Konflik AS-Iran Menelan Biaya Fantastis, Ini Jumlahnya

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 23 Jul 2026, 10:20
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Ilustrasi - Perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran. Ilustrasi - Perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran. (Antara)

Ntvnews.id, Taheran - Konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran terus meningkat, tidak hanya di medan perang tetapi juga merambah ke jalur perdagangan internasional. Di tengah saling melancarkan serangan udara, kedua negara kini berselisih mengenai keamanan pelayaran di Selat Hormuz, salah satu rute distribusi minyak paling vital di dunia.

Dilansir dari DW, Kamis, 23 Juli 2026, Pemerintah AS menuduh Iran berupaya menguasai lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz dengan mengarahkan kapal-kapal komersial ke jalur yang berada dekat wilayah pantainya serta membebankan biaya kepada kapal yang melintas. Serangan terhadap sejumlah kapal tanker dalam beberapa hari terakhir juga meningkatkan kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi global.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menilai tindakan tersebut dapat menjadi preseden yang berbahaya bagi kebebasan pelayaran internasional.

"Jika kita menciptakan preseden bahwa sebuah negara dapat memutuskan untuk mengendalikan jalur pelayaran internasional, memungut biaya, dan menghancurkan kapal yang menolak membayar, maka itu akan menjadi preseden yang sangat berbahaya," kata Rubio.

Tekanan terhadap perdagangan dunia semakin besar setelah kelompok Houthi di Yaman pada Selasa, 21 Juli 2026 mengumumkan blokade laut terhadap kapal-kapal yang berkaitan dengan Arab Saudi di Selat Bab el-Mandeb. Kelompok yang didukung Iran tersebut menyatakan akan menyerang kapal yang mengangkut maupun membongkar minyak Saudi, sehingga ancaman terhadap dua jalur pelayaran strategis dunia terjadi secara bersamaan.

Baca Juga: Iran Serang Fasilitas Militer AS di Kuwait dengan Drone

Menanggapi hal tersebut, Presiden AS Donald Trump menegaskan pemerintahannya siap bertindak apabila Houthi benar-benar mengganggu aktivitas pelayaran di Laut Merah.

"Sejauh ini itu belum terjadi. Jika hal seperti itu terjadi, kami akan menanganinya," ujar Trump.

Gangguan di Selat Hormuz dan Bab el-Mandeb memicu kekhawatiran terhadap rantai pasok global sekaligus mendorong harga minyak mentah Brent kembali menembus kisaran US$90 atau sekitar Rp1,61 juta per barel.

ASEAN Ikut Mencermati Dampak Konflik

Situasi di Timur Tengah turut menjadi perhatian dalam pertemuan para Menteri Luar Negeri ASEAN di Manila, Rabu, 22 Juli 2026. Dalam forum tersebut, Rubio kembali mengingatkan bahwa upaya Iran mengendalikan Selat Hormuz dapat mengancam kebebasan pelayaran internasional.

"Jika kita menciptakan preseden bahwa sebuah negara dapat memutuskan untuk mengendalikan jalur pelayaran internasional, memungut biaya, dan menghancurkan kapal yang menolak membayar, maka itu akan menjadi preseden yang sangat berbahaya dan bisa terulang di kawasan lain, termasuk kawasan ini," tegas Rubio.

Menurutnya, apabila tindakan tersebut dibiarkan, negara lain berpotensi melakukan hal serupa di jalur pelayaran internasional kawasan Indo-Pasifik. Karena itu, Washington menegaskan komitmennya untuk terus menjaga keamanan maritim bersama negara-negara ASEAN meski saat ini fokus pemerintah AS masih tertuju pada konflik dengan Iran.

Di sela pertemuan tersebut, Rubio juga mengikuti forum para menteri luar negeri negara-negara Quad yang terdiri atas Amerika Serikat, Australia, India, dan Jepang. Keempat negara kembali menegaskan pentingnya menjaga kebebasan navigasi di kawasan Indo-Pasifik.

