NTVNews.id, Jakarta - Transformasi menuju kota hijau atau green city kian terbuka seiring berkembangnya industri kendaraan listrik di Indonesia. Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim menilai peralihan kendaraan berbahan bakar fosil ke kendaraan listrik menjadi peluang besar untuk menekan polusi udara sekaligus memperkuat industri manufaktur nasional.
Dedie menyampaikan hal tersebut saat dijumpai usai menghadiri peluncuran Forland di Nusantara Ballroom, NT Tower, Jakarta, Selasa, 3 November 2026.
Menurutnya, hampir seluruh kota di Indonesia memiliki cita-cita yang sama, yakni menciptakan lingkungan perkotaan yang lebih hijau, sehat, dan berkelanjutan. Salah satu langkah strategis untuk mewujudkannya adalah mempercepat penggunaan kendaraan listrik, baik untuk angkutan penumpang maupun logistik.
"Hari ini kita melihat ada sebuah kesempatan besar Indonesia membangun manufaktur di bidang apa namanya, kendaraan angkutan, terutama angkutan penumpang dan angkutan barang atau angkutan logistik dari pemakaian energi fosil menjadi energi baru terbarukan, menjadi electric vehicle," katanya.
Baca Juga: Forland Resmi Meluncur di Indonesia, Bawa 3 Model Kendaraan Niaga Listrik
Dedie menilai, meningkatnya kebutuhan terhadap kendaraan ramah lingkungan menjadi peluang strategis bagi produsen kendaraan niaga seperti Forland. Apalagi, pemerintah daerah kini semakin mendorong upaya pengurangan emisi dan pencemaran udara di kawasan perkotaan.
Ia berharap industri kendaraan listrik mampu menangkap momentum tersebut dengan menghadirkan produk yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan sektor transportasi.
"Nah, semua kota, rata-rata di Indonesia juga berkeinginan untuk menjadikan kota-kota itu jadi kota-kota yang hijau atau green city," ujarnya.
Dedie menambahkan, kebutuhan kendaraan listrik di Indonesia berpotensi terus meningkat seiring dengan semakin kuatnya komitmen untuk menurunkan emisi polusi udara. Menurutnya, kondisi tersebut dapat menjadi kesempatan bagi Forland untuk memperluas pemasaran kendaraan niaga, baik untuk mengangkut penumpang maupun barang.
"Nah, apabila kemudian manufaktur ini bisa mengambil kesempatan di saat yang tentu kebutuhannya sangat besar dan ke depan keinginan kita untuk menurunkan emisi polusi udara semakin terbuka, maka ini bisa diambil oleh Forland sebagai salah satu produsen kendaraan niaga, baik untuk penumpang maupun barang, untuk segera apa, memasarkan produk-produknya sesuai dengan timing-nya," ungkapnya.
Selain kebutuhan terhadap transportasi ramah lingkungan, Dedie juga menyoroti dinamika geopolitik di kawasan Timur Tengah yang berpotensi memengaruhi pasokan dan impor bahan bakar minyak (BBM).
Baca Juga: Kenalan dengan Forland, Merek Kendaraan Niaga Listrik yang Resmi Hadir di Indonesia
Situasi tersebut, menurutnya, semakin memperkuat urgensi pengembangan kendaraan listrik sebagai alternatif transportasi yang tidak bergantung sepenuhnya pada bahan bakar fosil.
"Ini timing-nya pas, kita sedang dinamika politik ya di regional di apa namanya di kawasan, terutama di kawasan Timur Tengah yang mengakibatkan sulitnya apa, impor bahan bakar minyak dengan electric vehicle ini ada kesempatan kita untuk bisa terlibat," ujarnya.
Dedie menilai, pengembangan kendaraan listrik bukan hanya berkaitan dengan upaya menekan polusi udara, melainkan juga menjadi langkah penting untuk memperkuat ketahanan energi nasional.
Lebih lanjut, Dedie berharap Forland dapat mengambil peran lebih besar dalam pengembangan industri kendaraan listrik di Tanah Air. Ia mendorong perusahaan tersebut untuk menjalin kemitraan dengan pelaku industri lokal serta membangun fasilitas manufaktur di Indonesia.
Langkah tersebut dinilai dapat memberikan manfaat ekonomi yang lebih luas, mulai dari membuka lapangan kerja, meningkatkan penyerapan tenaga kerja lokal, hingga mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya alam dalam negeri.
Dedie juga menyoroti potensi nikel Indonesia yang melimpah sebagai salah satu modal penting dalam pengembangan ekosistem kendaraan listrik.
"Kita bisa sampaikan bahwa ini kesempatan yang besar kalau memang bisa menggandeng mitra lokal, membangun manufaktur di Indonesia, menyerap tenaga kerja sekaligus tadi, memanfaatkan mungkin bahan bakunya, karena kan nikel juga di Indonesia sangat banyak ya kandungannya dan ini bisa dijadikan sebagai modalitas membangun electric vehicle manufaktur di Indonesia, gitu ya," tutupnya.
Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim (NTVNews.id)