Ntvnews.id, Moskow - Pemerintah Rusia memperingatkan bahwa ancaman Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky terhadap Belarus harus dipandang serius.
Dilansir dari TASS, Kamis, 2 Juli 2026, peringatan tersebut disampaikan oleh Wakil Ketua Dewan Federasi Rusia, Konstantin Kosachev, dalam wawancara dengan kantor berita Tass yang dipublikasikan pada 1 Juli.
Dalam pernyataannya, Kosachev menilai Presiden Zelensky sebagai sosok pemimpin yang sulit diprediksi, sehingga setiap pernyataan dan ancaman yang disampaikannya terhadap Belarus tidak dapat dianggap remeh.
Sebelumnya, Presiden Zelensky menyatakan kesiapannya untuk memerintahkan penghancuran sejumlah fasilitas dan peralatan militer yang menurut Kyiv ditempatkan di wilayah Belarus dekat perbatasan Ukraina, apabila fasilitas tersebut tidak dibongkar dalam waktu satu pekan.
Menurut Kosachev, Zelensky kemungkinan memandang Belarus sebagai target yang lebih mudah karena ukuran wilayahnya yang relatif kecil serta letaknya yang berbatasan langsung dengan Ukraina.
Para pejabat Rusia menegaskan bahwa ancaman yang dilontarkan Presiden Ukraina tersebut harus ditanggapi "dengan sangat serius."
Kosachev juga menegaskan bahwa setiap tindakan militer Ukraina terhadap Belarus akan mendapat respons gabungan dari Rusia dan Belarus sebagai negara sekutu.
"Tentu saja. Kami adalah anggota Uni Negara-Negara dan sekutu militer. Siapa pun yang membahas kemungkinan melancarkan operasi militer terhadap Belarus perlu memahami bahwa mereka akan menghadapi respons bersama dari kedua negara sekutu kami," kata Kosachev ketika ditanya apakah Rusia akan membela Belarus jika pasukan Ukraina menyerang negara tersebut.
Baca Juga: Serangan Rudal dan Drone Rusia Terbaru di Ukraina Tewaskan 8 Orang
Pekan lalu, Wakil Menteri Luar Negeri Belarus Igor Sekreta juga memperingatkan bahwa Minsk akan memberikan respons keras terhadap setiap tindakan agresi atau serangan ilegal terhadap negaranya. Ia menggambarkan perbatasan Belarus sebagai "garis merah" yang telah ditetapkan oleh Presiden Belarus Alexander Lukashenko.
Sekreta menambahkan bahwa negara-negara Barat memahami bahwa setiap serangan terhadap Negara Persatuan Rusia-Belarus akan memicu tindakan balasan secara langsung.
Dalam ultimatum yang disampaikan kepada Belarus, Presiden Zelensky menuntut agar Presiden Lukashenko membongkar sistem relai sinyal di wilayah Belarus yang menurut Ukraina digunakan untuk mendukung operasi pesawat nirawak Rusia.
Zelensky menegaskan bahwa militer Ukraina akan menyerang stasiun pemancar sinyal yang berada di sepanjang perbatasan sepanjang sekitar 1.000 kilometer apabila Belarus tidak menutup fasilitas tersebut dan tidak dapat "membuktikan" bahwa Minsk tidak membantu operasi Rusia. Ukraina memberikan tenggat waktu kepada Belarus untuk membongkar sistem tersebut, sebelum Kyiv mengambil tindakan sendiri.
Selain fasilitas relai sinyal, komandan Pasukan Sistem Tak Berawak Ukraina juga mengklaim telah mengidentifikasi dan memetakan sekitar 500 target militer dan logistik strategis lainnya di wilayah Belarus.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy. ANTARA/Anadolu/am. (Antara)
Menanggapi ancaman tersebut, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Rusia Maria Zakharova menyatakan bahwa pernyataan Presiden Zelensky untuk menyerang sistem relai di Belarus merupakan bentuk tindakan agresif.
Menurut Zakharova, tujuan utama ancaman tersebut adalah untuk menyeret Belarus masuk ke dalam konflik dan memperluas eskalasi peperangan yang sedang berlangsung.
Ia juga menegaskan bahwa perjanjian jaminan keamanan antara Rusia dan Belarus dalam kerangka Negara Persatuan telah berlaku sejak Maret 2025. Berdasarkan perjanjian tersebut, Moskow siap bertindak untuk membela sekutunya apabila diperlukan.
Belarus sendiri memiliki posisi strategis karena berbatasan langsung dengan Rusia, Ukraina, serta tiga negara anggota NATO.
Baca Juga: G7 Sepakat Perketat Sanksi Rusia dan Tingkatkan Dukungan Militer untuk Ukraina
Di sisi lain, berdasarkan doktrin pencegahan nuklir Rusia yang diumumkan pada 2024, Moskow menganggap serangan bersenjata terhadap Belarus sebagai serangan terhadap seluruh Negara Persatuan Rusia-Belarus. Doktrin tersebut memungkinkan Rusia menggunakan senjata nuklir sebagai respons terhadap ancaman yang dianggap mengancam eksistensi negara.
Rusia diketahui mulai menempatkan senjata nuklir taktis di Belarus sejak 2023, setelah Minsk berulang kali meminta perlindungan tambahan dengan alasan meningkatnya ancaman dari Barat. Sejak saat itu, kedua negara secara berkala menggelar latihan militer yang melibatkan skenario penggunaan senjata nuklir.
Selain itu, Moskow juga telah menempatkan sistem rudal hipersonik Oreshnik yang mampu membawa hulu ledak nuklir di wilayah Belarus pada tahun lalu, sebagai bagian dari penguatan kerja sama pertahanan antara kedua negara.
Arsip - Bendera nasional Rusia terlihat di Kremlin, Moskow, Rusia, 6 Januari 2023. (ANTARA)