Ntvnews.id, Jakarta - Israel menyerahkan informasi intelijen kepada Amerika Serikat terkait dugaan rencana baru dan lebih spesifik dari Iran untuk membunuh Presiden AS Donald Trump. Informasi tersebut disampaikan pada pekan ini dan memicu kekhawatiran baru di tengah meningkatnya ketegangan antara Washington dan Teheran yang berpotensi kembali memicu konflik berskala besar.
Laporan mengenai intelijen dari Israel itu pertama kali diungkap sejumlah media Amerika Serikat pada Kamis (9/7) waktu setempat. CNN, mengutip sumber anonim yang mengetahui persoalan tersebut, menyebut peringatan dari Israel berbeda dengan informasi yang sebelumnya telah dimiliki pemerintah AS.
Menurut laporan tersebut, Washington memang telah memantau berbagai laporan intelijen mengenai kemungkinan adanya ancaman terhadap Trump. Namun, informasi yang disampaikan Israel kali ini disebut mengarah pada rencana yang baru sekaligus lebih spesifik.
"Washington telah memantau "serangkaian laporan intelijen" tentang kemungkinan rencana untuk membunuh Trump, tetapi peringatan dari Israel itu baru dan menyangkut rencana spesifik," lapor CNN, mengutip sumber anonim yang mengetahui masalah tersebut, seperti dilansir kantor berita AFP, Jumat (10/7/2026).
Laporan senada juga diterbitkan Wall Street Journal. Mengutip sumber anonim, media tersebut menyebut informasi intelijen yang dibagikan Israel mengindikasikan adanya plot yang tergolong baru.
Baca Juga: KPK Ungkap Total 18 Orang Diamankan dalam OTT Bupati Sukoharjo
Di tengah munculnya informasi tersebut, hubungan Amerika Serikat dan Iran memang masih dibayangi ketegangan yang telah berlangsung selama bertahun-tahun. Teheran sebelumnya berulang kali menyatakan akan membalas Presiden Donald Trump atas perintahnya membunuh Jenderal Iran Qassem Soleimani, Komandan Pasukan Quds Korps Garda Revolusi Iran (IRGC), pada Januari 2020.
Trump sendiri mengaku menyadari bahwa dirinya menjadi salah satu target Iran. Dalam pernyataan terbarunya, ia mengatakan namanya selalu masuk dalam daftar sasaran yang dimiliki Teheran.
"Mereka ingin menyingkirkan pemimpin AS, saya. Saya ada di setiap daftar. Saya melihat pagi ini bahwa saya ada di setiap daftar mereka. Dan sejauh ini saya rasa saya sedikit beruntung, tetapi mungkin keberuntungan itu tidak akan bertahan lama," kata Trump kepada wartawan di atas pesawat kepresidenan Air Force One saat ia terbang pulang dari KTT NATO di Turki pada hari Rabu lalu.
Pernyataan Trump tersebut semakin memperkuat sorotan terhadap ancaman keamanan yang dihadapinya. Sebelumnya, ia juga telah beberapa kali menjadi sasaran percobaan pembunuhan.
Salah satu insiden paling serius terjadi pada 2024 ketika Trump ditembak saat menghadiri acara kampanye. Dalam kejadian itu, peluru sempat mengenai bagian telinganya sebelum petugas keamanan berhasil mengevakuasinya.
Arsip foto Presiden Amerika Serikat Donald J. Trump. /ANTARA/Anadolu/pri. (Antara)