Ntvnews.id, Jakarta - Badan Riset dan Inovasi Nasional menegaskan pengembangan vaksin menjadi salah satu fondasi penting dalam mewujudkan kedaulatan kesehatan nasional. Karena itu, kolaborasi antara Universitas Indonesia dan Tsinghua University dalam mengembangkan vaksin dengue berbasis mRNA diharapkan mampu mendorong lahirnya inovasi vaksin lain di Indonesia.
Kepala BRIN, Arif Satria, mengatakan peluncuran prototipe vaksin dengue berbasis mRNA bukan sekadar seremoni, melainkan bukti nyata keberhasilan kolaborasi internasional yang didukung riset berkualitas dan komitmen tinggi untuk menghasilkan solusi bagi tantangan kesehatan nasional.
"Melalui agenda ini, kita ingin mengembangkan kapasitas Indonesia untuk mengembangkan teknologi vaksin di dalam negeri. Mempercepat (implementasinya) dalam aplikasi dan praktik, dan membangun ekosistem inovasi nasional yang resilien," kata Arif di Jakarta, Rabu, 8 Juli 2026.
Ia menjelaskan BRIN saat ini terus mempercepat pengembangan berbagai vaksin generasi baru, termasuk untuk penyakit tuberkulosis (TB), dengue, dan influenza. Upaya tersebut dilakukan melalui kolaborasi lintas disiplin guna memperkuat inovasi dan penemuan di bidang kesehatan.
Baca Juga: Indonesia–China Perkuat Kerja Sama Vaksin HPV dan Pengembangan Dalam Negeri
Menurut Arif, BRIN juga membuka peluang kerja sama melalui skema pendanaan riset yang kompetitif, baik untuk penelitian praklinis maupun klinis. Selain itu, lembaga tersebut menyediakan akses terhadap berbagai infrastruktur riset bagi perguruan tinggi, industri kesehatan, serta mitra internasional.
Dalam pengembangan vaksin, BRIN turut bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), kalangan industri, perguruan tinggi, serta mitra global untuk memastikan vaksin yang dihasilkan memenuhi aspek keamanan, efektivitas, dan dapat diakses masyarakat.
Rektor UI Heri Hermansyah ketika menandatangani kerja sama dengan Tsinghua University. (Antara)
"Tolok ukur kesuksesan yang sesungguhnya adalah kemampuan kita untuk memajukan prototipe menjanjikan ini melalui studi preklinis, uji klinis, produksi berskala industri yang ketat, dan pada akhirnya memastikan vaksin-vaksin inovatif bisa diakses oleh orang-orang yang paling membutuhkan," kata Arif.
Ia berharap peluncuran prototipe tersebut mampu meningkatkan investasi pada sektor riset dan pengembangan sekaligus memperkuat semangat kolaborasi berbagai pihak agar Indonesia dapat menjadi salah satu kontributor vaksin terpercaya di tingkat global.
Baca Juga: BPOM Dorong Kolaborasi dan Penguatan Regulasi Vaksin di World Health Assembly ke-79
"Pengembangan vaksin bukan semata pencapaian satu laboratorium atau institusi. Itu adalah puncak dari ekosistem inovasi terintegrasi, di mana riset dasar, teknologi mutakhir, sains klinis, kapasitas produksi, regulasi yang unggul, pendanaan, dan kolaborasi internasional bersatu untuk menjawab satu tantangan masyarakat yang paling mendesak," kata Arif.
(Sumber: Antara)
Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria dalam kegiatan Open Talk BRIN Goes to Global Recognition and Nobel Prize bertajuk “BRIN Menjemput Talenta Riset: Dari Sekolah hingga Panggung Dunia” di Jakarta, Senin (20/4/2026). ANTARA/HO-B (Antara)