Sejumlah Delegasi Walk Out saat Sidang Majelis Umum PBB

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 25 Sep 2026, 07:40
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Sampaikan National Statement di Sidang Umum PBB, Indonesia Akan Bawa Isu Palestina hingga Perdamaian Internasional Sampaikan National Statement di Sidang Umum PBB, Indonesia Akan Bawa Isu Palestina hingga Perdamaian Internasional (Kemlu RI)

Ntvnews.id, New York - Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) diwarnai aksi walk out (WO) yang dilakukan sejumlah delegasi. Aksi tersebut terjadi dalam beberapa kesempatan dan melibatkan delegasi Israel, Kuba, hingga Amerika Serikat (AS).

Aksi pertama dilakukan delegasi Israel ketika Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menyampaikan kritik terhadap tindakan Israel di Gaza dan Tepi Barat dalam pidatonya di Sidang Majelis Umum PBB.

Dilansir dari Al Jazeera, Jumat, 25 September 2026, delegasi Israel meninggalkan ruang sidang setelah mendengar pernyataan Erdogan. Sementara itu, pidato Presiden Turki tersebut mendapat sambutan tepuk tangan dari perwakilan Palestina.

Dalam pidatonya, Erdogan menyoroti dugaan kejahatan perang Israel yang masih berlangsung di Gaza serta meningkatnya serangan oleh pemukim Israel di wilayah Tepi Barat yang diduduki.

"Berkat dukungan (Presiden AS Donald) Trump, kami turut berkontribusi pada tercapainya gencatan senjata. Namun, meskipun ada gencatan senjata tersebut, lebih dari 1.300 warga sipil telah dibunuh di Gaza," ujar Erdogan.

Erdogan juga mengatakan Hamas dan kelompok-kelompok Palestina lainnya telah menerima tahap kedua dari kerangka kesepakatan gencatan senjata pada Oktober. Namun, menurut dia, situasi di Gaza dan Tepi Barat masih belum berubah.

Baca Juga: AS Tolak Terbitkan Visa bagi Tim Media Kepresidenan Iran ke Sidang Umum PBB

"Israel tidak menghentikan tindakannya di Gaza, dan Tepi Barat sedang mengalami masa-masa paling sulit akibat pendudukan wilayah tersebut oleh pemukim ilegal Israel".

Erdogan kemudian menggambarkan kondisi Gaza sebagai kamp konsentrasi paling mengerikan dan memalukan pada era saat ini.

"Kita menghadapi pola pikir genosida yang tidak pernah puas melakukan pembunuhan. Tidak ada seorang pun yang memiliki rasa kemanusiaan, belas kasih, atau hati nurani yang bisa menutup mata terhadap hal ini," tambahnya.

Delegasi Kuba Walk Out saat Trump Berpidato

Hasil pemungutan suara Sidang Umum di markas besar PBB di New York, Amerika Serikat, Jumat, 12 September 2025. Sidang Umum PBB (UNGA) pada hari Jumat mengadopsi rancangan resolusi yang mendukung Deklarasi New York tentang Penyelesaian Damai Pertanyaa <b>(ANTARA)</b> Hasil pemungutan suara Sidang Umum di markas besar PBB di New York, Amerika Serikat, Jumat, 12 September 2025. Sidang Umum PBB (UNGA) pada hari Jumat mengadopsi rancangan resolusi yang mendukung Deklarasi New York tentang Penyelesaian Damai Pertanyaa (ANTARA)

Aksi walk out lainnya dilakukan delegasi Kuba ketika Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyampaikan pidatonya di Sidang Majelis Umum PBB.

Dilansir BBC, Trump sempat menyinggung Kuba yang disebutnya sebagai salah satu negara tetangga terdekat AS. Ia menyebut Kuba sebagai "negara yang benar-benar gagal" dan menyatakan rezim negara tersebut akan berakhir.

"Rezim itu akan runtuh," ujarnya.

Trump juga mengatakan pemerintah AS tengah melakukan negosiasi dengan Kuba untuk mendorong "perubahan mendasar".

Delegasi Kuba kemudian meninggalkan ruang sidang ketika Trump melanjutkan pidatonya.

Dalam setahun terakhir, Trump semakin sering melontarkan kritik terhadap pemerintahan komunis Kuba. Ia menyebut pemerintah Kuba berada di bawah "tekanan luar biasa" dan tengah "mengalami kegagalan yang belum pernah terjadi sebelumnya".

Meski demikian, pemerintah AS belum menjelaskan secara terperinci bentuk perubahan yang diharapkan terjadi di Kuba.

Menteri Luar Negeri Kuba Bruno Rodriguez merespons pernyataan Trump dengan keras. Ia menuduh Presiden AS tersebut menyebarkan "kebohongan".

"Pemerintah AS tidak mampu menerima kenyataan bahwa Kuba berhak menjadi negara yang berdaulat penuh dan merdeka," tulis Bruno Rodriguez di platform X.

Delegasi AS Walk Out saat Disindir Presiden Iran

Presiden Iran Masoud Pezeshkian  <b>(Istimewa)</b> Presiden Iran Masoud Pezeshkian (Istimewa)

Aksi walk out juga terjadi ketika Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyampaikan pidatonya di Sidang Majelis Umum PBB. Beberapa menit setelah Pezeshkian mulai berbicara, satu-satunya delegasi AS yang berada di ruangan tersebut berdiri dan meninggalkan ruang sidang.

Menurut CNN, Pezeshkian mengawali pidatonya dengan menanggapi pernyataan Trump yang disampaikan sehari sebelumnya dalam forum yang sama.

"Presiden Amerika Serikat menyebut kami sebagai teroris. Padahal, kamilah yang menjadi korban terorisme."

Pezeshkian kemudian menyinggung sejumlah peristiwa yang terjadi di Iran, termasuk pembunuhan mantan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei, pengeboman sebuah sekolah pada hari pertama perang antara AS dan Israel melawan Iran yang menewaskan 156 orang, serta serangan terhadap sebuah gedung olahraga.

"Amerika Serikat menargetkan gedung olahraga tersebut menggunakan senjata dengan hulu ledak ganda. Mereka membunuh para ilmuwan kami, serta warga kami--baik pria, wanita, maupun anak-anak. Anak-anak tak berdosa yang sesungguhnya tidak melakukan kejahatan ataupun dosa apa pun," ujar Pezeshkian.

Saat Pezeshkian menyampaikan pernyataan tersebut, delegasi AS terlihat meninggalkan tempat duduknya dan berjalan keluar dari ruang sidang.

Sehari sebelumnya, Trump mengatakan dalam Sidang PBB bahwa dirinya harus menentukan keputusan besar terkait Iran. Ia menyebut pilihan tersebut berada antara mencapai kesepakatan dengan Teheran atau menghancurkan Iran.

"Akankah kesepakatan dicapai dengan Iran yang memungkinkan mereka bangkit kembali dan membangun negara yang jauh lebih hebat daripada sebelumnya-mungkin salah satu yang terhebat di Timur Tengah atau bahkan di dunia?" tanya Trump, dilansir CNN.

"Atau haruskah saya menghancurkan Republik Islam itu dengan cepat, tanpa pernah memberi mereka kesempatan untuk membunuh serta menghancurkan orang dan negara lagi?" tanya Trump lagi.

x|close