Ntvnews.id, Jakarta -Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni mengungkapkan bahwa jumlah titik panas (hotspot) kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat telah menyusut menjadi 28 titik. Kendati demikian, ia mengingatkan bahwa ancaman kemunculan kabut asap masih belum memudar.
"Untuk wilayah Kalbar ada 28 hotspot. Yang terbanyak itu di Ketapang 16, kemudian di Melawi 11, dan satu ada di Kubu Raya," kata Menhut saat meninjau penanganan karhutla di Desa Rasau Jaya Satu, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, Senin (24/8).
Dalam peninjauan tersebut, Raja Juli Antoni didampingi oleh Gubernur Kalbar Ria Norsan, jajaran TNI-Polri, BMKG, BNPB, Manggala Agni Kementerian Kehutanan, hingga relawan Masyarakat Peduli Api.
Kondisi tersebut tak lepas dari karakteristik khas lahan gambut yang mendominasi wilayah tersebut. "Tidak adanya hotspot tidak berarti aman dari asap. Karena ini memang daerah gambut. Pembakaran tidak sempurna, sehingga asapnya lebih banyak ketimbang di tanah mineral," terangnya.
Kerja kolaboratif lintas sektor yang melibatkan TNI, Polri, Manggala Agni, BPBD, BNPB, dan unsur masyarakat diakui menjadi kunci melandainya angka titik panas di Kalbar.
Di level nasional, pergerakan konsentrasi hotspot terpantau bergeser. Berdasarkan data per 23 Agustus malam, porsi hotspot terbanyak di Indonesia bergeser ke wilayah Sumatra, dengan rincian Sumatra Selatan memimpin sebanyak 127 titik, disusul Riau 54 titik, dan Jambi 47 titik.
Menhut menggarisbawahi bahwa pergeseran peta sebaran ini menuntut pemantauan berkala tanpa henti karena dinamika cuaca dan kondisi lapangan yang cepat berubah. “Data lapangan sangat dinamis secara nasional, karena memang ini sangat sulit diprediksi,” pungkasnya.
Menhut RI Raja Antoni saat meninjau penanganan karhutla di Rasau Jaya Satu, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, Senin (24/8/2026). (Antara)