AS Beri Sinyal Siap Kembali Perang dengan Iran

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 1 Jun 2026, 09:30
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Siti Ruqoyah
Editor
Bagikan
Ilustrasi - Bendera Amerika Serikat dan Bendera Iran. (ANTARA/Anadolu Agency/pri) Ilustrasi - Bendera Amerika Serikat dan Bendera Iran. (ANTARA/Anadolu Agency/pri) (Antara)

Ntvnews.id, Washington D.C - Amerika Serikat membuka kemungkinan untuk kembali melanjutkan konflik militer dengan Iran di tengah ketidakpastian mengenai implementasi kesepakatan damai antara kedua negara.

Dilansir dari AFP, Senin, 1 Juni 2026, Sinyal tersebut disampaikan Menteri Perang AS Pete Hegseth saat menghadiri konferensi tingkat tinggi pertahanan di kawasan Asia pada Sabtu, 30 Mei 2026, Dalam pernyataannya, Hegseth menegaskan bahwa militer Amerika Serikat memiliki kemampuan dan kesiapan yang memadai apabila situasi mengharuskan mereka kembali terlibat dalam peperangan dengan Iran.

"Kami lebih dari mampu, persediaan kami lebih dari cukup untuk itu [perang lagi], baik di sana maupun di seluruh dunia karena bagaimana kami menyeimbangkan amunisi yang canggih dan lebih melimpah," kata Hegseth.

"Kami berada di posisi yang sangat baik," tambah dia.

Pernyataan tersebut sejalan dengan sikap yang disampaikan Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM). Otoritas militer itu menegaskan bahwa pasukan AS tetap berada dalam kondisi siaga dan terus memantau perkembangan situasi keamanan di kawasan Timur Tengah.

Sebelumnya, pada Kamis lalu, Washington dan Teheran menyepakati perpanjangan gencatan senjata selama 60 hari. Dalam kesepakatan tersebut, kedua negara juga berencana memulai pembahasan terkait program nuklir Iran.

Baca Juga: Iran Ancam Lawan Blokade AS, Laut Oman Disebut Bisa Jadi “Kuburan” Kapal Amerika

Meski demikian, kesepakatan itu masih menunggu persetujuan akhir dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Presiden AS tersebut tetap bersikukuh bahwa program nuklir Iran harus dibatasi dan tidak boleh berkembang menjadi kemampuan persenjataan nuklir.

"Iran harus setuju mereka tak akan pernah memiliki senjata atau bom nuklir. Selat Hormuz segera dibuka, tanpa biaya tol, untuk lalu lintas pelayaran tanpa batasan, di kedua arah," kata Trump.

Dia lalu berujar, "Semua ranjau laut, jika ada akan dimusnahkan."

Menurut laporan, Trump juga mengadakan pertemuan dengan para penasihatnya di Gedung Putih setelah berlangsungnya negosiasi antara AS dan Iran. Pertemuan yang digelar pada Jumat tersebut membahas perkembangan kesepakatan mengenai program nuklir Teheran.

Salah seorang sumber yang mengetahui jalannya pembahasan menyebut pertemuan itu berakhir tanpa menghasilkan keputusan final. Namun, Trump tetap menegaskan bahwa tujuan utama pemerintahannya adalah memastikan Iran tidak pernah memiliki kemampuan untuk mengembangkan senjata nuklir.

Sejak awal proses negosiasi, Washington secara konsisten menuntut pelucutan program nuklir Iran. Namun, tuntutan tersebut mendapat penolakan dari Teheran.

Arsip foto Presiden Amerika Serikat Donald J. Trump. /ANTARA/Anadolu/pri. <b>(Antara)</b> Arsip foto Presiden Amerika Serikat Donald J. Trump. /ANTARA/Anadolu/pri. (Antara)

Pemerintah Iran berulang kali menegaskan bahwa program nuklir yang mereka jalankan ditujukan untuk kepentingan sipil dan bukan untuk memproduksi senjata.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, juga menyampaikan bahwa pembicaraan terakhir dengan Amerika Serikat lebih difokuskan pada upaya mengakhiri perang. Menurutnya, isu mengenai program nuklir akan dibahas setelah konflik benar-benar berakhir.

Pandangan serupa disampaikan Ketua DPR Iran sekaligus pemimpin delegasi negosiasi Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf. Ia menegaskan negaranya tidak akan mengambil langkah lanjutan sebelum melihat tindakan konkret dari pihak lawan.

"Tak akan ada langkah selanjutnya sebelum pihak lain bertindak. Kita tak mendapat konsesi melalui pembicaraan, tetapi melalui rudal," kata dia.

Perbedaan pandangan terkait program nuklir masih menjadi hambatan utama dalam proses negosiasi kedua negara. Meski gencatan senjata telah diperpanjang, pernyataan dari kedua belah pihak menunjukkan bahwa jalan menuju kesepakatan permanen masih menghadapi tantangan yang tidak ringan.

x|close