Pakistan Kembali Ambil Peran Mediasi

Foto yang diambil pada 20 April 2026 ini menunjukkan bendera nasional Iran berkibar di sebuah bangunan yang rusak akibat serangan AS-Israel di Teheran, Iran.  <b>(Antara)</b> Foto yang diambil pada 20 April 2026 ini menunjukkan bendera nasional Iran berkibar di sebuah bangunan yang rusak akibat serangan AS-Israel di Teheran, Iran. (Antara)

Di tengah meningkatnya ketegangan, Pakistan kembali berupaya menjadi penengah antara Washington dan Teheran. Menteri Dalam Negeri Iran Eskandar Momeni mengunjungi Islamabad pada Selasa, 21 Juli 2026 dan menggelar pertemuan dengan Perdana Menteri Shehbaz Sharif, Menteri Dalam Negeri Mohsin Naqvi, serta Panglima Angkatan Darat Jenderal Asim Munir.

Seorang diplomat menyebut Pakistan kembali berupaya mencegah konflik berkembang menjadi perang yang lebih luas.

"Pakistan kembali mulai memainkan peran sebagai mediator untuk menghentikan perang agar tidak meluas."

Menurut sumber intelijen, Islamabad juga mendorong Iran agar kembali membuka Selat Hormuz sebagai bagian dari upaya meredakan ketegangan.

Baca Juga: Iran Terus Luncurkan Serangan Rudal ke Kuwait dan Bahrain, Sirene Meraung-raung

Pada saat yang sama, Pakistan mengajukan permohonan fasilitas stabilisasi devisa senilai US$10 miliar atau sekitar Rp179,3 triliun kepada Departemen Keuangan AS. Dana tersebut diharapkan dapat memperkuat cadangan devisa, menjaga stabilitas nilai tukar rupee, serta mengurangi ketergantungan terhadap pembiayaan multilateral di tengah program reformasi ekonomi yang didukung Dana Moneter Internasional (IMF).

Sementara itu, sejumlah negara di kawasan seperti Yordania, Bahrain, dan Kuwait meningkatkan kewaspadaan menyusul serangan terbaru Amerika Serikat terhadap Iran.

AS Bersiap Hadapi Konflik Berkepanjangan

Arsip foto - Presiden Amerika Serikat Donald Trump <b>(Antara)</b> Arsip foto - Presiden Amerika Serikat Donald Trump (Antara)

Meski jalur diplomasi masih terus ditempuh, Amerika Serikat menunjukkan kesiapan menghadapi konflik yang lebih panjang. Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengungkapkan kepada Senat bahwa perang melawan Iran hingga saat ini telah menelan biaya sekitar US$37,5 miliar atau setara Rp672 triliun.

Pentagon juga mengajukan tambahan anggaran kepada Kongres guna melanjutkan operasi militer sekaligus mengisi kembali persediaan persenjataan.

Pemerintahan Trump menegaskan tekanan terhadap Iran akan terus dilakukan selama Teheran tidak mengubah sikapnya. Di sisi lain, Trump menyatakan AS akan membantu Lebanon menjaga stabilitas di tengah meningkatnya ketegangan kawasan.

Dalam pertemuan dengan Presiden Lebanon Joseph Aoun, Trump turut mengumumkan rencana pembukaan kembali penerbangan langsung antara Amerika Serikat dan Lebanon untuk pertama kalinya sejak 1985. Langkah tersebut diharapkan dapat mendukung pemulihan ekonomi Lebanon setelah bertahun-tahun dilanda konflik.

Trump juga kembali memperingatkan Houthi agar tidak mengganggu jalur pelayaran internasional di Laut Merah. Menurutnya, Amerika Serikat siap mengambil tindakan apabila kelompok tersebut benar-benar menutup akses pelayaran.

Hingga kini, berbagai upaya diplomasi belum menunjukkan tanda-tanda bahwa konflik AS dan Iran akan segera berakhir. Ancaman terhadap Selat Hormuz dan Bab el-Mandeb pun diperkirakan tetap menjadi salah satu risiko utama bagi perdagangan internasional, pasokan energi global, serta stabilitas ekonomi dunia.

x|close