Trump Murka ke Netanyahu: Anda Gila!

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 2 Jun 2026, 12:40
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Arsip foto Presiden Amerika Serikat Donald J. Trump. /ANTARA/Anadolu/pri. Arsip foto Presiden Amerika Serikat Donald J. Trump. /ANTARA/Anadolu/pri. (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Presiden Amerika Serikat Donald Trump dilaporkan meluapkan kemarahannya kepada Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu terkait meningkatnya operasi militer Israel di Lebanon yang dinilai berpotensi mengganggu proses perundingan antara AS dan Iran.

Menurut laporan Axios yang mengutip dua pejabat AS dan satu sumber lain yang mengetahui percakapan tersebut, Trump menyampaikan keberatannya dalam pembicaraan telepon yang berlangsung pada Senin, 1 Juni 2026. Presiden AS disebut menilai langkah Israel memperluas operasi di Lebanon dapat semakin mengisolasi negara itu di panggung internasional.

Dalam percakapan tersebut, Trump dikabarkan mengingatkan Netanyahu bahwa ancaman serangan terhadap Beirut dapat memperburuk citra Israel di mata dunia. Ia juga disebut menyinggung dukungan yang pernah diberikannya kepada Netanyahu saat pemimpin Israel itu menghadapi proses hukum terkait dugaan kasus korupsi.

"Anda benar-benar gila (You are fucking crazy). Anda sudah dipenjara kalau bukan karena saya. Saya sedang menyelamatkan anda. Sekarang semua orang membenci anda. Semua orang membenci Israel karena ini," kata Trump kepada Netanyahu yang terdengar oleh pejabat AS itu.

Baca Juga: Trump Sebut Kritik Demokrat dan Oposisi Republik Hambat Negosiasi AS-Iran

Sumber lain yang mengetahui isi percakapan tersebut menyebut Trump berada dalam kondisi sangat marah dan sempat meninggikan suara kepada Netanyahu.

"What the fuck are you doing?" teriak Trump dalam salah satu bagian percakapan tersebut.

Seorang pejabat AS mengatakan Trump memahami hak Israel untuk mempertahankan diri dari serangan Hizbullah. Namun, dalam pandangannya, respons militer Israel dalam beberapa hari terakhir dianggap tidak seimbang dan telah meningkatkan eskalasi konflik secara signifikan.

Selain ancaman serangan terhadap Beirut, Israel juga dilaporkan memperluas operasi daratnya di wilayah Lebanon selatan. Kondisi itu memunculkan kekhawatiran di Washington terkait meningkatnya jumlah korban sipil.

Seorang pejabat AS lainnya menyebut Trump merasa prihatin terhadap jatuhnya korban warga sipil di Lebanon. Ia juga mempertanyakan tindakan militer yang dianggap berlebihan, termasuk penghancuran bangunan untuk menargetkan satu komandan Hizbullah.

Meski Trump dan Netanyahu sebelumnya beberapa kali terlibat perdebatan terkait isu Iran dan konflik kawasan, kedua pemimpin tetap menjaga komunikasi dan koordinasi dalam berbagai persoalan strategis. Namun, seorang pejabat AS menyebut percakapan terbaru tersebut sebagai salah satu yang paling tegang sejak Trump kembali menjabat sebagai presiden.

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memberi isyarat di lokasi pembangunan ruang dansa Gedung Putih yang sedang berlangsung di Washington, DC, AS, 19 Mei 2026. (Foto: REUTERS/Kevin Lamarque) Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memberi isyarat di lokasi pembangunan ruang dansa Gedung Putih yang sedang berlangsung di Washington, DC, AS, 19 Mei 2026. (Foto: REUTERS/Kevin Lamarque)

Tak lama setelah percakapan itu berlangsung, Trump menuliskan pernyataan di platform Truth Social bahwa proses pembicaraan antara AS dan Iran masih berjalan dengan cepat.

Sementara itu, seorang pejabat Israel mengatakan kepada Axios bahwa negaranya saat ini tidak lagi berencana melancarkan serangan terhadap target Hizbullah di Beirut.

Namun dalam pernyataan terpisah, Netanyahu menegaskan bahwa ia telah menyampaikan kepada Trump bahwa Israel akan tetap menyerang target di Beirut apabila Hizbullah tidak menghentikan serangannya terhadap Israel. Ia juga menegaskan operasi militer di Lebanon selatan akan terus berlanjut.

"Posisi kami tetap sama," tulis Netanyahu.

Seorang pejabat AS bahkan mengklaim bahwa dalam percakapan tersebut Trump berhasil memberikan tekanan besar kepada Netanyahu hingga pemimpin Israel itu akhirnya melunak.

"Bibi mengatakan, 'Oke, oke, pastikan semuanya dibereskan,'" kata pejabat itu.

Baca Juga: Perawat Klinik Gigi di Tangerang Jadi Korban Penusukan Pasien, Pelaku Ditangkap Polisi

Laporan tersebut muncul di tengah negosiasi yang masih berlangsung antara AS dan Iran. Menurut sumber Axios, rancangan memorandum yang tengah dibahas kedua negara mencakup upaya penghentian konflik di Lebanon, sehingga perkembangan situasi di kawasan itu menjadi salah satu faktor penting dalam perundingan.

Di sisi lain, Iran dilaporkan tetap bersikeras agar gencatan senjata antara Israel dan Hizbullah dimasukkan sebagai bagian dari kesepakatan yang lebih luas. Bahkan pada Senin, 1 Juni 2026, Teheran mengancam akan meninggalkan meja perundingan jika operasi militer Israel di Lebanon terus berlanjut.

x|close