Ntvnews.id, Jakarta - Pagi ini saya bertemu dengan Prof. Yuhki Tajima, rektor Georgetown University School of Foreign Service (SFS) Asia Pacific di Jakarta.
Georgetown bukan universitas biasa. School of Foreign Service-nya selama puluhan tahun dikenal sebagai sekolah hubungan internasional dan kebijakan publik terbaik di dunia.
Saya bertanya kepadanya, mengapa Georgetown memilih membuka kampus di Indonesia? Bukankah banyak negara lebih kaya yang mampu membayar mahal agar universitas kelas dunia hadir di negaranya?
Jawaban Prof. Yuhki sangat menarik.
Ia mengatakan, Indonesia memiliki dua hal yang sangat dicari akademisi dunia: skala yang besar dan persoalan kronis yang sangat banyak.
Indonesia dengan lebih dari 280 juta penduduk adalah laboratorium kebijakan publik yang luar biasa. Di Indonesia, setiap solusi yang berhasil dapat mengubah kehidupan jutaan orang.
Justru karena masalahnya banyak — mulai dari pendidikan, kesehatan, kemiskinan, produktivitas, ketahanan pangan, hingga penciptaan lapangan kerja — Indonesia menjadi tempat yang ideal untuk menghasilkan riset yang benar-benar berdampak.
Pagi ini saya juga menyerahkan buku Presiden Solusi (Problem Solver) untuk menjadi koleksi Perpustakaan Georgetown University.
Buku tersebut mendokumentasikan puluhan persoalan kronis Indonesia beserta berbagai solusi yang diputuskan oleh Presiden Prabowo.
Saya kemudian menyadari, isi buku saya ini sebenarnya menjelaskan mengapa Georgetown datang ke Jakarta.
Georgetown tidak datang karena Indonesia sudah selesai membangun, tetapi karena Indonesia sedang menyelesaikan begitu banyak persoalan besar. Salah satunya, dan mungkin persoalan yang paling besar, adalah penyediaan lapangan kerja bagi anak muda.
Menurut Bank Dunia, sekitar 1,2 miliar anak muda di negara berkembang akan memasuki pasar kerja dalam sepuluh tahun ke depan, sementara dunia diperkirakan hanya mampu menciptakan 400 juta pekerjaan.
Kekurangan sekitar 800 juta lapangan kerja ini berpotensi memicu migrasi, konflik sosial, dan instabilitas politik.
Indonesia berada tepat di tengah tantangan tersebut. Kita sedang menikmati bonus demografi, tetapi bonus itu bisa berubah menjadi bencana demografi apabila ekonomi tidak tumbuh cukup cepat untuk menciptakan jutaan pekerjaan baru.
Karena itu, investasi dan industrialisasi menjadi sangat penting. Kehadiran Danantara harus dipahami sebagai upaya mempercepat investasi pada sektor-sektor produktif agar lahir lebih banyak lapangan kerja bagi generasi muda.
Namun investasi saja tidak cukup. Anak muda membutuhkan pintu pertama menuju dunia kerja.
Hari ini, Kamis 16 Juli 2026, tepat pukul 13.00 WIB, Program Magang Nasional 2026 melalui MagangHub mulai membuka proses pemilihan lowongan bagi peserta yang memenuhi syarat.
Tahun ini, program ini akan membuka kesempatan bagi sekitar 150.000 peserta.
Saya percaya pada pentingnya program magang karena saya pernah mengalaminya.
Ketika kuliah di Melbourne, saya magang di ABC Radio Australia dan di Parliament of Victoria. Dari dua pengalaman itulah saya belajar cara berpikir, bekerja, dan memahami bagaimana komunikasi serta kebijakan publik dijalankan.
Pengalaman magang saya membentuk perjalanan karier saya hingga hari ini.
Tahun lalu saya menerima 9 peserta MagangHub di yayasan yang saya pimpin, Yayasan Pendidikan Kader Bangsa Indonesia (YPKBI). Mereka kami libatkan dalam pekerjaan nyata, mulai dari riset hingga pengembangan program pendidikan.
Hasilnya, 3 dari 9 peserta kini telah menjadi karyawan tetap di YPKBI.
Pulang dari pertemuan pagi ini, saya membawa satu pelajaran penting.
Banyak negara mampu membeli gedung yang megah atau memberikan insentif besar kepada universitas terbaik dunia.
Tetapi skala dan tantangan seperti yang dimiliki Indonesia tidak bisa dibeli.
Dan jika Indonesia berhasil mengubah persoalan menjadi solusi, bonus demografi menjadi jutaan pekerjaan, serta riset menjadi kebijakan yang berdampak, maka Indonesia tidak hanya akan menjadi negara yang lebih maju — tetapi juga menjadi tempat lahirnya berbagai solusi yang dapat dipelajari dan direplikasi dunia.
Catatan Dirgayuza, 16 Juli 2026
Asisten Khusus Presiden Republik Indonesia, Dirgayuza Setiawan bersama rektor Georgetown University School of Foreign Service (SFS) Asia Pacific di Jakarta. (Dokumentasi Istimewa)