Prabowo Ingatkan Bahaya Ketergantungan Impor di Tengah Konflik Global

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 6 Jan 2026, 20:45
thumbnail-author
Naurah Faticha
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Tangkapan layar - Presiden Prabowo Subianto memberikan arahan dalam retret Kabinet Merah Putih atau taklimat awal tahun di Padepokan Garuda Yaksa, Hambalang, Bogor, Jawa Barat, Selasa 6 Januari 2026. ANTARA/HO-Youtube Sekretariat Presiden/aa. (Handou Tangkapan layar - Presiden Prabowo Subianto memberikan arahan dalam retret Kabinet Merah Putih atau taklimat awal tahun di Padepokan Garuda Yaksa, Hambalang, Bogor, Jawa Barat, Selasa 6 Januari 2026. ANTARA/HO-Youtube Sekretariat Presiden/aa. (Handou (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Presiden RI Prabowo Subianto mengingatkan publik akan risiko ketergantungan impor, terutama di tengah konflik global yang terus bergejolak. Hal itu disampaikan dalam Retret Jilid II di Hambalang, Bogor, Jawa Barat, Selasa, 6 Januari 2026.

Ia menekankan bahwa pasokan pangan domestik Indonesia dapat terancam jika terlalu bergantung pada impor dari negara-negara yang tengah mengalami ketegangan geopolitik.

"Sekarang, Thailand dan Kamboja perang terus. Setelah perang, negosiasi, gencatan senjata, damai, kemudian meletus lagi. Dalam keadaan seperti itu, bayangkan, amankah kita tergantung impor dari negara yang konflik?” kata Presiden Prabowo dalam Taklimat Awal Tahun.

Presiden menuturkan, pada tahun-tahun sebelumnya, Indonesia kerap mengimpor beras dari kedua negara tersebut untuk memenuhi kebutuhan domestik. Namun, konflik berkepanjangan antara Thailand dan Kamboja berpotensi mengganggu rantai pasok beras jika ketergantungan impor terus berlanjut.

Baca Juga: Prabowo Tegaskan Pemerintahannya Berjalan di Jalur Benar dan Diridai Tuhan

Selain itu, Presiden Prabowo juga menyinggung pengalaman pandemi COVID-19, ketika sejumlah negara pengekspor pangan menutup ekspor demi memenuhi kebutuhan domestik. Hal itu membuat banyak negara, termasuk Indonesia, kesulitan mengimpor pangan meski memiliki kemampuan finansial.

Oleh karena itu, Prabowo menegaskan bahwa target swasembada pangan yang dijalankan pemerintah saat ini sangat relevan untuk mengantisipasi ketidakpastian global. Swasembada pangan, kata Presiden, merupakan bagian dari strategi transformasi nasional yang terukur, berbasis kajian jangka panjang, dan bertujuan memperkuat kemandirian bangsa.

“Bangsa Indonesia harus mandiri. Bangsa Indonesia harus berdikari, dan di situ elemen utamanya adalah swasembada pangan. Tidak ada bangsa yang merdeka bilamana bangsa itu tidak bisa menjamin makan untuk rakyat,” ujar Presiden.

Baca Juga: Retret Kabinet Hambalang, Prabowo Apresiasi Kinerja Menteri dan Lembaga

Lebih lanjut, Prabowo menyebut Indonesia telah mampu mengurangi risiko tersebut dengan berhasil mencapai swasembada pangan pada tahun lalu, dibuktikan dengan jumlah cadangan beras pemerintah mencapai sekitar tiga juta ton per 31 Desember 2025.

“Dan saya juga cukup merasa besar hati, bangga, bahwa hari ini cadangan beras di gudang-gudang pemerintah Indonesia adalah yang tertinggi selama sejarah berdirinya Indonesia,” kata Presiden Prabowo.

(Sumber: Antara) 

HIGHLIGHT

x|close