Ntvnews.id, Tel Aviv - Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menegaskan negaranya siap kembali melancarkan operasi militer terhadap Iran setelah serangan terbaru Amerika Serikat ke negara tersebut, meski kedua pihak sebelumnya telah menyepakati gencatan senjata.
Katz mengatakan Israel bahkan siap melanjutkan konflik dengan Iran "dengan kekuatan yang lebih besar lagi" apabila situasi mengharuskannya.
"Militer telah siap dan berada dalam kondisi siaga untuk melanjutkan pertempuran, guna kembali merebut keunggulan udara dan melancarkan serangan lagi... ke Iran, demi menghilangkan berbagai ancaman, bahkan untuk ketiga kalinya jika diperlukan," kata Katz dalam sebuah upacara militer pada Kamis seperti dikutip dari AFP, Jumat 10 Juli 2026.
"Jika kami harus kembali, kami akan kembali dengan kekuatan yang lebih besar lagi," tambahnya.
Dalam kesempatan yang sama, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan dua operasi militer sebelumnya telah melemahkan Iran secara signifikan. Namun, ia menegaskan konflik dengan Teheran belum benar-benar berakhir.
"Poros Iran kini berada pada titik terlemahnya, sementara Israel berada pada titik terkuatnya," ujarnya.
"Kami telah membuktikan bahwa jangkauan panjang Angkatan Udara Israel mampu menjangkau wilayah mana pun, mulai dari Yaman hingga Iran. Namun, kami juga harus mengakui bahwa operasi ini belum berakhir," papar sang PM menambahkan.
Perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran dimulai pada 28 Februari, ketika kedua negara melancarkan serangan udara besar-besaran yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran, Ayatollah Ali Khamenei, bersama sejumlah pejabat tinggi lainnya.
Operasi tersebut menjadi aksi militer kedua Israel terhadap Iran setelah perang selama 12 hari yang berlangsung pada Juni 2025.
Baca Juga: Iran Tegaskan Teheran Tak Akan Berdamai dengan AS dan Tolak Akui Israel
Meski Amerika Serikat dan Iran telah menandatangani nota kesepahaman (MoU) serta menyepakati gencatan senjata untuk mengakhiri konflik, Washington kembali melancarkan serangan ke sejumlah wilayah di selatan Iran dalam dua hari terakhir.
Amerika Serikat menyatakan serangan itu dilakukan sebagai "hukuman" karena Iran dinilai terus melanggar kesepakatan dengan menyerang kapal-kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz.
Di sisi lain, Iran menyatakan tindakan terhadap kapal-kapal komersial dilakukan karena pelayaran mereka berada di luar koridor yang telah ditetapkan Teheran. Pemerintah Iran juga menegaskan tetap memiliki hak mengontrol Selat Hormuz sebagai salah satu jalur utama perdagangan minyak dunia.
Teheran mengecam serangan terbaru Amerika Serikat dan menilai Washington telah melanggar MoU maupun kesepakatan gencatan senjata. Iran pun berjanji akan memberikan balasan yang lebih keras dengan menargetkan fasilitas militer AS di kawasan Timur Tengah.
Situasi tersebut memunculkan kekhawatiran akan pecahnya kembali perang yang berpotensi meluas ke negara-negara Arab lain yang menjadi lokasi pangkalan militer Amerika Serikat.
Selama proses perundingan antara Washington dan Teheran berlangsung, Israel diketahui tidak mendukung upaya normalisasi hubungan maupun penandatanganan MoU untuk mengakhiri perang. Di tengah negosiasi tersebut, Israel beberapa kali melakukan operasi militer yang dinilai berpotensi mengganggu proses diplomasi, termasuk menyerang wilayah Lebanon selatan yang menjadi basis kelompok Hizbullah, sekutu utama Iran.
Padahal, keberlangsungan gencatan senjata antara Israel dan Hizbullah di Lebanon menjadi salah satu syarat penting dalam proses perundingan antara Amerika Serikat dan Iran.
Ilustrasi - Siluet tentara dengan latar belakang bendera Iran dan bendera Israel (Antara)