Ntvnews.id, Moskow – Ketua partai sayap kanan Prancis, Marine Le Pen, menempati posisi teratas dalam survei terbaru menjelang Pemilihan Presiden Prancis 2027. Hasil jajak pendapat Toluna Harris Interactive yang dilakukan atas permintaan stasiun televisi Metropole 6 dan jaringan radio RTL menunjukkan Le Pen unggul atas para pesaingnya.
Survei yang dipublikasikan pada Rabu, 8 Juli 2026 memperkirakan Marine Le Pen memperoleh dukungan sekitar 34 hingga 36 persen pada putaran pertama pemungutan suara. Dalam berbagai simulasi, ia juga diproyeksikan tetap memimpin pada putaran kedua.
Jika mantan Perdana Menteri Prancis Edouard Philippe dan Gabriel Attal sama-sama maju sebagai kandidat, Le Pen diperkirakan meraih sekitar 35 persen suara.
Sementara itu, pemimpin partai sayap kiri La France Insoumise (LFI), Jean-Luc Melenchon, diprediksi memperoleh dukungan sebesar 16 persen.
Dalam skenario lain, apabila Gabriel Attal memutuskan mundur dan memberikan dukungan kepada Edouard Philippe, Philippe diperkirakan meraih 20 persen suara. Pada simulasi tersebut, Jean-Luc Melenchon tetap berada di angka 16 persen, sedangkan Marine Le Pen diproyeksikan memperoleh 34 persen suara.
Hasil survei juga menunjukkan Marine Le Pen masih unggul atas para pesaingnya apabila pemilihan berlanjut ke putaran kedua.
Jajak pendapat tersebut dilakukan pada 7 hingga 8 Juli 2026 dengan melibatkan 1.837 responden.
Perkembangan ini muncul setelah Pengadilan Banding Paris pada Selasa, 7 Juli 2026 mengurangi hukuman Marine Le Pen dalam perkara penggelapan dana Parlemen Eropa. Larangan mencalonkan diri dalam pemilihan umum yang sebelumnya dijatuhkan selama lima tahun dipangkas menjadi 45 bulan, dengan 30 bulan di antaranya ditangguhkan.
Baca Juga: Kebakaran Hutan di Prancis Meluas, 12 Ribu Warga Dievakuasi
Dengan putusan tersebut, Marine Le Pen tetap memenuhi syarat untuk mencalonkan diri dalam Pemilihan Presiden Prancis 2027.
Dalam perkara yang sama, Le Pen juga dijatuhi hukuman penjara selama tiga tahun. Dua tahun di antaranya ditangguhkan, sedangkan satu tahun sisanya harus dijalani dengan mengenakan gelang elektronik. Ia juga dikenai denda sebesar 100.000 euro atau sekitar Rp2 miliar.
Politikus tersebut telah memastikan akan maju sebagai calon presiden dan mengajukan kasasi ke Mahkamah Kasasi Prancis atas putusan kasus penggelapan dana tersebut.
Proses kasasi itu menangguhkan pelaksanaan putusan pengadilan sebelumnya. Dengan demikian, Marine Le Pen berpeluang menjalani sebagian besar masa kampanye Pilpres 2027 tanpa harus mengenakan gelang elektronik.
(Sumber: Antara)
Politikus partai sayap kanan Prancis, Reli Nasional, Marine Le Pen, melambaikan tangan ke arah pendukungnya saat kampanye Pilpres 2022 usai mengunjungi Berck-sur-Mer menjelang putaran kedua Pilpres Prancis 2022 pada Jumat, 22 April 2022. (Antara)