Ntvnews.id, Caracas - Gempa bumi kembar yang mengguncang Venezuela pada pekan lalu menimbulkan kerusakan besar di berbagai wilayah negara tersebut. Selain menyebabkan lebih dari 1.700 orang meninggal dunia, bencana itu juga diperkirakan merusak atau menghancurkan puluhan ribu bangunan, berdasarkan analisis awal citra satelit.
Dilansir dari DW, Rabu, 1 Juli 2026, Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) memperkirakan sekitar 58.870 bangunan di wilayah terdampak kemungkinan mengalami kerusakan atau hancur akibat dua gempa berkekuatan magnitudo 7,2 dan 7,5 yang mengguncang Venezuela pada 24 Juni lalu.
Perkiraan tersebut didasarkan pada analisis citra radar satelit Sentinel-1 milik Badan Antariksa Eropa (ESA) yang dilakukan oleh peneliti dari Oregon State University, Corey Scher dan Jamon Van Den Hoek.
"Sekitar 58.870 bangunan kemungkinan mengalami kerusakan atau hancur di wilayah terdampak," tulis kedua peneliti dalam analisis awal yang dipublikasikan NASA.
Namun demikian, kedua peneliti menegaskan bahwa hasil tersebut masih berupa penilaian cepat berdasarkan perubahan permukaan yang terdeteksi melalui pengamatan satelit dan belum dikonfirmasi melalui survei langsung di lapangan.
Di sisi lain, Ketua Majelis Nasional Venezuela Jorge Rodriguez melaporkan bahwa sedikitnya 855 bangunan telah dipastikan mengalami kerusakan, termasuk 189 bangunan yang runtuh sepenuhnya.
Baca Juga: Korban Tewas Gempa Dahsyat di Venezuela Naik Jadi 1.430 Orang
Pemerintah Venezuela mencatat jumlah korban meninggal mencapai sekitar 1.700 orang, sementara lebih dari 5.000 lainnya mengalami luka-luka. Pemerintah belum mengumumkan secara resmi jumlah orang yang hilang, namun sejumlah estimasi menyebut angkanya dapat mencapai puluhan ribu orang.
Amerika Serikat turut membantu membuka kembali operasional Pelabuhan La Guaira guna memperlancar distribusi bantuan kemanusiaan. Selain itu, personel militer AS juga terlibat dalam upaya pemulihan operasional Bandara Internasional Simon Bolivar yang mengalami kerusakan akibat gempa.
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melaporkan bahwa sebanyak 27 negara telah mengirimkan hampir 40 tim pencarian dan penyelamatan yang terdiri atas lebih dari 2.000 personel serta lebih dari 160 anjing pelacak.
Meski peluang menemukan korban selamat terus menurun setelah melewati masa kritis 72 jam, harapan belum sepenuhnya hilang. Pada Senin (29/6), seorang pria berusia 21 tahun berhasil ditemukan dalam keadaan hidup dari bawah reruntuhan di kota pesisir Tanaguarena.
Di La Guaira, gudang sementara di kawasan pelabuhan dialihfungsikan menjadi tempat penyimpanan jenazah, yang kini menampung ratusan kantong jenazah yang belum teridentifikasi. Di luar lokasi tersebut, puluhan keluarga masih menantikan kabar mengenai anggota keluarga mereka yang hilang.
Sementara itu, krematorium di Caracas terus beroperasi hampir tanpa henti untuk menangani lonjakan jumlah korban meninggal. Dalam kurun waktu Jumat hingga Minggu, tercatat sekitar 60 hingga 70 prosesi pemakaman dilakukan setiap harinya.
Salah seorang warga, Wilker Molalla, mengaku masih menunggu kepastian mengenai nasib keluarganya yang tertimbun reruntuhan.
"Ada 11 orang di rumah kami. Hanya dua yang selamat karena saat gempa kami sedang bekerja," ujarnya.
Kesaksian memilukan juga disampaikan Sergio Vergara, yang menemukan jasad keponakannya beserta anggota keluarganya di bawah puing-puing bangunan di La Guaira.
"Itu pengalaman yang mengerikan saat mengeluarkan jasad keponakan saya dan anak-anaknya," katanya.
Sebuah bangunan rusak setelah diguncang gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,1 di Negara Bagian La Guaira, Venezuela, Kamis, 25 Juni 2026. (Antara)
PBB memperkirakan sekitar 7 juta orang akan terdampak oleh bencana tersebut. Kerugian ekonomi akibat gempa diperkirakan mencapai 6,7 miliar dolar AS atau sekitar Rp109 triliun, setara dengan sekitar 6 persen produk domestik bruto (PDB) Venezuela.
Di tengah proses pemulihan pascagempa, situasi politik di Venezuela kembali memanas. Pemimpin oposisi sekaligus penerima Hadiah Nobel Perdamaian, Maria Corina Machado, menuduh pemerintah menghalangi upayanya untuk kembali ke Venezuela dari pengasingan.
Melalui unggahan di media sosial X, Machado menyatakan bahwa pemerintah menutup ruang udara komersial Venezuela untuk mencegah dirinya kembali dan mendampingi masyarakat yang terdampak bencana.
"Saya siap dan berada di dekat Venezuela. Saya akan melakukan apa pun agar bisa kembali dan bertemu rakyat Venezuela," kata Machado.
Baca Juga: Indonesia Sampaikan Duka Mendalam atas Gempa Dahsyat di Venezuela yang Tewaskan 920 Orang
Bandara internasional utama di Maiqueta memang mengalami kerusakan akibat gempa dan saat ini hanya beroperasi secara terbatas untuk penerbangan kemanusiaan. Namun, hingga kini pemerintah Venezuela belum memberikan tanggapan atas tuduhan yang disampaikan Machado.
Bencana gempa bumi ini terjadi sekitar enam bulan setelah mantan Presiden Nicolas Maduro ditangkap dalam operasi militer Amerika Serikat. Saat ini, Venezuela dipimpin oleh presiden sementara Delcy Rodriguez, yang tengah memimpin upaya pemulihan negara dari salah satu bencana paling dahsyat dalam lebih dari satu abad terakhir.
Tim melakukan pekerjaan pembersihan puing di sebuah bangunan yang runtuh setelah gempa bumi di Caracas, Venezuela, pada Kamis, 25 Juni 2026. (Antara)