Misteri Kematian 15 Gajah, Diduga Keracunan Pestisida

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 6 Agu 2026, 07:50
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Ilustrasi gajah Ilustrasi gajah (Freepik/ wirestock)

Ntvnews.id, Kenya - Sebanyak 15 gajah ditemukan mati di kawasan Taman Nasional Amboseli, Kenya. Otoritas setempat menduga kematian satwa tersebut berkaitan dengan paparan pestisida yang digunakan pada perkebunan tomat di sekitar kawasan konservasi.

Dilansir dari BBC, Kamis, 6 Agustus 2026, Kenya Wildlife Service (KWS) pekan lalu melaporkan bahwa sejumlah bangkai gajah menunjukkan gejala kelumpuhan sebagian, yang mengarah pada dugaan keracunan sianida yang terkandung dalam pestisida.

Meski demikian, sejumlah pemerhati lingkungan dan warga setempat meragukan kesimpulan tersebut. Kepada BBC, mereka menilai penyebab kematian gajah-gajah itu belum dapat dipastikan.

"Kami telah hidup berdampingan dengan satwa liar ini selama beberapa dekade dan belum pernah mengalami hal seperti ini," kata Daniel Nina, perwakilan sejumlah pemilik lahan di kawasan tersebut.

Perkebunan tomat yang diduga menjadi sumber paparan racun berada di wilayah Kimana, koridor yang menghubungkan Taman Nasional Amboseli dengan Taman Nasional Tsavo di selatan Kenya.

Kawasan itu merupakan bagian dari ekosistem Amboseli yang membentang hingga perbatasan Tanzania dan menjadi habitat bagi lebih dari 2.000 gajah yang bergantung pada wilayah tersebut untuk mencari makan dan memperoleh sumber air.

Pertanian di kawasan Kimana berkembang pesat berkat pasokan air yang berasal dari Gunung Kilimanjaro.

Baca Juga: Pengacara Sebut Don Ritto Korban Konflik Lembaga Negara: Gajah vs Gajah

Kepala dokter hewan Kenya Wildlife Service, Dr. Isaac Lekolool, mengungkapkan bahwa timnya menemukan jejak sianida pada sampel yang diambil dari organ pencernaan beberapa gajah.

Meski demikian, ia menegaskan pihaknya belum menutup kemungkinan adanya unsur peracunan yang dilakukan secara sengaja.

"Sulit untuk memastikannya karena kami belum pernah menjumpai kasus seperti ini sebelumnya. Kejadian ini hampir bisa dikatakan kasus yang sangat langka, dan semuanya terjadi dalam kurun waktu sekitar satu bulan," kata Lekolool.

Menurut dugaan sementara, gajah-gajah tersebut kemungkinan terpapar racun dari pestisida yang disemprotkan di lahan pertanian tomat.

"Bisa jadi tidak disengaja. Mungkin orang-orang mencoba mengendalikan hama pada tanaman dan mungkin itu jadi sumbernya," kata Lekokool.

Laporan tahun 2024 yang diterbitkan inisiatif keamanan pangan Kenya, Route to Food, mengungkap bahwa seorang petani di Kimana menggunakan insektisida dengan bahan aktif berupa "senyawa kimia sianida".

Penulis laporan tersebut, Wangunyu Njuguna, mengatakan bahwa meskipun penggunaan bahan kimia tertentu dilarang di Kenya, sejumlah pestisida berbahaya masih diselundupkan melalui perbatasan Tanzania.

"Masalah terbesarnya adalah kita tidak menerapkan standar serupa di wilayah ini," kata Njuguna.

Ia menambahkan, "Tidak ada yang memeriksa apa yang saya beli di perbatasan, jadi saya bisa membeli apa saja dan berjalan melewati perbatasan tanpa ada yang menghentikan saya."

Menurutnya, berbagai bahan kimia berbahaya masih banyak digunakan di sektor pertanian Kenya dan beberapa di antaranya telah dikaitkan dengan gangguan kesehatan serius. Meski regulasi telah tersedia, pengawasannya dinilai masih lemah, termasuk terhadap dampaknya bagi satwa liar.

Gajah Sumatera <b>(treehugger)</b> Gajah Sumatera (treehugger)

Di sisi lain, konservasionis Paula Kahumbu mempertanyakan kesimpulan KWS. Setelah hampir tiga dekade meneliti gajah, ia menilai teori bahwa pestisida menjadi penyebab utama kematian 15 gajah tersebut masih belum meyakinkan.

"Beberapa informasi telah dirilis ke publik, tetapi informasi tersebut tidak masuk akal. Gajah-gajah itu harus makan dalam jumlah yang sangat besar untuk bisa mati," ujarnya.

Sejumlah pakar lain yang enggan disebutkan identitasnya juga menilai dugaan tersebut tidak sesuai dengan perilaku alami gajah. Mereka menjelaskan bahwa gajah jantan dewasa biasanya lebih sering memasuki lahan pertanian dibandingkan kelompok betina dan anak gajah. Namun, dari 15 gajah yang mati, hanya satu ekor yang merupakan jantan dewasa.

Daniel Nina juga mengungkapkan bahwa insiden keracunan sebelumnya turut melibatkan satwa lain seperti zebra dan antelop yang mencari makan di kawasan yang sama.

Baca Juga: Prabowo Siapakan Inpres Penyelamatan Gajah

"Bagaimana mungkin sianida membunuh gajah sementara zebra, antelop, dan wildebeest yang makan rumput bersama-sama tetap hidup?" ucapnya.

Konflik antara manusia dan satwa liar telah lama menjadi persoalan di berbagai kawasan konservasi Kenya. Gajah kerap memasuki lahan pertanian sehingga memicu ketegangan dengan warga.

CEO organisasi konservasi Save the Elephants, Frank Pope, menilai persoalan utama saat ini bukan lagi perburuan gading, melainkan perubahan penggunaan lahan.

"Ini soal penggunaan lahan," katanya.

Menurut Pope, semakin luasnya lahan pertanian dan pembangunan penginapan di sekitar taman nasional mempersempit habitat gajah sehingga meningkatkan potensi konflik.

"Orang-orang pindah ke daerah-daerah yang memiliki cukup air untuk menanam tanaman, dan tanah yang subur, dan daerah-daerah itulah yang cenderung digunakan oleh gajah," simpulnya.

TERKINI

Load More

HIGHLIGHT

x|close