Ntvnews.id, Jakarta - Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga)/Kepala BKKBN Wihaji mengajak para remaja untuk lebih terbuka ketika menghadapi persoalan kesehatan mental. Ia meminta mereka tidak merasa takut atau malu untuk bercerita dan mencari dukungan dari teman sebaya.
Ajakan tersebut disampaikan Wihaji dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Mental Sedunia di Jakarta, Jumat, 30 Oktober 2026. Menurut dia, pemerintah telah menyediakan wadah bagi remaja untuk saling berbagi cerita melalui program Generasi Berencana (Genre) dan Pusat Informasi Konseling Remaja (PIK-R).
Kedua program tersebut telah tersedia di berbagai sekolah dan lembaga pendidikan. Wihaji meminta para anggota Genre dan PIK-R aktif menyosialisasikan pentingnya keterbukaan dalam menghadapi masalah.
"Ini kita minta teman-teman (Genre dan PIK-R) untuk terus mengampanyekan bahwa teman-teman yang remaja jangan takut bercerita, jangan malu bercerita, jangan disimpan karena justru kalau malu, kemudian takut, kemudian yang sekarang lagi banyak terjadi bullying (perundungan), oleh karena itu, saya minta ini betul-betul diperhatikan," katanya.
Baca Juga: Mendukbangga: Komunikasi Keluarga Jadi Kunci Atasi Masalah Kesehatan Mental
Wihaji turut memaparkan hasil survei Indonesia–National Adolescent Mental Health Survey (I-NAHMS). Berdasarkan data tersebut, sebanyak 34,9 persen remaja mengalami gangguan kesehatan mental. Sementara itu, satu dari 20 remaja atau sekitar 2,45 juta orang memenuhi kriteria diagnostik gangguan mental dalam setahun terakhir.
Ia juga menyoroti temuan bahwa 57 persen remaja merasa takut atau malu untuk menyampaikan persoalan kesehatan mental yang mereka alami. Karena itu, pemerintah berupaya meningkatkan pemahaman mengenai kesehatan mental sejak dini sekaligus memperluas akses pendampingan bagi remaja.
"Sebanyak 57 persen remaja mengaku takut atau malu untuk mengungkapkan masalah kesehatan mental, oleh karena itu, mengapa ini perlu kita adakan kegiatan ini? Karena kita ingin mengingatkan sejak dini tentang pentingnya kesehatan mental dan pemerintah memastikan ada akses. Kita juga sudah kerja sama dengan kementerian terkait untuk terus menghidupkan PIK-R dan Genre di semua sekolah," ujar dia.
Wihaji menjelaskan bahwa kegiatan tersebut juga menjadi sarana pembelajaran bagi remaja agar dapat saling mendengarkan, berbagi pengalaman, dan memberikan edukasi kepada teman sebaya. Dengan begitu, kesadaran mengenai kesehatan mental di kalangan remaja diharapkan semakin meningkat.
Baca Juga: DPR Mau Kesehatan Mental Masuk Kurikulum Nasional
Ia mengungkapkan bahwa dalam kegiatan tersebut sejumlah peserta bersedia menceritakan pengalaman pribadi, termasuk pengalaman pernah melakukan perundungan maupun menjadi korban perundungan.
"Harapannya mereka juga mengampanyekan teman-teman sebayanya kalau ada masalah, sehingga tidak disimpan, dan justru karena simpanan masalah inilah yang bagian dari potensi gangguan kesehatan mental. Kita tadi juga sudah mendengarkan curhatan mereka, ada yang pernah mem-bully, ada yang pernah di-bully, kemudian ada yang pernah sakit hati, ada yang pernah terluka, dan mereka alhamdulillah mau membuka diri," katanya.
Selain mengembangkan ruang konseling antarteman di lingkungan sekolah, pemerintah juga berupaya memastikan remaja dapat menjangkau tenaga profesional untuk mendapatkan pendampingan kesehatan mental.
Untuk mendukung upaya tersebut, pemerintah menghadirkan psikolog dan dokter ahli dalam kegiatan terkait agar para remaja memiliki akses terhadap bantuan yang dibutuhkan.
"Sehingga kita juga datangkan psikolog, kemudian ada dokter ahli juga, yang ini bagian dari pemerintah hadir memberikan akses kepada remaja-remaja Indonesia," katanya.
(Sumber: Antara)
Mendukbangga/Kepala BKKBN Wihaji (tiga dari kanan) dalam peringatan Hari Kesehatan Mental Sedunia di Jakarta, Jumat, 30 Oktober 2026. (Antara)