Ntvnews.id, Jember - Festival Egrang XIV di Komunitas Tanoker, Kecamatan Ledokombo, Kabupaten Jember, Jawa Timur, dinilai dapat menjadi salah satu sarana untuk memperkuat komitmen menciptakan ruang yang aman bagi anak.
Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifatul Choiri Fauzi mengatakan penciptaan lingkungan yang aman bagi anak membutuhkan keterlibatan berbagai unsur masyarakat.
"Upaya menciptakan ruang aman bagi anak membutuhkan keterlibatan seluruh unsur masyarakat," katanya saat menghadiri Festival Egrang XIV di Komunitas Tanoker, Kecamatan Ledokombo, Kabupaten Jember, Sabtu, 8 Agustus 2026.
Menurut Arifatul, perlindungan terhadap anak tidak cukup hanya melalui penerapan regulasi. Upaya tersebut harus dibangun melalui kolaborasi antara keluarga, pemerintah, dan masyarakat serta lingkungan sosial tempat anak beraktivitas.
"Gerakan nasional ruang aman dan nyaman bagi anak mencakup berbagai lingkungan kehidupan, mulai dari keluarga, ruang publik, satuan pendidikan hingga ruang digital," tuturnya.
Ia menilai komitmen masyarakat di Kecamatan Ledokombo memiliki peran penting karena pemerintah desa dan warga ikut terlibat dalam upaya menyelesaikan berbagai persoalan yang berada dekat dengan kehidupan masyarakat.
"Berbagai kegiatan dan kolaborasi yang telah tumbuh di Kabupaten Jember menunjukkan adanya semangat yang sejalan dengan Ruang Bersama Indonesia. Kekuatan tersebut perlu terus dikembangkan agar menjadi gerakan yang mampu menjawab persoalan masyarakat sekaligus memperkuat perlindungan dan pemenuhan hak anak," katanya.
Baca Juga: Menteri PPPA Kecam Influencer yang Libatkan Anak dalam Promosi Vape: Itu Sangat Berbahaya
Bupati Jember Muhammad Fawait mengatakan kehadiran Menteri PPPA dalam kegiatan tersebut menjadi kesempatan untuk memperkuat kerja sama antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah.
"Komitmen Kabupaten Jember akan terus sesuai dengan arahan Presiden dan Ibu Menteri, bagaimana anak-anak termasuk lansia mempunyai hak yang harus dipenuhi, termasuk pelayanan dasar seperti kesehatan dan pendidikan,” ujarnya.
Fawait mengatakan Pemkab Jember menempatkan pemenuhan hak masyarakat sebagai salah satu bagian penting dalam pembangunan daerah. Karena itu, penguatan ruang aman perlu diterapkan hingga tingkat desa.
"Karena itu, keterlibatan pemerintah desa menjadi penting agar kebijakan tidak berhenti pada tingkat kabupaten, tetapi dapat diterjemahkan menjadi gerakan nyata di lingkungan tempat masyarakat menjalani kehidupan sehari-hari," katanya.
Direktur Tanoker Farha Ciciek mengatakan keberagaman peserta menjadi salah satu kekuatan Festival Egrang. Menurut dia, permainan tradisional tersebut tidak hanya menjadi bagian dari warisan budaya, tetapi juga menjadi wadah pertemuan berbagai kelompok masyarakat.
“Beragam komunitas, kelompok disabilitas, lintas generasi, lintas etnis, organisasi sosial keagamaan berjalan bersama menampilkan hal yang terbaik karya mereka dalam festival itu,” ujarnya.
Baca Juga: Kolaborasi Khofifah dan Menteri PPPA Tingkatkan Keamanan Digital Anak di Jawa Timur
Ia mengatakan Festival Egrang telah berkembang menjadi kegiatan yang memiliki makna lebih luas bagi masyarakat Ledokombo. Kesederhanaan permainan egrang justru menjadi media untuk menyampaikan pesan mengenai kepedulian, empati, kegembiraan, dan harapan.
Berbagai kelompok yang hadir membawa cerita, karya, serta keunikan masing-masing dan kemudian bertemu dalam satu kegiatan melalui tradisi dan kreativitas.
Rangkaian Festival Egrang XIV juga diisi dengan deklarasi serta penandatanganan komitmen Ruang Bersama Indonesia (RBI) oleh para kepala desa se-Kecamatan Ledokombo.
(Sumber: Antara)
Menteri PPPA Arifatul Choiri Fauzi (tengah) bersama Bupati Jember Muhammad Fawait dan Direktur Tanoker Farha Ciciek saat membuka Festival Egrang XIV di Kantor Desa Sumberlesung (Antara)