AS-Iran Kembali Perang, DPR Minta RI Waspada Pasokan Energi

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 29 Mei 2026, 14:09
thumbnail-author
Moh. Rizky
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Kapal patroli milik Korps Garda Revolusi Islam Iran (Islamic Revolutionary Guard Corps/IRGC) di Selat Hormuz. /ANTARA/Xinhua/aa. Kapal patroli milik Korps Garda Revolusi Islam Iran (Islamic Revolutionary Guard Corps/IRGC) di Selat Hormuz. /ANTARA/Xinhua/aa. (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali berperang usai beberapa pekan gencatan senjata. Wakil Ketua Komisi I DPR Dave Laksono meminta pemerintah Indonesia waspada menyikapi kondisi ini. Utamanya terkait pasokan energi.

Mulanya, Dave mengomentari pecahnya lagi perang antara AS dan Iran. Menurutnya perang itu kembali pecah karena rapunya stabilitas di Timur Tengah.

"Perkembangan terbaru di Timur Tengah, khususnya pecahnya kembali konflik bersenjata antara Amerika Serikat dan Iran setelah masa gencatan senjata, menegaskan betapa rapuhnya stabilitas kawasan tersebut," ujar Dave, Jumat, 29 Mei 2026.

Baca Juga: Mandiri Berbagi ke Seantero Negeri

Dave turut menyoroti saling balas serangan antara kedua negara di Selat Hormuz. Dia menilai, konflik di wilayah itu bakal berpengaruh juga kepada Indonesia.

"Saling balas serangan, termasuk di jalur strategis Selat Hormuz, jelas menimbulkan dampak serius bagi keamanan global dan kelancaran perdagangan internasional, yang secara langsung maupun tidak langsung berpengaruh terhadap kepentingan Indonesia," papar dia.

Atas itu, Dave meminta pemerintah Indonesia mewaspadai terkait pasokan energi. Dirinya pun meminta Indonesia tetap berpegang pada politik bebas aktif sambil memperkuat kerja sama internasional dan melindungi WNI di wilayah konflik tersebut.

"Komisi I DPR RI menegaskan bahwa Indonesia senantiasa berpegang pada prinsip politik luar negeri bebas aktif, dengan orientasi pada perdamaian dunia dan penghormatan terhadap hukum internasional. Dalam menghadapi ketidakpastian ini, pemerintah perlu menyiapkan langkah antisipatif yang komprehensif, mulai dari perlindungan warga negara Indonesia di kawasan, pengamanan aset nasional, hingga penguatan kerja sama internasional untuk menjaga stabilitas pasokan energi dan jalur perdagangan," paparnya.

Perihal konflik yang terjadi, Dave menyarankan Indonesia mengedepankan diplomasi kepada kedua belah pihak. Menurut dia, Indonesia memiliki rekam jejak menciptakan perdamaian.

"Diplomasi yang intensif, baik melalui jalur bilateral maupun multilateral, menjadi kunci untuk meredakan eskalasi dan mencegah meluasnya konflik. Indonesia memiliki rekam jejak sebagai negara yang mampu memainkan peran sebagai jembatan dialog, dan kami optimis kontribusi aktif Indonesia akan membantu membuka ruang bagi penyelesaian damai," tandasnya.

x|close