Ratna Sari Dewi, Kisah Cinta dan Peran Besar Istri Sukarno yang Kembali Jadi Sorotan di Istana

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 18 Agu 2026, 16:07
thumbnail-author
Dedi
Penulis & Editor
Bagikan
Dewi Soekarno Dewi Soekarno (NTVnews)

Ntvnews.id, Jakarta - Kehadiran Ratna Sari Dewi Sukarno dalam Upacara Peringatan HUT Ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (17/8/2026), menjadi salah satu momen yang menyita perhatian publik. Istri keenam Presiden pertama RI Sukarno itu tampak menghadiri upacara kenegaraan yang membawanya kembali ke tempat yang pernah menjadi bagian penting dalam perjalanan hidupnya.

Bagi Dewi Sukarno, kunjungan ke Istana bukan sekadar menghadiri perayaan kemerdekaan. Momen tersebut sekaligus membangkitkan kenangan masa lalu saat mendampingi Sukarno sebagai ibu negara di era awal Republik Indonesia.

Saat melihat kembali kompleks Istana Kepresidenan, Dewi mengaku terkejut dengan berbagai perubahan yang terjadi dibandingkan kondisi yang masih tersimpan dalam ingatannya.

“Saya kaget sekali istananya sudah ganti banyak ya, ada gedung yang dulu tidak ada. Dulu antara Istana Negara dan Istana Merdeka ada halaman yang besar, sekarang ada gedung,” kata saat hadir di Peringatan HUT ke-81 RI.

Dari Naoko Nemoto Menjadi Ratna Sari Dewi

Ratna Sari Dewi lahir di Tokyo, Jepang, pada 6 Februari 1940 dengan nama Naoko Nemoto. Ia berasal dari keluarga sederhana dan menghabiskan masa kecilnya di tengah situasi sulit akibat Perang Dunia II yang melanda Jepang.

Kondisi ekonomi keluarga membuat Naoko harus bekerja sejak usia muda. Setelah menyelesaikan pendidikan menengah, ia sempat bekerja sebagai pramuniaga di sebuah perusahaan asuransi jiwa di Tokyo.

Masa kecil yang diwarnai situasi perang membentuk karakter Dewi menjadi sosok tangguh. Ia tumbuh dalam lingkungan yang penuh keterbatasan, namun tetap memiliki minat besar terhadap dunia seni dan budaya.

Ketertarikan tersebut membawanya mempelajari berbagai bidang seni, mulai dari tari tradisional Jepang, seni peran, hingga dunia sastra. Kemampuan itu kemudian membuka jalan bagi Dewi memasuki industri hiburan Jepang.

Untuk memperluas peluang kariernya, Dewi juga mempelajari bahasa Inggris. Keputusan itu kelak menjadi salah satu faktor yang mempertemukannya dengan Presiden Sukarno.

Pertemuan yang Mengubah Hidup

Kisah cinta Sukarno dan Dewi menjadi salah satu cerita paling terkenal dalam sejarah kehidupan pribadi Presiden pertama Indonesia. Sejumlah referensi mencatat adanya beberapa versi mengenai pertemuan pertama mereka, namun sebagian besar sumber menyebut keduanya bertemu di Tokyo pada 16 Juni 1959.

Pada masa itu, Dewi masih berusia 19 tahun. Pesona, kecerdasan, serta ketertarikannya terhadap seni disebut membuat Sukarno jatuh hati.

Tak lama setelah pertemuan tersebut, Sukarno mengundang Dewi untuk datang ke Indonesia. Dewi kemudian tiba di Jakarta pada September 1959 dan hubungan keduanya semakin dekat.

Setelah melalui perjalanan panjang, Dewi resmi menikah dengan Sukarno pada 3 Maret 1962 dan menjadi istri keenam Presiden RI tersebut.

Bukan Sekadar Kisah Cinta

Hubungan Dewi dan Sukarno tidak hanya berkisah tentang romansa. Selama mendampingi Sukarno, Dewi juga memainkan peran penting dalam berbagai aspek, termasuk seni, diplomasi, dan hubungan internasional.

Besarnya rasa cinta Sukarno terhadap Dewi bahkan tergambar dalam salah satu pesan yang kerap dikutip dalam berbagai catatan sejarah.

“Kalau aku mati, kuburlah aku di bawah pohon yang rindang. Aku mempunyai istri yang aku cintai dengan segenap jiwaku. Namanya Ratna Sari Dewi. Kalau ia meninggal, kuburlah ia dalam kuburku. Aku menghendaki ia selalu bersama aku…”

Di balik penampilannya yang elegan, Dewi dikenal memiliki kemampuan komunikasi dan negosiasi yang baik. Kemampuan tersebut beberapa kali membantu berbagai agenda yang berkaitan dengan minat Sukarno terhadap dunia seni.

Salah satu kontribusi pentingnya terjadi pada 1964 ketika Dewi berhasil membantu proses penerbitan dokumentasi koleksi lukisan milik Sukarno di Jepang. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya memperkenalkan koleksi seni Presiden pertama RI kepada khalayak internasional.

Wajah Diplomasi Indonesia di Era Sukarno

Dibandingkan istri-istri Sukarno lainnya, Dewi dikenal memiliki citra yang modern dan berwawasan internasional. Penampilannya yang mengikuti tren global membuatnya kerap mendampingi Sukarno dalam berbagai pertemuan dengan tamu negara dan delegasi asing.

Peran tersebut menjadikan Dewi salah satu figur yang membantu memperkuat citra Indonesia dalam hubungan internasional pada era 1960-an.

Kepercayaan Sukarno terhadap Dewi juga terlihat dari berbagai aktivitas diplomasi informal yang dijalankannya. Pada 1964, ia dipercaya menjadi Ketua Kehormatan Lembaga Persahabatan Indonesia-Jepang serta aktif mempererat hubungan kedua negara.

Dewi juga mendirikan Komunitas Nadeshiko yang beranggotakan perempuan Jepang yang menikah dengan warga Indonesia. Organisasi tersebut menjadi salah satu wadah untuk memperkuat hubungan sosial dan budaya antara Indonesia dan Jepang.

Tetap Dikenang Hingga Kini

Perubahan politik setelah peristiwa G30S menjadi titik balik dalam kehidupan Sukarno dan Dewi. Saat pengaruh politik Sukarno melemah, Dewi berupaya memperjuangkan nasib suaminya melalui berbagai cara, termasuk menjalin komunikasi dengan tokoh-tokoh penting pada masa itu.

Setelah Sukarno wafat pada 1970, Dewi menjalani kehidupan di sejumlah negara Eropa sebelum akhirnya kembali ke Jepang dan menetap di sana.

Hingga kini, Ratna Sari Dewi tetap aktif sebagai pebisnis di bidang perhiasan dan kosmetik. Selain itu, ia masih dikenal luas di Jepang sebagai figur publik yang kerap tampil di berbagai program televisi dan ajang kecantikan.

Kehadirannya di Istana Merdeka pada peringatan HUT Ke-81 RI menjadi pengingat bahwa Ratna Sari Dewi bukan hanya bagian dari kisah cinta Presiden Sukarno, tetapi juga sosok yang pernah memainkan peran dalam diplomasi, seni, dan hubungan Indonesia dengan dunia internasional.

HIGHLIGHT

x|close