Ribuan Warga Albania Turun ke Jalan, Protes Biaya Hidup dan Desak PM Mundur

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 26 Okt 2026, 08:00
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Protes Anti-Pemerintah di Albania Berujung Bentrokan, Molotov Buat Gedung Pemerintah Membara Protes Anti-Pemerintah di Albania Berujung Bentrokan, Molotov Buat Gedung Pemerintah Membara (Istimewa)

Ntvnews.id, Tirana - Ribuan warga Albania menggelar demonstrasi di ibu kota Tirana pada Sabtu, 24 Oktober 2026, untuk memprotes kenaikan biaya hidup dan dugaan korupsi. Aksi tersebut berujung bentrokan antara demonstran dan aparat kepolisian.

Polisi menggunakan gas air mata, meriam air, hingga peluru karet untuk membubarkan massa. Pemerintah Albania menyatakan sejumlah gedung pemerintahan menjadi sasaran serangan. Puluhan demonstran juga ditangkap, sementara lebih dari 300 orang dari kalangan pengunjuk rasa dan polisi dilaporkan mengalami luka-luka.

Dilansir dari Al Jazeera, Senin, 26 Oktober 2026, bentrokan antara massa dan aparat telah beberapa kali terjadi sejak gelombang demonstrasi besar dimulai pada pertengahan Oktober. Aksi protes tersebut dipicu oleh buruknya kondisi sekolah serta meningkatnya biaya hidup di negara kawasan Balkan itu.

Setelah sempat mereda dalam beberapa hari terakhir, demonstrasi kembali memanas pada Sabtu, 24 Oktober 2026 Ribuan orang turun ke jalan menyusul ajakan penyelenggara kepada mahasiswa dan masyarakat dari berbagai daerah untuk berpartisipasi dalam aksi tersebut.

Dukungan juga datang dari berbagai kalangan, mulai dari profesor universitas, seniman, hingga partai oposisi yang menyatakan akan ikut serta dalam demonstrasi.

Baca Juga: Demo Prancis Menjalar ke Italia, Albania, dan Belgia, Bentrokan Pecah

Kementerian Pendidikan Albania menjadi salah satu lokasi utama aksi protes. Sejumlah demonstran dilaporkan melemparkan batu dan mendorong tempat sampah yang terbakar ke arah gedung kementerian.

Untuk mengantisipasi situasi yang semakin memanas, kepolisian memperketat pengamanan di sejumlah titik di Tirana. Media lokal juga melaporkan bahwa petugas melakukan pemeriksaan terhadap kendaraan yang hendak memasuki ibu kota.

Gelombang demonstrasi antipemerintah di Albania sebenarnya telah berlangsung secara berkala sejak Mei. Aksi tersebut bermula setelah muncul informasi mengenai rencana pembangunan hotel mewah yang dikaitkan dengan keluarga Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Proyek itu disebut memiliki keterkaitan dengan Jared Kushner, menantu Trump. Seiring waktu, ketidakpuasan masyarakat meluas menjadi gerakan yang menentang korupsi dan mahalnya biaya hidup.

Dalam aksi terbaru, massa menuntut Perdana Menteri Albania Edi Rama dari Partai Sosialis mengundurkan diri. Mereka menilai elite politik bertanggung jawab atas berbagai persoalan yang tengah dihadapi negara tersebut.

"Kami di sini untuk melawan kediktatoran yang ada di Albania. Namun sebagian besar dari kami menderita akibat tahun-tahun sebelumnya," ujar salah satu pengunjuk rasa, Orgeta Likaj, seperti diberitakan The New York Times, Minggu, 25 Oktober 2026.

"Kami ingin memberitahu [Perdana Menteri Albania Edi] Rama bahwa rakyat Albania sudah tidak menginginkannya lagi," sambungnya.

Rama Salahkan Aktor Asing

Protes Anti-Pemerintah di Albania Berujung Bentrokan, Molotov Buat Gedung Pemerintah Membara <b>(Istimewa)</b> Protes Anti-Pemerintah di Albania Berujung Bentrokan, Molotov Buat Gedung Pemerintah Membara (Istimewa)

Menanggapi tuntutan tersebut, Rama menolak mundur dan menyalahkan kelompok-kelompok yang menentang Uni Eropa atas munculnya gelombang protes.

Ia juga menuding keterlibatan "aktor asing" dalam aksi kekerasan yang terjadi selama demonstrasi. Selain itu, Rama menuduh Rusia dan Iran berupaya menyebarkan informasi yang keliru melalui internet.

Di tengah meningkatnya ketegangan, Rama mengajak para demonstran untuk membuka ruang dialog. Sebagai simbol ajakan tersebut, sejumlah bantal berwarna merah diletakkan di luar kantor pusat pemerintahan pada Sabtu.

Namun, upaya tersebut tidak meredakan situasi. Para demonstran justru membakar bantal-bantal yang disediakan di lokasi tersebut.

Selain menyuarakan penolakan terhadap pemerintahan Rama, sejumlah peserta demonstrasi turut membawa poster yang mengkritik Sali Berisha, pemimpin Partai Demokrat berhaluan kanan-tengah yang menjadi salah satu tokoh oposisi pemerintah.

x|close