Dinkes Kalsel Laporkan 3.990 Kasus ISPA hingga Akhir Agustus

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 1 Sep 2026, 11:41
thumbnail-author
Annisa Aldifa Keyla
Penulis
thumbnail-author
Tim Redaksi
Editor
Bagikan
Kabut asap yang menyelimuti Bandara Internasional Syamsudin Noor di Banjarbaru, Kalimantan Selatan pada Rabu pagi. Kabut asap yang menyelimuti Bandara Internasional Syamsudin Noor di Banjarbaru, Kalimantan Selatan pada Rabu pagi. (Antara)

Ntvnews.id, Banjarmasin - Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Selatan mencatat sebanyak 3.990 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) berdasarkan laporan gabungan dari Puskesmas dan Rumah Sakit hingga Minggu, 30 Agustus 2026.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Selatan Diauddin mengatakan, dari total tersebut, sebanyak 3.506 kasus dilaporkan melalui Puskesmas, sedangkan 484 kasus lainnya berasal dari Rumah Sakit.

“Data ini merupakan data mingguan sementara yang berasal dari gabungan laporan Puskesmas dan Rumah Sakit. Karena sifatnya mingguan, data terus kami pantau dan evaluasi untuk melihat perkembangan kasus ISPA di Kalimantan Selatan,” katanya di Banjarbaru, Selasa, 1 September 2026.

Berdasarkan wilayah, Kota Banjarmasin menjadi daerah dengan laporan kasus ISPA tertinggi, yakni mencapai 988 kasus. Setelah itu, Banjarbaru mencatat 670 kasus, Hulu Sungai Tengah 405 kasus, Banjar 391 kasus, dan Barito Kuala 287 kasus.

Baca Juga: ISPA Meningkat Akibat Karhutla, DPR Minta Kemenkes Jangan Diam Saja

Kebakaran hutan dan lahan menghanguskan lahan gambut di kawasan Bandara Internasional Syamsudin Noor, Banjarbaru, Kalimantan Selatan <b>(Antara)</b> Kebakaran hutan dan lahan menghanguskan lahan gambut di kawasan Bandara Internasional Syamsudin Noor, Banjarbaru, Kalimantan Selatan (Antara)

Selanjutnya, kasus di Hulu Sungai Selatan tercatat 244, Tanah Laut 218, Kotabaru 210, Tabalong 181, Tanah Bumbu 135, Tapin 102, Balangan 81, serta Hulu Sungai Utara sebanyak 78 kasus.

Diauddin menekankan bahwa jumlah laporan yang tinggi di satu daerah belum tentu menggambarkan kondisi yang sama di daerah lainnya. Karena itu, data tersebut masih perlu dipantau secara berkala.

Pemantauan dilakukan dengan melibatkan fasilitas pelayanan kesehatan yang tersebar di seluruh kabupaten dan kota di Kalimantan Selatan. Langkah tersebut dilakukan untuk mengetahui perkembangan kasus sekaligus memastikan respons dapat diberikan apabila terjadi peningkatan.

“Yang terpenting adalah bagaimana kita memastikan masyarakat yang mengalami gejala mendapatkan pelayanan kesehatan dan penanganan yang sesuai. Kami juga terus melakukan pemantauan melalui fasilitas kesehatan agar apabila ditemukan peningkatan kasus, dapat segera dilakukan respons,” kata Diauddin.

(Sumber: Antara)

HIGHLIGHT

x|close