AS Akan Siarkan Langsung Eksekusi Mati Pembunuh 13 Orang di Fort Hood

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 10 Okt 2026, 03:10
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Editor
Bagikan
Ilustrasi. Bendera Amerika Serikat Ilustrasi. Bendera Amerika Serikat

Ntvnews.id, Washington D.C - Pemerintah Amerika Serikat (AS) berencana menyiarkan secara langsung eksekusi mati mantan tentara Nidal Hasan, terpidana penembakan massal yang menewaskan 13 orang di pangkalan militer Fort Hood pada 2009. Eksekusi tersebut akan dilakukan oleh regu tembak militer.

Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengatakan pelaksanaan hukuman mati itu akan disaksikan publik. Jika terlaksana, eksekusi tersebut menjadi yang pertama dilakukan oleh militer AS sejak 1961 dan yang pertama menggunakan regu tembak sejak Perang Dunia II.

Dilansir dari AFP, Sabtu, 10 Oktober 2026, Pentagon atau Departemen Pertahanan AS sebelumnya mengumumkan bahwa Presiden Donald Trump telah menyetujui rekomendasi Hegseth untuk menggunakan regu tembak dalam pelaksanaan hukuman mati terhadap Hasan.

Dalam video yang diunggah melalui akun resmi Pentagon di media sosial X pada Kamis, 8 Oktober 2026, Hegseth menyatakan Hasan akan dieksekusi oleh regu tembak tentara. Ia juga menegaskan bahwa pelaksanaan hukuman itu akan dapat disaksikan masyarakat.

"akan menghadapi regu tembak tentara, sebagaimana mestinya, dan kita akan memastikan orang-orang dapat menyaksikannya, bahwa hal itu akan dilakukan di hadapan publik".

"Orang-orang perlu memahami bahwa... ada konsekuensi serius untuk tindakan semacam ini," tegas Hegseth dalam potongan wawancara bersama influencer sayap kanan Jack Posobiec. Wawancara tersebut dilakukan ketika keduanya berada di atas kapal induk USS Abraham Lincoln.

Baca Juga: Prabowo Terima Wakil Menteri Perang AS Elbrigde Colby, Perkuat Kemitraan Strategis Indonesia-Amerika Serikat

Ketika dimintai penjelasan mengenai rencana pelaksanaan eksekusi di hadapan publik, seorang pejabat Pentagon mengonfirmasi bahwa hukuman mati tersebut akan disiarkan melalui layanan streaming langsung.

"Eksekusi mati itu akan disiarkan via livestreaming. Rincian lebih lanjut akan menyusul," kata pejabat Pentagon yang meminta identitasnya dirahasiakan kepada AFP.

Hegseth menyebut eksekusi Hasan akan menjadi pelaksanaan hukuman mati oleh regu tembak pertama oleh militer AS sejak Perang Dunia II. Ia menyinggung kasus Eddie Slovik, seorang tentara yang dihukum mati karena desersi pada 1945.

"Saya menyukai mentalitas yang kita miliki pada Perang Dunia II, yaitu mentalitas untuk menang, yang memahami bahwa ketika musuh menyerang, Anda harus teguh mempertahankan posisi," ucap Hegseth.

Dalam rekaman video lainnya, Hegseth juga ditanya mengenai kemungkinan Hasan menyampaikan permintaan terakhir sebelum dieksekusi. Ia menjawab, "Tidak peduli. Kita akan melihat dia pada 3 Desember."

Pernyataan tersebut diduga merujuk pada jadwal eksekusi Hasan pada 3 Desember. Namun, Pentagon belum mengumumkan secara resmi tanggal pelaksanaan hukuman mati tersebut.

Eksekusi mati oleh militer AS terakhir kali dilakukan pada 1961, ketika John Bennett dihukum gantung atas kasus pemerkosaan dan percobaan pembunuhan.

Sementara itu, Amnesty International mencatat sedikitnya 17 eksekusi mati di hadapan publik sepanjang tahun lalu. Dari jumlah tersebut, enam dilaporkan berlangsung di Afghanistan dan 11 lainnya di Iran.

Hasan, mantan psikiater Angkatan Darat AS, dijatuhi hukuman mati oleh pengadilan militer pada 2013 setelah terbukti melakukan penembakan massal yang terinspirasi Al-Qaeda. Serangan di Fort Hood itu menewaskan 13 orang, termasuk 12 tentara aktif, serta melukai 30 tentara lainnya.

Hasan mengalami kelumpuhan sebagian setelah ditembak oleh seorang polisi sipil yang datang ke lokasi untuk menangani insiden tersebut.

x|close