Hampir Setahun Gencatan Senjata, Seluruh Rumah Sakit di Gaza Belum Pulih

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 10 Okt 2026, 02:40
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Editor
Bagikan
Warga Palestina hidup dalam kondisi memprihatinkan di tenda-tenda darurat di sepanjang pesisir Kota Gaza, berjuang untuk bertahan hidup di tengah serangan Israel yang terus berlangsung di Gaza, Palestina, pada 7 Agustus 2026. Keluarga-keluarga pengun Warga Palestina hidup dalam kondisi memprihatinkan di tenda-tenda darurat di sepanjang pesisir Kota Gaza, berjuang untuk bertahan hidup di tengah serangan Israel yang terus berlangsung di Gaza, Palestina, pada 7 Agustus 2026. Keluarga-keluarga pengun (Antara)

Ntvnews.id, Gaza - Sistem kesehatan di Jalur Gaza masih berada dalam kondisi kritis meski hampir setahun gencatan senjata berlaku sejak Oktober 2025. Hingga Oktober 2026, belum ada satu pun rumah sakit di wilayah Palestina tersebut yang kembali beroperasi dengan kapasitas penuh.

Laporan organisasi Physicians for Human Rights-Israel pada Kamis, 8 Oktober 2026, menunjukkan bahwa pemulihan layanan kesehatan di Gaza masih jauh dari memadai. Meskipun jumlah rumah sakit yang kembali beroperasi secara parsial meningkat, fasilitas medis masih menghadapi kekurangan obat-obatan dan peralatan penting.

“Jumlah tempat tidur perawatan intensif praktis tidak berubah, kekurangan obat-obatan dan perlengkapan medis esensial semakin memburuk, sementara ribuan pasien tetap tidak mendapatkan perawatan penyelamat nyawa yang tidak tersedia di Gaza,” kata organisasi tersebut, dikutip dari TRT World, Sabtu 10 Oktober 2026.

Pada Oktober 2025, hanya 14 dari total 36 rumah sakit di Gaza yang beroperasi sebagian. Jumlah itu meningkat menjadi 20 rumah sakit pada Oktober 2026, tetapi seluruhnya masih belum mampu memberikan layanan secara penuh.

Baca Juga: 6 Warga Palestina Tewas dalam Serangkaian Serangan Israel di Gaza

Kapasitas perawatan intensif juga nyaris tidak mengalami perubahan. Jumlah tempat tidur untuk pasien kritis hanya bertambah dari 103 unit pada Oktober 2025 menjadi 104 unit pada Juli 2026.

Di sisi lain, layanan dialisis bagi pasien penyakit ginjal justru mengalami penurunan. Jika pada Oktober 2025 layanan tersebut tersedia di 17 persen fasilitas kesehatan, pada Juli 2026 angkanya turun menjadi 12 persen. Sementara itu, layanan pencitraan medis menggunakan MRI masih belum tersedia di Gaza.

Pasokan Obat dan Peralatan Medis Terbatas

Keterbatasan pasokan obat-obatan dan perlengkapan medis menjadi salah satu kendala utama pemulihan layanan kesehatan. Berdasarkan data Koordinator Kegiatan Pemerintah Israel di Wilayah (COGAT), sebanyak 69 persen pasokan medis yang telah disetujui untuk masuk ke Gaza selama Januari hingga Mei 2026 dilaporkan tidak pernah sampai ke wilayah tersebut.

Laporan Physicians for Human Rights-Israel juga menyoroti pembatasan di perlintasan yang menghambat warga Palestina keluar dari Gaza untuk memperoleh pengobatan yang tidak tersedia di wilayah itu.

“Pasien meninggal saat menunggu evakuasi,” kata organisasi tersebut.

Sebelum perang pecah pada Oktober 2023, sekitar 50 hingga 100 pasien dapat meninggalkan Gaza setiap hari untuk menjalani perawatan medis. Namun, dalam periode 10 Oktober 2025 hingga pertengahan September 2026, hanya sekitar 3.423 pasien yang berhasil dievakuasi ke luar negeri.

Ilustrasi kerusakan infrastruktur Jalur Gaza. <b>(Antara)</b> Ilustrasi kerusakan infrastruktur Jalur Gaza. (Antara)

Jumlah tersebut tiga hingga enam kali lebih rendah dibandingkan tingkat evakuasi sebelum perang, padahal kebutuhan perawatan di luar Gaza terus meningkat.

Laporan itu turut mengutip data Klaster Kesehatan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), yang mencatat sedikitnya 1.422 warga Palestina tewas dan 5.150 lainnya terluka akibat tindakan pasukan Israel sejak pengumuman gencatan senjata hingga akhir September 2026.

Lebih dari Separuh Pasien Dialisis Dilaporkan Meninggal

Kondisi serupa terjadi pada pasien yang membutuhkan perawatan rutin, khususnya penderita penyakit ginjal. Direktur Jenderal Kementerian Kesehatan Gaza, Munir al-Bursh, mengatakan lebih dari separuh pasien dialisis di wilayah tersebut telah meninggal di tengah blokade Israel dan keruntuhan layanan kesehatan.

Kepada Anadolu, Al-Bursh menjelaskan bahwa sebelum perang, Gaza memiliki sekitar 1.400 pasien yang membutuhkan dialisis. Jumlah itu kini menyusut menjadi sekitar 600 pasien, yang menurutnya berkaitan dengan kematian akibat tidak tersedianya pengobatan rutin.

Ia juga menyebut lebih dari 20.000 pasien dan korban luka membutuhkan evakuasi segera untuk mendapatkan perawatan di luar Gaza.

Menurut Al-Bursh, mekanisme yang memungkinkan sekitar 300 pasien meninggalkan Gaza setiap hari belum dijalankan oleh Israel. Saat ini, hanya sekitar 25 pasien yang diizinkan keluar setiap hari.

Sebelumnya, data Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada April menunjukkan lebih dari 18.500 pasien membutuhkan evakuasi medis, termasuk sekitar 4.000 anak-anak.

Al-Bursh mendesak masyarakat internasional mengambil langkah segera untuk menekan Israel agar membuka akses bagi pasokan obat-obatan dan peralatan medis, memulihkan rumah sakit, mengizinkan tenaga kesehatan kembali bekerja, serta memfasilitasi evakuasi pasien dan korban luka.

Gaza Membutuhkan Hampir 500 Ribu Prosedur Bedah

Besarnya kebutuhan layanan medis juga terlihat dari jumlah korban luka akibat perang. Al-Bursh menyebut lebih dari 174.000 orang mengalami luka-luka sejak konflik dimulai. Ia memperkirakan setiap korban pada awalnya membutuhkan rata-rata sedikitnya tiga kali operasi.

Dengan perhitungan tersebut, Gaza membutuhkan hampir 500.000 prosedur bedah kompleks. Namun, fasilitas kesehatan di wilayah itu hampir tidak memiliki sumber daya yang cukup untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

Al-Bursh memperingatkan bahwa persediaan medis semakin menipis. Kekurangan tempat tidur dan obat-obatan esensial mencapai 52 persen, sedangkan kekurangan perlengkapan medis berada di angka 56 persen.

“Tidak ada peralatan medis baru yang diizinkan masuk ke Gaza sejak dimulainya serangan Israel,” kata Al-Bursh.

Pada September 2026, Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) juga melaporkan bahwa kekurangan obat-obatan untuk penyakit kronis masih berlangsung di Gaza. Kondisi tersebut termasuk terbatasnya persediaan obat yang dibutuhkan pasien penyakit ginjal, sehingga semakin memperberat situasi kesehatan masyarakat di wilayah tersebut.

x|close