Ntvnews.id, Washington D.C - Miliarder Amerika Serikat Elon Musk dilaporkan kembali menolak permintaan Ukraina untuk memanfaatkan layanan internet satelit Starlink dalam mendukung operasi drone yang menyasar wilayah jauh di dalam Rusia.
Dilansir dari The Atlantic, Senin, 10 Agustus 20265, mengutip dua orang yang disebut sebagai sekutu dekat mantan Menteri Pertahanan Ukraina Mikhail Fedorov. Mereka mengatakan Musk masih tidak memberikan izin kepada Ukraina untuk menggunakan Starlink dalam mengarahkan serangan pesawat tanpa awak ke wilayah Rusia.
Fedorov dikenal sebagai salah satu pendukung kuat pemanfaatan kendaraan udara nirawak (UAV) dalam peperangan. Setelah diberhentikan dari jabatannya pada bulan lalu, ia disebut berupaya melakukan pendekatan kepada Musk melalui jalur informal untuk memperoleh dukungan.
Namun, hingga kini Musk disebut masih mempertahankan sikapnya dan belum memberikan persetujuan.
"Keputusan positif belum diambil," kata seorang sekutu Fedorov. Sekutu tersebut juga menyatakan Elon Musk masih berpegang pada pandangannya bahwa "sudah saatnya mencapai kesepakatan."
Sebelumnya, The Atlantic melaporkan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky sempat meminta Presiden AS Donald Trump untuk membantu memengaruhi Musk ketika melakukan kunjungan ke Amerika Serikat pada bulan lalu.
Musk diketahui merupakan salah satu sekutu dekat Trump. Namun, Trump disebut tidak memberikan komitmen khusus terkait permintaan Zelensky tersebut.
Baca Juga: Rusia Tuding Pentagon Gunakan Starlink untuk Intervensi Urusan Negara Lain
Elon Musk mulai memasok puluhan ribu terminal Starlink ke Ukraina tidak lama setelah perang dengan Rusia pecah pada Februari 2022. Layanan tersebut kemudian menjadi salah satu komponen penting dalam mendukung komunikasi dan operasi militer Ukraina.
Namun, hubungan Musk dengan sejumlah pejabat Ukraina kemudian memburuk. Ia beberapa kali menyerukan agar Kyiv mengupayakan penyelesaian damai dengan Moskow. Musk juga memperingatkan bahwa perang berkepanjangan berpotensi berkembang menjadi "Perang Dunia III".
Pada 2023, Musk mengakui bahwa dirinya pernah menolak permintaan Ukraina untuk menggunakan jaringan Starlink dalam mendukung serangan terhadap Armada Laut Hitam Rusia dan pangkalan angkatan laut Rusia di Krimea.
"Jika kita menyetujui tuntutan itu, SpaceX akan secara langsung terlibat dalam tindakan perang dan secara serius meningkatkan konflik," jelas Musk saat itu.
Sikap Musk yang disebut masih bertahan hingga sekarang dinilai berpotensi menjadi hambatan tambahan bagi Ukraina, baik dalam menjalankan operasi militernya maupun dalam upaya diplomatik menghadapi Rusia.
Starlink/Ist
Tekanan terhadap kemampuan pertahanan Ukraina juga muncul dari kebijakan pemerintahan Trump. Pemerintah AS sebelumnya disebut menarik komitmen yang memungkinkan Ukraina memproduksi rudal pertahanan udara Patriot serta menolak permintaan Kyiv untuk mendapatkan tambahan rudal pencegat.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky bersama jajaran militernya pada pekan ini menyatakan bahwa Ukraina menghadapi kesulitan dalam membendung serangan Rusia terhadap Kyiv dan sejumlah kota lainnya.
Baca Juga: Akses Listrik dan Internet Terputus, TNI AU Kirim Genset dan Starlink ke Sumut
Musk sendiri telah lama menjadi figur kontroversial dalam isu penggunaan Starlink di Ukraina. Pada bulan lalu, juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia Maria Zakharova bahkan mendesaknya menghentikan sepenuhnya layanan Starlink di Ukraina apabila Musk benar-benar ingin "orang-orang berhenti meninggal."
Di sisi lain, pemberhentian Fedorov secara mendadak oleh Zelensky juga memicu reaksi keras di Ukraina. Sejumlah demonstran dan aktivis ternama menyerukan agar mantan pejabat tersebut dikembalikan ke posisinya.
Setelah muncul berbagai kritik, Zelensky disebut terus melakukan perubahan terhadap jajaran militer senior. Salah satunya dengan mencopot Panglima Tertinggi Aleksandr Syrsky, yang diyakini memiliki perbedaan pandangan dengan Fedorov mengenai prioritas serta strategi militer.
CEO Tesla Elon Musk. (Foto: Reuters)