Ntvnews.id, Jakarta - Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menilai Bio-TCV, vaksin tifoid konjugat pertama yang diproduksi di Indonesia melalui kolaborasi Universitas Indonesia (UI) dan Bio Farma, menjadi salah satu upaya penting dalam mendukung ekosistem One Health untuk mengurangi ancaman resistensi antimikroba.
Kepala BPOM Taruna Ikrar mengatakan di Jakarta, Jumat, 17 Juli 2026, berdasarkan data Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR) Kementerian Kesehatan, jumlah kasus suspek tifoid sepanjang 2025 mencapai 914 ribu. Sementara hingga pekan ke-16 tahun 2026, jumlahnya telah mencapai 266.869 kasus.
"Angka tersebut menempatkan tifoid dalam 5 besar penyakit tertinggi dalam SKDR," katanya.
Taruna menjelaskan tingginya angka infeksi bakteri Salmonella typhi berdampak pada meningkatnya penggunaan antibiotik di masyarakat. Menurut dia, kehadiran vaksin tifoid dapat menjadi langkah pencegahan sejak dini terhadap demam tifoid akibat infeksi Salmonella typhi sekaligus membantu menekan risiko munculnya bakteri yang kebal terhadap antibiotik.
Baca Juga: BPOM Kawal Keamanan Vaksin Bio-TCV Produksi Dalam Negeri untuk Perkuat Ketahanan Kesehatan
"Kemandirian obat dan vaksin merupakan bagian dari ketahanan nasional. Karena itu kita harus memperkuat riset dan inovasi agar Indonesia mampu menghasilkan produk kesehatan karya anak bangsa yang memenuhi standar global," katanya.
BPOM, lanjut Taruna, berkomitmen mengawal seluruh proses pengembangan vaksin tersebut agar manfaatnya dapat dirasakan masyarakat. Pengawasan dilakukan sejak tahap penelitian hingga produk beredar.
Ia menjelaskan BPOM turut mengawasi pelaksanaan uji klinik yang seluruhnya dilakukan di Indonesia melalui kerja sama Bio Farma dan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI). Selain itu, BPOM memastikan penerapan standar Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) di fasilitas produksi, memantau sistem rantai dingin (cold chain) dalam distribusi, hingga menjalankan farmakovigilans.
Berdasarkan data e-was.pom.go.id periode Januari 2025 hingga Juli 2026, vaksin Bio-TCV telah diproduksi sebanyak dua bets atau 84.719 vial. Sementara itu, data Bio Farma per Senin, 13 Juli 2026, menunjukkan total produksi telah mencapai 208.235 dosis, dengan sebanyak 30.875 dosis sudah didistribusikan.
Baca Juga: BPOM dan TP PKK Bersinergi Tingkatkan Literasi Keamanan Obat serta Pangan Keluarga
"Guna memastikan konsistensi mutu di lapangan, unit pelaksana teknis (UPT) BPOM pada tahun 2026 juga telah melakukan sampling produk untuk diuji kembali di laboratorium Pusat Pengembangan Pengujian Obat dan Makanan Nasional (PPPOMN)," katanya.
Direktur Utama PT Bio Farma Shadiq Akasya mengatakan pengembangan Bio-TCV menjadi bukti bahwa kolaborasi antara berbagai pihak mampu menghasilkan inovasi kesehatan nasional yang siap dimanfaatkan masyarakat.
"Bio-TCV bukan sekadar produk baru, tetapi hasil kolaborasi panjang yang menunjukkan Indonesia mampu mengembangkan vaksin sendiri. Kami berharap ke depan vaksin ini dapat mendukung program imunisasi nasional," katanya.
Sementara itu, Ketua Panitia Medical Expo FKUI 2026 Mohammad Kurniawan menyebut Medical Expo menjadi ajang yang mempertemukan kalangan akademisi, pemerintah, industri, dan masyarakat dalam memperkuat ekosistem inovasi kesehatan di Indonesia.
Melalui kolaborasi tersebut, ia berharap semakin banyak hasil penelitian yang dapat dihilirisasi menjadi produk kesehatan, sehingga mampu memperkuat ketahanan kesehatan nasional sekaligus meningkatkan daya saing Indonesia di tingkat global.
(Sumber: Antara)
Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Taruna Ikrar di Jakarta, Kamis, 16 Juli 2026. (Antara)