Wangsit Benang Merah Koperasi Merah Putih

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 31 Jul 2026, 20:27
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Penulis & Editor
thumbnail-author
Dirgayuza Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Dirgayuza Setiawan Dirgayuza Setiawan (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Dalam bahasa Indonesia, ada satu ungkapan yang sangat indah: benang merah.

Benang merah adalah metafora tentang sebuah gagasan yang menghubungkan berbagai peristiwa yang tampaknya terpisah oleh ruang dan waktu. Baru terlihat utuh ketika semua potongannya disusun menjadi satu.

Beberapa waktu lalu, ketika berada di rumah pribadi Presiden Prabowo di Hambalang, saya “mendapat wangsit” dan menemukan setumpuk carikan kertas yang sudah menguning dimakan usia.

Di sudut halaman tertulis sederhana:

Lembaga Pembangunan.

Semula saya mengira itu hanya arsip organisasi biasa. Namun semakin banyak halaman yang saya baca, semakin terasa bahwa saya sedang membuka sepotong sejarah yang hampir terlupakan.

Lembaran-lembaran yang saya temukan berasal dari tahun 1971–1973. Ada notulen rapat reorganisasi organisasi, daftar proyek, rencana anggaran, laporan perkembangan lapangan, hingga evaluasi setiap proyek. Di halaman pertama tertulis alamat yang terasa akrab bagi siapa pun yang mengenal sejarah Jakarta: Salemba Raya 13.

Saya kemudian teringat sebuah wawancara pertama Prabowo sebagai Presiden di 28 Oktober 2024.

Dalam wawancara “Prabowo Bicara” yang disiarkan SCTV itu, beliau mengenang bahwa ketika masih remaja, masih tinggal di rumah kakeknya di Menteng, di sebelah rumah Gus Dur, sebelum masuk AKABRI, ia ikut mendirikan Lembaga Pembangunan bersama Soe Hok Gie dan sejumlah aktivis muda lainnya.

Sejak saat itu, katanya, ia sudah memikirkan bagaimana membantu masyarakat pedesaan keluar dari kemiskinan.

Selama ini kisah tersebut sering dianggap sekadar cerita masa muda.

Tidak jauh dari tumpukan kertas yang saya temukan, ada buku thesis doktoral Prof. Soemitro Djojohadikusumo. Ditulis 1943 di Netherlands School of Economics (kini Universitas Erasmus Rotterdam). Di dalamnya ia menulis:

⁠"Ekonomi Indonesia tidak dapat dikembangkan tanpa menyalurkan kekuatan rakyat, terutama di desa. Lembaga-lembaga keuangan seperti koperasi dan bank rakyat harus menjadi tulang punggung. Petani kecil sering terbelenggu oleh kekuasaan golongan tengkulak dan golongan pedagang besar yang biasanya terpusat di kota."

Kalimat itu ditulis lebih dari 80 tahun yang lalu.

Setelah membaca thesis Prof. Sumitro berdampingan dengan arsip Lembaga Pembangunan, saya merasa menemukan benang merah yang menghubungkan tiga generasi pemikiran.

Dimulai dari Prof. Soemitro pada tahun 1943.

Dilanjutkan oleh sekelompok anak muda melalui Lembaga Pembangunan pada akhir 1960-an dan awal 1970-an.

Lalu muncul kembali dalam berbagai kebijakan pembangunan desa hari ini.

Lembaga Pembangunan bukan sekadar kelompok diskusi mahasiswa. Organisasi ini memiliki dewan direksi yang dipimpin Dr. Emil Salim, direktur pelaksana, badan pelaksana, pembagian wilayah kerja nasional, laporan keuangan, hingga sistem evaluasi proyek yang sangat rinci.

Yang paling menarik adalah proyek-proyeknya.

Tidak ada proyek mercusuar.

Tidak ada gedung megah.

Yang ada justru penggaduhan kambing di Dlingo, pengembangan ternak lebah di Antiga, penggaduhan babi di Antiga, Keramas, dan Tjarangsari, pengembangan ayam kampung di Tjibadujut.

Pembibitan cengkeh, pompanisasi di Pati dan Kulon Progo, poliklinik di Yogyakarta dan Tjibadujut, bengkel di Denpasar, koperasi sepatu, bahkan rencana membentuk koperasi simpan pinjam peternak babi agar masyarakat memiliki akses terhadap modal.

Semuanya berangkat dari satu filosofi sederhana: membantu rakyat menghasilkan, bukan sekadar menerima.

Yang lebih menarik lagi, setiap proyek dievaluasi dengan sangat jujur.

