UN Women: Hampir 50.000 Perempuan dan Anak Perempuan Jadi Korban di Gaza

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 11 Okt 2026, 09:41
thumbnail-author
Jihan Dwicahya
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Pengungsi Palestina mengisi jeriken mereka di titik distribusi air di Nuseirat, Jalur Gaza tengah, Rabu, 7 Oktober 2026. Tentara pendudukan Israel terus melakukan penyerangan kepada warga Palestina di Gaza pada hari Rabu, dilaporkan 2 warga Palestina tewas. Pengungsi Palestina mengisi jeriken mereka di titik distribusi air di Nuseirat, Jalur Gaza tengah, Rabu, 7 Oktober 2026. Tentara pendudukan Israel terus melakukan penyerangan kepada warga Palestina di Gaza pada hari Rabu, dilaporkan 2 warga Palestina tewas. (Antara)

Ntvnews.id, Jenewa - UN Women mengungkapkan bahwa hampir 50.000 perempuan dan anak perempuan di Gaza tewas atau mengalami cedera parah sejak perang pecah pada Oktober 2023. Data tersebut disampaikan organisasi tersebut pada Jumat, 9 Oktober 2026.

Ketua Aksi Kemanusiaan UN Women, Sofia Calltorp, menyebut lebih dari 38.000 perempuan dan anak perempuan meninggal dunia, sedangkan 11.700 lainnya mengalami cedera berat yang berdampak pada kehidupan mereka dalam jangka panjang.

"Lebih dari 38.000 orang tewas dan 11.700 lainnya mengalami cedera yang sangat parah sehingga kini mereka hidup dengan disabilitas seumur hidup," kata Sofia Calltorp, Ketua Aksi Kemanusiaan UN Women.

Calltorp menjelaskan bahwa sebagian besar kematian terjadi selama dua tahun pertama perang. Meski gencatan senjata telah diberlakukan sejak Oktober 2025, kekerasan masih berlanjut. Sebanyak 277 perempuan dan anak perempuan dilaporkan tewas setelah gencatan senjata tersebut berlaku.

Selain korban jiwa dan luka-luka, krisis di Gaza juga menyebabkan hampir satu juta perempuan dan anak perempuan meninggalkan tempat tinggal mereka. Sebagian besar masih hidup dalam pengungsian, termasuk di tenda-tenda maupun di tengah reruntuhan rumah.

Baca Juga: Pemilihan Sekjen PBB Sudah Masuk Putaran Keempat

Calltorp turut menyoroti peningkatan jumlah rumah tangga yang dipimpin perempuan. Angkanya disebut meningkat dua kali lipat, sehingga kini satu dari empat rumah tangga di Gaza dikepalai oleh perempuan.

Di tengah situasi tersebut, pemangkasan pendanaan turut melemahkan kapasitas organisasi-organisasi perempuan dalam memberikan bantuan. Dari 14 organisasi yang disurvei, sebanyak 13 di antaranya mengaku tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan yang terus meningkat.

Seluruh organisasi yang menjadi responden survei juga melaporkan peningkatan kekerasan berbasis gender, kemiskinan, dan gangguan kesehatan mental sejak 2025. Selain itu, 13 organisasi mencatat tingginya angka pernikahan anak.

UN Women mendesak agar gencatan senjata dilaksanakan sepenuhnya, hukum internasional dipatuhi, serta berbagai pelanggaran yang terjadi dipertanggungjawabkan.

Baca Juga: PBB Soroti Serangan Udara yang Tewaskan Puluhan Warga di Myanmar

Calltorp menggambarkan kondisi yang dialami perempuan di Gaza sebagai penderitaan besar yang disertai ketangguhan di tengah situasi yang seharusnya tidak perlu mereka hadapi.

"Apa yang telah kami temukan adalah penderitaan kolektif yang mengerikan, rasa sakit yang luar biasa, dan tingkat ketangguhan dan kekuatan yang seharusnya tidak perlu ditanggung oleh perempuan mana pun," katanya.

(Sumber: Antara)

x|close