Ntvnews.id, Jakarta - Pemerintah memastikan harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit di tingkat petani akan kembali normal dalam waktu dekat. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyebut sebagian besar harga TBS yang sebelumnya mengalami penurunan kini telah berangsur pulih.
Usai menghadiri agenda di Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis, 18 Juni 2026, Amran menjelaskan bahwa sekitar 90 persen harga TBS sawit petani telah kembali ke level normal. Dari sekitar 1.900 perusahaan sawit yang beroperasi, hanya sebagian kecil yang masih belum membeli TBS sesuai harga yang semestinya.
"Jadi yang masih belum itu kurang lebih 100, kurang lebih 5%-10% yang belum normal," kata Amran di Kompleks Istana Kepresidenan, Kamis, 18 Juni 2026.
Menurut Amran, penurunan harga TBS yang sempat terjadi tidak sejalan dengan kondisi pasar global. Ia menyoroti harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) dunia yang justru mengalami kenaikan, bersamaan dengan menguatnya nilai tukar dolar AS.
"Harga CPO dunia naik, dolar menguat kurang lebih sepuluh persen, harga CPO naik, tetapi harga TBS turun. Ini tidak masuk akal," tegasnya.
Baca Juga: Amran Lapor Prabowo, Cadangan Beras Nasional Aman hingga 10 Bulan
Karena itu, pemerintah meminta perusahaan-perusahaan sawit untuk tidak mempermainkan harga pembelian TBS petani. Amran menegaskan sektor sawit menjadi sumber penghidupan jutaan masyarakat sehingga kestabilan harga harus dijaga.
Ia menyebut terdapat sekitar 15 juta petani yang menggantungkan penghasilan dari industri sawit. Oleh sebab itu, pemerintah bergerak cepat menindaklanjuti arahan Presiden untuk mengembalikan harga TBS ke tingkat yang wajar.
"Tapi yakin, satu minggu ke depan itu sudah pulih kembali," urai Amran.
Sebelumnya, Ketua Umum Serikat Petani Kelapa Sawit, Sabarudin, mengungkapkan harga TBS di tingkat petani memang mulai menunjukkan tren kenaikan. Setelah sempat merosot hingga sekitar Rp1.500 per kilogram, harga kini bergerak naik mendekati Rp3.000 per kilogram.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman (NTVnews)
Meski demikian, menurutnya pemulihan tersebut belum sepenuhnya mencerminkan kondisi pasar yang ideal. Dengan harga CPO yang berada pada kisaran Rp14.000 hingga Rp15.000 per kilogram, harga TBS di tingkat petani seharusnya bisa mencapai Rp3.900 hingga Rp4.000 per kilogram.
"Nah di petani saat ini ada ada yang Rp 2.900-an, ada yang Rp 3.000-an, ada yang Rp 2.700-an, ada yang Rp 3.000 an lebih juga. Kita harap ini terus naik," jelas Sabarudin saat dijumpai di Kantor Kementan, Senin, 8 Juni 2026.
SPKS menilai salah satu faktor yang memengaruhi penurunan harga sebelumnya adalah munculnya kekhawatiran pelaku usaha terhadap kebijakan ekspor satu pintu yang akan dijalankan oleh PT Danantara Sumberdaya Indonesia.
Menurut Sabarudin, kebijakan tersebut sempat menimbulkan ketidakpastian di kalangan pelaku industri sehingga berdampak langsung pada harga TBS yang diterima petani.
"Jadi kita saat ini fokus itu bagaimana kembali normal seperti sebelum penetapan kebijakan ekspor satu pintu," terang Sabarudin.
Pemerintah berharap pemulihan harga yang telah terjadi dalam beberapa pekan terakhir dapat terus berlanjut sehingga kesejahteraan petani sawit kembali meningkat dan rantai pasok industri sawit nasional tetap terjaga.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman (NTVnews)