Gelombang Panas Panggang AS, Suhu Tembus 43 Derajat Celsius

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 14 Jul 2026, 08:16
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Seorang wanita berjalan di bawah sinar matahari saat gelombang panas dengan suhu mendekati 40 derajat Celsius di Duisburg, Jerman, Rabu, 24 Juni 2026. Seorang wanita berjalan di bawah sinar matahari saat gelombang panas dengan suhu mendekati 40 derajat Celsius di Duisburg, Jerman, Rabu, 24 Juni 2026. (Antara)

Ntvnews.id, Washington D.C - Gelombang panas ekstrem kembali melanda wilayah tengah Amerika Serikat (AS) pada Minggu, 12 Juli 2026 waktu setempat. Kondisi cuaca tersebut memicu pecahnya rekor suhu tertinggi di sejumlah wilayah, mulai dari kawasan dataran utara hingga Pegunungan Rocky.

Dilansir dari AFP, Selasa, 14 Juli 2026, berdasarkan data awal Layanan Cuaca Nasional AS, suhu udara di Salt Lake City, ibu kota Negara Bagian Utah, serta Billings, kota terbesar di Montana, mencapai 109 derajat Fahrenheit atau sekitar 43 derajat Celsius.

Catatan tersebut menjadi suhu tertinggi sepanjang sejarah di kedua kota sejak pencatatan dilakukan lebih dari 150 tahun lalu.

Rekor terbaru itu melampaui catatan sebelumnya, yakni 107 derajat Fahrenheit (41 derajat Celsius) di Salt Lake City dan 108 derajat Fahrenheit (42 derajat Celsius) di Billings.

Cuaca panas ekstrem juga menyulitkan proses pemadaman kebakaran hutan besar yang saat ini terjadi di wilayah Colorado dan Utah.

Layanan Cuaca Nasional memperkirakan suhu tinggi masih akan bertahan di sebagian besar wilayah tengah Amerika Serikat hingga Selasa, 14 Juli 2026 waktu setempat.

Baca Juga: Korea Selatan Keluarkan Peringatan Darurat Gelombang Panas

Sepekan sebelumnya, kawasan timur AS juga diterjang gelombang panas yang mendorong suhu udara mencapai sekitar 104 derajat Fahrenheit atau setara 40 derajat Celsius di New York dan Philadelphia.

Fenomena cuaca panas ekstrem di AS terjadi di tengah meningkatnya frekuensi dan intensitas gelombang panas di berbagai belahan dunia. Sejumlah ilmuwan menyebut kondisi tersebut dipengaruhi oleh perubahan iklim yang sebagian besar dipicu pembakaran batu bara, minyak, dan gas, serta meningkatnya emisi gas rumah kaca.

Sementara itu, Eropa Barat baru saja mencatat bulan Juni terpanas sepanjang sejarah. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan gelombang panas di kawasan tersebut telah menyebabkan lebih dari 1.300 orang meninggal dunia.

TERKINI

Malapetaka di Bar yang Tewaskan 27 Orang

Luar Negeri Selasa, 14 Jul 2026 | 08:16 WIB

Gelombang Panas Panggang AS, Suhu Tembus 43 Derajat Celsius

Luar Negeri Selasa, 14 Jul 2026 | 08:16 WIB

Jerman Danai Pembelian 50.000 Drone Tempur untuk Ukraina

Luar Negeri Selasa, 14 Jul 2026 | 08:15 WIB

Drone Rusia Jatuh di Wilayah Moldova

Luar Negeri Selasa, 14 Jul 2026 | 08:00 WIB

VIDEO: Ngerinya Api Hantam Kedaton Bandar Lampung

Viral Selasa, 14 Jul 2026 | 07:28 WIB

Prabowo Dijadwalkan Buka Muktamar NU ke-35 di Jombang

Nasional Selasa, 14 Jul 2026 | 06:28 WIB

Dubes Pastikan Saudi Aman Bagi Jamaah di Tengah Eskalasi AS-Iran

Luar Negeri Selasa, 14 Jul 2026 | 05:33 WIB
Load More
x|close