Ntvnews.id, Moskow - Partai Rusia Bersatu yang menjadi kendaraan politik Presiden Vladimir Putin kembali mendominasi pemilu parlemen Rusia yang berlangsung pekan lalu. Pemungutan suara selama empat hari tersebut digelar di tengah serangkaian serangan siber serta serangan drone Ukraina.
Dilansir dari AFP, Selasa, 22 September 2026, Pemilu tersebut digelar untuk menentukan seluruh anggota majelis rendah parlemen Rusia atau State Duma. Perhelatan ini menjadi pemilu parlemen pertama yang berlangsung sejak Rusia melancarkan invasi skala besar ke Ukraina pada 2022.
Partai-partai yang secara terbuka menentang perang tidak diperbolehkan mengikuti pemilu. Bahkan, Mahkamah Agung Rusia mencoret partai anti-perang Yabloko dari daftar peserta beberapa pekan sebelum hari pencoblosan.
Pemungutan suara berlangsung pada 18-20 September waktu setempat. Proses pemilu juga dilaksanakan di sejumlah wilayah Ukraina yang diduduki dan kemudian dianeksasi Rusia.
Besarnya tingkat partisipasi pemilih dalam pemilu kali ini menjadi salah satu indikator yang dapat digunakan untuk melihat dukungan publik terhadap konflik yang disebut sebagai perang paling mematikan di Eropa sejak Perang Dunia II.
Hasil sementara yang diberitakan media pemerintah Rusia pada Senin, 21 September 2026 dini hari menunjukkan Partai Rusia Bersatu memperoleh 57,5 persen suara setelah lebih dari 71 persen suara selesai dihitung.
Baca Juga: Ratusan Drone Ukraina Serang Ibu Kota Rusia di Hari Terakhir Pemilu
Di posisi berikutnya, Partai Komunis mendapatkan 14 persen suara, sedangkan Partai LDPR meraih 8,7 persen suara.
Berdasarkan proyeksi kantor berita pemerintah TASS, Rusia Bersatu diperkirakan tetap menguasai sedikitnya dua pertiga dari 450 kursi di State Duma. Komposisi tersebut memberikan kemampuan kepada partai penguasa untuk melakukan perubahan terhadap konstitusi.
Hasil resmi sementara beserta angka partisipasi pemilih diperkirakan diumumkan pada Senin, 21 September 2026 pagi waktu setempat.
Pemilu Diwarnai Serangan Siber dan Drone
Ketika pemungutan suara memasuki hari terakhir pada Minggu, 20 September 2026, Ketua Komisi Pemilihan Umum Pusat Rusia Ella Pamfilova mengungkap adanya serangan siber secara besar-besaran yang menyasar sistem dan infrastruktur pemilu. Namun, dia tidak mengungkap pihak yang diduga berada di balik serangan tersebut.
Menurut Pamfilova, serangan tersebut tampaknya dilakukan oleh "kelompok-kelompok yang sangat profesional dan terkoordinasi dengan baik, yang menggunakan perangkat kecerdasan buatan (AI)".
Hari terakhir pemungutan suara pemilu parlemen Rusia diwarnai serangkaian serangan ratusan drone Ukraina di wilayah Moskow (Istimewa)
Pada hari yang sama, wilayah Moskow dan daerah sekitarnya juga menjadi sasaran serangan drone Ukraina. Serangan tersebut menyebabkan kebakaran di sebuah kilang minyak dan mengakibatkan sedikitnya dua orang meninggal dunia.
Wali Kota Moskow Sergei Sobyanin menyatakan Ukraina meluncurkan sedikitnya 1.600 drone dalam serangan tersebut. Sekitar 450 drone di antaranya diarahkan ke wilayah ibu kota Rusia.
Serangan tersebut disebut sebagai salah satu serangan drone terbesar yang pernah menyasar Moskow sejak perang Rusia-Ukraina dimulai.
Pemerintah Rusia kemudian menyatakan akan "meningkatkan intensitas" serangan ke Kyiv sebagai bentuk respons terhadap serangan drone Ukraina.
Dengan hasil sementara tersebut, Partai Rusia Bersatu diproyeksikan kembali mempertahankan kendali atas parlemen Rusia, sementara pelaksanaan pemilu berlangsung dalam situasi keamanan yang diwarnai serangan siber dan eskalasi serangan drone.
Vladimir Putin (Istimewa)