo atau tenggelamkan beberapa kapal Amerika," ujarnya.

"Ini tidak lebih dari pembajakan: penyitaan kapal sipil oleh Angkatan Laut AS yang bersenjata," katanya.

"Pada dasarnya sama dengan serangan terhadap wilayah Rusia, karena kapal tanker tersebut mengibarkan bendera nasional kita," lanjutnya.

"Tidak diragukan lagi bahwa kita harus merespons dengan tegas dan cepat—doktrin militer kita bahkan membayangkan penggunaan senjata nuklir sebagai respons terhadap serangan semacam itu," imbuh Zhuravlyov.

Ilustrasi. Bendera Amerika Serikat Ilustrasi. Bendera Amerika Serikat

"Terutama karena, menurut informasi yang tersedia, sebuah kapal selam Rusia dan beberapa kapal militer Rusia lainnya berada di suatu tempat di dekat kapal tersebut."

Kementerian Transportasi Rusia turut mengecam langkah AS, yang dalam operasi penyitaan kapal itu didukung oleh Inggris.

"Tidak ada negara yang berhak menggunakan kekerasan terhadap kapal yang terdaftar dengan benar di yurisdiksi negara lain," tegas kementerian tersebut. Rusia memperingatkan bahwa serangan terhadap kapal-kapal AS berpotensi menyeret seluruh aliansi militer Barat ke konflik global, mengingat Pasal 5 NATO menyatakan serangan terhadap satu anggota dianggap sebagai serangan terhadap seluruh aliansi.

Kapal Marinera sendiri telah berada dalam pengawasan sejak bulan lalu, ketika Penjaga Pantai AS mencoba menaikinya di kawasan Karibia berdasarkan surat perintah terkait dugaan pelanggaran sanksi AS dan klaim pengangkutan minyak Iran.

Baca Juga: AS Kerahkan 150 Pesawat dari 20 Pangkalan untuk Operasi Penangkapan Maduro

Upaya tersebut sempat gagal setelah kapal mengubah arah, mengganti nama, serta mengalihkan bendera dari Guyana ke Rusia. Pergerakannya menuju Eropa akhirnya dihentikan setelah AS mengerahkan sekitar 10 pesawat angkut dan helikopter sebelum kapal itu berhasil dikuasai.

Kementerian Pertahanan Inggris mengonfirmasi keterlibatan pasukannya dalam operasi tersebut.

"Inggris telah memberikan dukungan kepada Amerika Serikat atas permintaan mereka untuk mencegat kapal Bella 1 hari ini," ujar kementerian itu.

"Angkatan Bersenjata Inggris memberikan dukungan operasional yang telah direncanakan sebelumnya, termasuk pangkalan, kepada aset militer AS yang mencegat Bella 1 di celah Inggris-Islandia-Greenland setelah permintaan bantuan dari AS," jelasnya.

"RFA Tideforce memberikan dukungan untuk pasukan AS yang mengejar dan mencegat Bella 1, sementara RAF memberikan dukungan pengawasan dari udara."

"Hubungan pertahanan dan keamanan Inggris dan AS adalah yang terdalam di dunia dan Inggris memberikan dukungan yang memungkinkan sepenuhnya sesuai dengan hukum internasional," tambah kementerian tersebut.

x|close