Ntvnews.id, Jakarta - Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror (AT) Polri mengungkap sejumlah nama grup yang terhubung dengan jaringan true crime community (TCC) dan terindikasi menyebarkan paham ekstremisme serta ideologi kekerasan, khususnya yang menyasar kalangan anak dan remaja.
“Adapun beberapa nama grup yang terafiliasi dengan true crime community ini, ada puluhan grup,” kata Juru Bicara Densus 88 Kombes Pol. Mayndra Eka Wardhana di Gedung Bareskrim Polri, Jakarta, Rabu, 7 Januari 2026.
Mayndra merinci grup-grup tersebut antara lain TCC Community, True Crime Community, TCCland Under Akmal, Fuck TCC, TCC, WAG TCC Reborn, WAG TCC Universe, WAG Area TCC, Tanah Suci TCC, TCC Universe V2, TCC Community, TCC City Nueva Revolucion, [tccland], serta FTCI Film True Crime Indonesia.
Selain itu, terdapat pula grup Indonesia Headhunter, Meinchat, Group Kasih Sayang, Nuapf, Medenist Brigade, Legion Devision, FSP-NB (80 member), AZW Ragebait, Saranjana, Medenism Under Boris, Anarko Libertarian Maoist, Army of Legion, dan Have Sex With Your Gun.
Ia menyampaikan bahwa puluhan grup tersebut hingga kini masih aktif dan dinilai berbahaya karena berisi ajakan melakukan tindak kekerasan, termasuk terhadap anak-anak.
Baca Juga: Densus 88 Temukan 70 Anak Bergabung dalam Grup True Crime Community
Oleh karena itu, Mayndra mengimbau para orang tua untuk lebih waspada terhadap aktivitas digital anak-anak mereka, khususnya jika menemukan nama-nama grup tersebut di gawai melalui berbagai platform, termasuk media sosial.
“Bagi orang tua, apabila menemukan grup-grup ini di gawai anaknya, segera untuk diberikan bimbingan,” katanya.
Lebih lanjut, ia juga memaparkan sejumlah simbol yang kerap dikaitkan dengan paham ekstremisme dalam jaringan tersebut, di antaranya Black Sun, Ku Klux Klan, Nazi, Odal Rune, Aryan Nation, British People’s Party, dan Sturmabteilung.
Simbol lain yang turut diidentifikasi meliputi Iluminati, Anti-Christ, Pentagram, 3rd SS Divison, 2nd SS Divison, 1st SS Divison, Schutzstaffel Abzeichen, Iron Guard, Leben Rune, White Pride World Wide, Nazi Eagle, gestur White Power, serta gestur hormat Nazi.
Menurut Mayndra, simbol-simbol tersebut ditemukan dalam berbagai bentuk, mulai dari buku catatan, atribut pakaian, hingga aktivitas di komunitas digital.
Ia menambahkan, pengenalan terhadap simbol-simbol ini dapat menjadi sarana awal untuk membaca pola perilaku dan cara berpikir anak sebagai langkah pencegahan dini.
“Untuk anak-anak kita ini, mereka tidak menganut paham ini secara penuh atau total. Mereka hanya menjadikan ini sebagai inspirasi dan rumah kedua bagi mereka,” katanya.
(Sumber: Antara)
Juru Bicara Densus 88 AT Polri Kombes Pol. Mayndra Eka Wardhana (tengah) berbicara dalam konferensi pers di Gedung Bareskrim Polri, Jakarta, Rabu 7 Januari 2026. ANTARA/Nadia Putri Rahmani (Antara)