Ntvnews.id, Jakarta - Kasus penyadapan tidak hanya terjadi di Indonesia. Sejumlah negara pernah diguncang skandal pengintaian komunikasi yang melibatkan pemimpin pemerintahan, pejabat negara, politikus, jurnalis, hingga aktivis.
Modusnya pun beragam, mulai dari pemasangan perangkat penyadap di kantor partai politik, pemantauan jaringan telepon, pembobolan pesan suara, hingga penggunaan spyware canggih untuk mengakses ponsel seseorang.
Beberapa kasus bahkan memicu krisis diplomatik, penyelidikan besar-besaran, hingga perubahan politik di negara yang bersangkutan.
Berikut enam kasus penyadapan paling menghebohkan di dunia.
Baca Juga: Bukan Cuma Prabowo, Ini Daftar Korban Kasus Penyadapan Eks Kapolri Listyo Sigit
1. Skandal Watergate yang Berujung Pengunduran Diri Presiden AS
Salah satu skandal politik paling terkenal dalam sejarah Amerika Serikat adalah Watergate yang terjadi pada 1972.
Kasus ini bermula pada 17 Juni 1972 ketika lima orang ditangkap setelah membobol kantor pusat Partai Demokrat di kompleks Watergate, Washington DC. Mereka diketahui membawa peralatan pengawasan elektronik yang diduga digunakan untuk menyadap komunikasi dan memperoleh informasi internal partai.
Penyelidikan FBI kemudian mengungkap keterkaitan para pelaku dengan tim kampanye pemilihan kembali Presiden Richard Nixon.
Kasus tersebut semakin membesar setelah terungkap adanya upaya dari pihak Gedung Putih untuk menutupi keterlibatan mereka. Rekaman percakapan internal Nixon di Gedung Putih kemudian menjadi bukti penting dalam penyelidikan.
Pada 24 Juli 1974, Mahkamah Agung AS memutuskan bahwa Nixon harus menyerahkan rekaman tersebut kepada penyidik. Rekaman itu mengungkap keterlibatan Nixon dalam upaya menutupi skandal Watergate.
Tekanan politik dan ancaman pemakzulan akhirnya membuat Nixon mengundurkan diri pada 9 Agustus 1974.
Skandal Watergate kemudian menjadi salah satu contoh paling terkenal tentang penyalahgunaan kekuasaan dan praktik pengawasan terhadap lawan politik.
Baca Juga: 6 Fakta Kasus Dugaan Penyadapan Presiden Prabowo, Listyo Sigit hingga Ahrie Sonta Jadi Tersangka
2. Penyadapan Angela Merkel oleh Intelijen AS
Hubungan Amerika Serikat dan Jerman pernah memanas setelah muncul pengungkapan bahwa Badan Keamanan Nasional AS (NSA) diduga memantau komunikasi telepon Kanselir Jerman Angela Merkel.
Kasus tersebut mencuat pada Oktober 2013 setelah mantan kontraktor intelijen AS, Edward Snowden, membocorkan sejumlah dokumen rahasia NSA kepada media.
Dokumen yang dipublikasikan mengindikasikan bahwa telepon seluler Merkel masuk dalam daftar target pemantauan intelijen AS.
Merkel kemudian menghubungi Presiden AS Barack Obama untuk menyampaikan keberatannya. Ia juga menegaskan bahwa penyadapan terhadap pemimpin negara sekutu merupakan tindakan yang tidak dapat diterima.
Pemerintah Jerman bahkan memanggil Duta Besar AS untuk meminta penjelasan mengenai dugaan aktivitas intelijen tersebut.
Pengungkapan Snowden juga menunjukkan bahwa NSA diduga memantau komunikasi 35 pemimpin dunia lainnya. Informasi tersebut memicu perdebatan internasional mengenai batas kewenangan badan intelijen dan privasi komunikasi pejabat negara.
3. Greek Watergate, Sekitar 100 Nomor Telepon Pejabat Yunani Disadap
Yunani pernah diguncang skandal penyadapan besar yang dikenal sebagai Greek Watergate pada 2005.
Kasus ini terungkap pada Februari 2006 setelah pemerintah mengumumkan bahwa sekitar 100 nomor telepon seluler milik pejabat tinggi negara telah disadap selama hampir satu tahun.
Salah satu targetnya adalah Perdana Menteri Yunani saat itu, Costas Karamanlis. Sejumlah menteri, pejabat militer, aparat keamanan, hingga istri perdana menteri juga masuk dalam daftar nomor yang dipantau.
Penyadapan tersebut diduga dilakukan dengan menyusupkan perangkat lunak ke jaringan telekomunikasi Vodafone Greece.
Perangkat tersebut memungkinkan panggilan telepon dari nomor-nomor target dialihkan ke sejumlah nomor lain yang digunakan untuk memantau komunikasi.
Pemerintah Yunani menyebut aktivitas penyadapan berlangsung sejak menjelang Olimpiade Athena 2004 hingga Maret 2005.