Pada proyek pompanisasi di Pati misalnya, laporan mencatat kerusakan akibat banjir, kerusakan mesin, bahkan adanya penyelewengan oleh sebagian pengurus. Tidak ada upaya menutupi kegagalan. Semua dicatat sebagai pelajaran agar proyek berikutnya lebih baik.

Saat membaca halaman demi halaman itulah, saya melihat benang merah dari Salemba Raya 13 ke Istana Merdeka.

Hari ini Presiden Prabowo membentuk Koperasi Desa / Kelurahan Merah Putih. Delapan puluh tahun sebelumnya Prof. Soemitro menulis bahwa koperasi dan bank rakyat harus menjadi tulang punggung ekonomi desa.

Lima puluh tahun lalu, Lembaga Pembangunan sudah membangun koperasi peternak dan merancang koperasi simpan pinjam agar masyarakat desa memiliki modal sendiri.

Hari ini pemerintah menjalankan pompanisasi nasional untuk meningkatkan produksi pangan.

Lima puluh tahun lalu, Lembaga Pembangunan telah menjalankan proyek pompanisasi agar sawah rakyat dapat dipanen lebih dari sekali setahun.

Hari ini pemerintah mendorong penguatan peternakan rakyat.

Lima puluh tahun lalu, Lembaga Pembangunan membangun peternakan kambing, babi, lebah, dan ayam kampung sebagai sumber pendapatan masyarakat desa.

Hari ini pemerintah memperkuat layanan kesehatan hingga pelosok.

Lima puluh tahun lalu, Lembaga Pembangunan telah membangun poliklinik desa.

Hari ini pemerintah berbicara tentang hilirisasi, penciptaan lapangan kerja, dan ekonomi berbasis potensi lokal.

Lima puluh tahun lalu, Lembaga Pembangunan telah membangun bengkel desa, koperasi sepatu, pembibitan cengkeh, hingga proyek peningkatan mutu produksi batu bata.

Tentu saya tidak mengatakan bahwa kebijakan hari ini merupakan kelanjutan langsung dari Lembaga Pembangunan. Arsip ini tidak membuktikan itu.

Namun arsip ini memperlihatkan sesuatu yang jauh lebih menarik.

Sebuah kesinambungan cara berpikir.

Yang berubah hanyalah skalanya.

Dulu satu desa.

Sekarang satu negara.

Dulu satu koperasi.

Sekarang puluhan ribu koperasi.

Dulu satu proyek pompanisasi.

Sekarang program nasional.

Tetapi arah pandangnya terasa sama: pembangunan harus dimulai dari desa, memperkuat koperasi, meningkatkan produktivitas, memperbaiki irigasi, mengembangkan peternakan, menghadirkan layanan kesehatan, dan membangun ekonomi rakyat dari bawah.

Lalu saya kembali teringat satu kisah yang begitu menyentuh.

Pada 16 Desember 1969, Soe Hok Gie meninggal di Gunung Semeru.

Berbagai kesaksian menyebut ia mengenakan sepatu lars pinjaman Prabowo dalam pendakian terakhirnya.

Beberapa bulan kemudian Prabowo memasuki AKABRI.

Sementara itu, Lembaga Pembangunan tetap hidup, bereorganisasi, dan terus menjalankan proyek-proyek pembangunan desa sebagaimana tercatat dalam arsip-arsip yang kini saya baca.

Seorang sahabat gugur di gunung.

Seorang lainnya memilih jalan pengabdian sebagai prajurit.

Namun gagasan yang pernah mereka perjuangkan tampaknya tidak ikut berhenti.

Mungkin itulah makna sebenarnya dari benang merah.

Ia bukan sekadar kesamaan kebijakan.

Ia adalah kesinambungan sebuah gagasan yang melintasi tiga generasi: Soemitro Djojohadikusumo yang merumuskannya dalam disertasi tahun 1943, Prabowo muda yang mencoba mempraktikkannya melalui Lembaga Pembangunan pada awal 1970-an, Prabowo yang pernah menjadi Ketua Dewan Pembina Koperasi Unit Desa (KUD) dan Prabowo sebagai Presiden yang kini mewujudkannya dalam skala nasional.

Dan mungkin, untuk memahami mengapa Indonesia mengambil arah pembangunan seperti hari ini, kita perlu membaca kembali beberapa lembar arsip tua yang telah menunggu lebih dari setengah abad untuk ditemukan kembali.

Catatan Dirgayuza, 31 Juli 2026.

HIGHLIGHT

x|close