Ntvnews.id, Washington D.C - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengungkapkan keinginannya untuk bertemu dengan Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei. Pernyataan itu disampaikan di tengah spekulasi mengenai kondisi kesehatan Mojtaba yang disebut mengalami luka-luka akibat serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel pada akhir Februari lalu.
Mojtaba Khamenei diketahui menggantikan posisi ayahnya, Ali Khamenei, yang dilaporkan tewas dalam serangan tersebut.
Dalam sebuah wawancara, Trump menyatakan bahwa peluang pertemuan dengan Mojtaba tetap terbuka, bergantung pada perkembangan situasi ke depan.
"Saya ingin bertemu dengannya, dan kami mungkin akan bertemu suatu saat nanti, tergantung bagaimana semuanya berjalan," kata Trump, dikutip dari Fox News, Kamis, 4 Juni 2026.
Trump juga mengaku menerima berbagai laporan mengenai kondisi kesehatan Mojtaba pascaserangan. Menurutnya, informasi yang beredar menunjukkan bahwa pemimpin Iran itu mengalami sejumlah cedera serius.
"Saya tidak mendengar kabar bahwa kondisinya baik. Jika Anda percaya cerita-cerita itu, dia mengalami banyak luka di tubuh," imbuhnya.
Baca Juga: Trump Klaim Israel dan Hizbullah Sepakat Hentikan Serangan Usai Kontak dengan Netanyahu
Sebelumnya, Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, turut mengungkap perkembangan terbaru terkait Mojtaba Khamenei. Dalam keterangannya di hadapan Komite Hubungan Luar Negeri Senat AS, Rubio menyebut terdapat indikasi kuat bahwa Mojtaba masih hidup dan mulai memainkan peran yang lebih aktif dalam pemerintahan Iran.
Menurut Rubio, Mojtaba juga mulai terlibat langsung dalam proses negosiasi antara Teheran dan Washington setelah tercapainya gencatan senjata pada 8 April lalu.
Meski demikian, hingga kini Mojtaba belum pernah muncul di hadapan publik sejak serangan pertama yang menewaskan ayahnya dan melukai dirinya di Teheran.
"Saya pikir ada indikasi di luar sana bahwa dia (Mojtaba Khamenei) semakin terlibat pada tingkat tertentu, meskipun semua komunikasinya selama ini dilakukan secara tertulis dan melalui perantara," kata Rubio seperti dikutip dari Al Jazeera.
Arsip foto - Presiden AS Donald Trump. /ANTARA/Anadolu/pri. (Antara)
Pernyataan Rubio muncul saat Iran masih mengkaji proposal terbaru yang diajukan Washington terkait perundingan untuk mengakhiri konflik yang berlangsung. Dalam rancangan proposal tersebut, pemerintahan Trump dilaporkan memperketat sejumlah persyaratan dalam proses negosiasi.
Sementara itu, kantor berita semi-resmi Iran, Mehr News Agency, mengutip sumber yang dekat dengan tim perunding Iran yang menyatakan bahwa Teheran masih mempelajari usulan terbaru dari Amerika Serikat. Sumber tersebut juga menyebut komunikasi antara kedua negara belum berlangsung dalam beberapa hari terakhir.
Perkembangan ini menunjukkan bahwa hubungan Washington dan Teheran masih berada dalam fase yang sensitif, meskipun jalur diplomasi tetap terbuka di tengah berbagai ketegangan yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir.
Arsip foto - Presiden AS Donald Trump mengadakan konferensi pers tak lama setelah insiden penembakan di acara White House Correspondents' Dinner di Gedung Putih di Washington, DC, Alerika Serikat, Minggu (25/4/2026). ANTARA/Celal Güne?/Anadolu/pri. (Antara)