Meski penyelidikan dilakukan, pihak yang bertanggung jawab atas operasi tersebut tidak berhasil diidentifikasi secara tuntas.
4. Skandal Phone Hacking Media Inggris yang Menyasar Korban Pembunuhan
Skandal penyadapan juga pernah mengguncang industri media Inggris setelah terungkap bahwa tabloid News of the World melakukan pembobolan pesan suara atau voicemail milik sejumlah tokoh dan masyarakat.
Kasus tersebut mencuat besar pada 2011 setelah investigasi The Guardian mengungkap bahwa jurnalis News of the World diduga mengakses pesan suara milik Milly Dowler, remaja yang hilang dan kemudian ditemukan tewas.
Milly menjadi salah satu korban paling disorot karena pesan suara di teleponnya diakses ketika keluarga dan polisi masih berupaya mencari keberadaannya.
Investigasi selanjutnya menunjukkan bahwa praktik pembobolan pesan suara tidak hanya menyasar selebritas, tetapi juga politikus, anggota keluarga kerajaan, dan masyarakat biasa.
Skandal tersebut memicu kemarahan publik dan penyelidikan besar terhadap praktik jurnalistik serta hubungan antara media dan aparat penegak hukum.
News of the World akhirnya menerbitkan edisi terakhirnya pada Juli 2011 setelah beroperasi selama 168 tahun.
Peristiwa ini kemudian mendorong penyelidikan publik yang dikenal sebagai Leveson Inquiry untuk mengkaji budaya, praktik, dan etika industri pers Inggris.
5. Pegasus Project, Spyware yang Diduga Mengincar 14 Kepala Negara
Pada Juli 2021, dunia dikejutkan oleh investigasi internasional bernama Pegasus Project yang mengungkap dugaan penyalahgunaan spyware Pegasus buatan perusahaan Israel, NSO Group.
Investigasi yang melibatkan lebih dari 80 jurnalis dari 17 organisasi media di 10 negara tersebut menganalisis kebocoran daftar sekitar 50.000 nomor telepon yang diduga dipilih sebagai target potensial pengawasan oleh klien NSO Group.
Daftar tersebut mencakup nomor telepon milik 14 kepala negara, ratusan pejabat pemerintahan, politikus, aktivis, dan jurnalis.
Sejumlah pemimpin yang masuk dalam daftar tersebut antara lain Presiden Prancis Emmanuel Macron, Perdana Menteri Pakistan Imran Khan, serta Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa.
Pegasus merupakan spyware yang dapat memberikan akses luas terhadap perangkat ponsel yang berhasil disusupi. Teknologi ini berpotensi memungkinkan penggunanya mengakses pesan, foto, kontak, mikrofon, hingga kamera.
Namun, penting dicatat bahwa masuknya nomor telepon dalam daftar target potensial tidak otomatis membuktikan bahwa perangkat pemiliknya telah berhasil diretas.
Amnesty International melakukan pemeriksaan forensik terhadap sejumlah perangkat dan menemukan bukti infeksi Pegasus pada beberapa ponsel yang diperiksa.
NSO Group membantah sejumlah tuduhan penyalahgunaan produknya dan menyatakan teknologi tersebut ditujukan untuk membantu pemerintah melawan kejahatan serius dan terorisme.
6. Predatorgate, Skandal Penyadapan Politikus dan Jurnalis di Yunani
Yunani kembali menjadi sorotan dunia setelah muncul skandal pengawasan komunikasi yang dikenal sebagai Predatorgate pada 2022.
Kasus ini berkaitan dengan dugaan penggunaan spyware Predator untuk memantau komunikasi sejumlah politikus dan jurnalis.
Salah satu korban yang terungkap adalah jurnalis investigasi Thanasis Koukakis. Pemeriksaan terhadap ponselnya menemukan bukti infeksi spyware Predator.
Skandal tersebut semakin besar setelah terungkap bahwa Nikos Androulakis, pemimpin partai oposisi PASOK sekaligus anggota Parlemen Eropa, juga menjadi sasaran pemantauan oleh badan intelijen Yunani.
Androulakis mengungkap bahwa dirinya menjadi target upaya penyadapan dan peretasan ponsel. Pemerintah Yunani kemudian menghadapi tekanan politik yang besar.
Peristiwa tersebut mendorong pengunduran diri Kepala Badan Intelijen Nasional Yunani (EYP), Panagiotis Kontoleon, serta sekretaris jenderal kantor perdana menteri, Grigoris Dimitriadis.
Perdana Menteri Kyriakos Mitsotakis menyatakan pemantauan terhadap Androulakis dilakukan atas alasan keamanan nasional dan dinilai legal, tetapi secara politik tidak dapat diterima.
Penyelidikan terhadap skandal tersebut terus berlanjut. Mantan kepala intelijen Yunani juga membantah bahwa EYP menggunakan spyware Predator selama masa jabatannya.
Foto dokumentasi 9 Oktober 2023 ini memperlihatkan Gedung Putih di Washington, D.C., Amerika Serikat. ANTARA/Xinhua/Liu Jie (Antara)