Ntvnews.id, NTT - Kupang tengah menjadi sorotan nasional setelah sebuah video keluhan seorang ibu mendadak viral di TikTok dan memicu perdebatan luas soal transparansi hadiah atlet. Melalui akun @damasus96, ia mengungkapkan kekecewaannya terkait hadiah yang diterima putranya, seorang atlet karate peraih Juara 1 di ajang Pameran Pembangunan NTT BaGaYa Agustus 2025.
Dalam video yang cepat menyebar di berbagai platform itu, sang ibu menampilkan kontras mencolok antara hadiah yang diumumkan panitia dan uang yang akhirnya diterima putranya.
“Itu jumlah uang yang diserahkan kepada anak saya yang berupa gabus itu namanya apa saya tidak tahu itu 2.000.000 tapi tiga bulan dia menunggu uang itu dan malam hari ini. dia bawa pulang uangnya. jumlah uang teman-teman lihat sendiri 300 (ribu),” ujarnya.
Baca Juga: Wali Kota Sibolga Akhirnya Kembali Usai Hilang Kontak Saat Banjir Bandang
Pernyataan itu sontak memicu gelombang komentar publik tentang pengelolaan dana pembinaan atlet, terlebih karena bukti video saat penutupan BaGaYa memperlihatkan hadiah Juara 1 sebesar Rp2.000.000 yang ditampilkan secara simbolis di atas panggung.
Publik makin geram setelah mengetahui bahwa atlet tersebut baru menerima dananya pada 25 November 2025, sekitar tiga bulan setelah acara berakhir namun nominalnya hanya Rp300.000. Banyak warganet mempertanyakan alasan keterlambatan sekaligus perbedaan fantastis antara angka yang dipajang panitia dan jumlah akhir yang diterima atlet.
Komentar-komentar kritis pun membanjiri media sosial, menyoroti transparansi anggaran dan perlindungan terhadap atlet muda yang berprestasi.
Meningkatnya tekanan publik membuat Pemerintah Provinsi NTT memberikan penjelasan resmi. Klarifikasi tersebut disampaikan oleh Kepala Dinas Kominfo NTT, Frederik C. P. Koenunu, bersama Sekretaris Dispora NTT, Karel Muskanan, S.Sos., M.Si.
Baca Juga: Minta Maaf ke Menteri Sering Rapat Sabtu Minggu, Prabowo: Mungkin 2026 Engga Ada
Pemerintah menegaskan bahwa dana hadiah telah diproses sesuai tata kelola keuangan daerah melalui Dinas Kepemudaan dan Olahraga. Dana itu kemudian disalurkan kepada Forki NTT sebagai induk organisasi yang menaungi cabang olahraga karate.
Terkait selisih nominal hadiah, pemerintah menjelaskan bahwa Forki NTT menerapkan mekanisme internal berbasis “budaya kebersamaan.” Melalui kebijakan tersebut, sebagian hadiah atlet dialokasikan kembali untuk kebutuhan latihan, operasional organisasi, serta solidaritas antar-atlet.
Pihak pemerintah menyebut praktik seperti ini sudah berlangsung lama dan dianggap sebagai bagian dari sistem pembinaan atlet karate di NTT. Mereka juga menegaskan bahwa tidak ada unsur penyalahgunaan dana, hanya pembagian internal yang telah disepakati di lingkungan organisasi.
Meski penjelasan resmi telah diberikan, gelombang kritik publik belum mereda. Banyak warganet menyampaikan bahwa kebijakan internal tersebut dinilai tak selaras dengan esensi hadiah kejuaraan, yang semestinya menjadi hak penuh atlet berprestasi.
Sebagian besar komentar mempertanyakan validitas “budaya kebersamaan” ketika nominal yang diterima atlet hanya sekitar 15 persen dari jumlah yang diumumkan secara publik.
Viral Juara 1 Karate di NTT (Instagram)