BRIN: Indonesia Berpeluang Jadi Pemimpin Industri Antariksa Berkat Posisi Strategis

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 8 Jul 2026, 16:36
thumbnail-author
Jihan Dwicahya
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria dalam perayaan 50 tahun Jakarta, Rabu, 8 Juli 2026. Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria dalam perayaan 50 tahun Jakarta, Rabu, 8 Juli 2026. (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria menilai Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi salah satu pemimpin industri antariksa sekaligus memperkuat kedaulatan negara di ruang angkasa.

Menurut Arif, pengembangan sektor antariksa menjadi perhatian pemerintah dan telah masuk dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2025–2045 karena industri tersebut diproyeksikan terus berkembang di tingkat global.

"Indonesia sesungguhnya memiliki modal yang tidak dimiliki banyak negara yaitu posisi geografis di sekitar garis khatulistiwa. Keunggulan ini yang memberikan efisensi peluncuran (ke luar angkasa) yang lebih tinggi sehingga menjadikan Indonesia memiliki potensi strategis sebagai salah satu pusat kegiatan peluncuran satelit di kawasan," kata Satria dalam perayaan 50 tahun satelit Indonesia di Jakarta, Rabu, 8 Juli 2026.

Ia menjelaskan, RPJPN menetapkan tiga dimensi utama dalam pengembangan industri antariksa nasional, yakni space economy, space sustainability, dan space defense. Ketiga aspek tersebut dinilai akan menentukan daya saing Indonesia di sektor antariksa pada masa mendatang.

Baca JugaBRIN Targetkan Satelit Indonesia Diluncurkan dari India pada Januari 2027

Pada dimensi space economy, pemerintah mendorong industri antariksa agar mampu menciptakan sumber pertumbuhan ekonomi baru melalui pengembangan manufaktur satelit, layanan peluncuran, aplikasi berbasis data antariksa, hingga berbagai industri hilir.

Sementara itu, aspek space sustainability difokuskan pada upaya menjaga keberlanjutan ruang angkasa. Menurut Arif, meningkatnya aktivitas peluncuran satelit di dunia juga diikuti bertambahnya sampah antariksa atau debris yang perlu mendapat perhatian.

Adapun pada dimensi space defense, penguasaan teknologi dan aset strategis di ruang angkasa dipandang penting untuk memperkuat ketahanan serta keamanan nasional.

Arif menilai ketiga dimensi tersebut dapat dikembangkan Indonesia berkat letak geografisnya yang berada di sekitar garis khatulistiwa. Posisi tersebut memberikan keuntungan dalam proses peluncuran satelit sekaligus membuka peluang lahirnya berbagai aktivitas ekonomi baru di sektor antariksa.

Baca JugaBRIN Siapkan Rumah Inovasi Daerah untuk Dukung Ekosistem Riset yang Berdampak

"Keunggulan geografis ini harus kita transformasikan menjadi keunggulan teknologi, keunggulan ekonomi, dan keunggulan geopolitik," kata Satria.

Untuk mendukung target tersebut, BRIN berkomitmen memanfaatkan keunggulan geografis Indonesia melalui penguatan riset sekaligus mendorong lahirnya inovasi dan pengembangan sumber daya manusia yang sesuai dengan kebutuhan industri antariksa.

"BRIN tidak hanya membangun kapasitas riset, tetapi juga mendorong tumbuhnya ekosistem industri antariksa nasional yang mampu menciptakan investasi, lapangan kerja berketerampilan tinggi, meningkatkan daya saing industri nasional serta memperkuat posisi Indonesia dalam rantai nilai ekonomi antariksa global," kata Satria.

(Sumber: Antara)

x|close