Iran Ancam Lawan Blokade AS, Laut Oman Disebut Bisa Jadi “Kuburan” Kapal Amerika

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 18 Mei 2026, 13:00
thumbnail-author
Chika Prisila Ardala
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Ilustrasi Selat Hormuz. (ANTARA/Anadolu/py) Ilustrasi Selat Hormuz. (ANTARA/Anadolu/py) (Antara)

Ntvnews.id, Istanbul - Iran mengancam akan memberikan perlawanan terhadap Amerika Serikat terkait blokade angkatan laut yang dilakukan Washington.

Teheran bahkan memperingatkan bahwa Laut Oman dapat berubah menjadi “kuburan” bagi kapal-kapal militer AS apabila ketegangan terus meningkat.

‎“Saran saya kepada AS adalah mundurlah sebelum Teluk Oman berubah menjadi kuburan bagi kapal-kapal Anda. Jika tidak, maka yang kami pahami adalah bahwa blokade laut merupakan tindakan perang dan meresponsnya adalah hak alami kami,” kata Anggota Dewan Kemaslahatan Iran, Mohsen Rezaei, dalam pernyataan yang disiarkan televisi pemerintah Iran pada Minggu, 17 Mei 2026.

Baca Juga: Thailand Desak Iran Buka Jalur Selat Hormuz untuk Delapan Kapal yang Tertahan

Rezaei menegaskan bahwa sikap pertahanan Iran tidak boleh dianggap sebagai bentuk penerimaan terhadap tekanan maupun ancaman dari pihak luar.

‎“Jika kami telah bersabar hingga sekarang, maka itu bukan berarti kami menerimanya,” ucapnya.

Dalam pernyataannya, Rezaei juga mempertanyakan alasan keberadaan militer Amerika Serikat di kawasan Teluk.

Menurut dia, Washington sudah tidak lagi memiliki alasan kuat seperti yang pernah digunakan pada masa lalu untuk mempertahankan keberadaan militernya di kawasan tersebut.

‎“Amerika datang ke sini dan membawa kapal-kapal perangnya. Siapa musuh mereka? Dulu mereka mengatakan datang untuk menghadapi Uni Soviet. Uni Soviet sudah tidak ada lagi,” katanya.

Rezaei menambahkan bahwa selama ini Selat Hormuz tetap terbuka bagi aktivitas perdagangan internasional.

Namun, Iran menolak keberadaan kampanye militer asing yang dinilai dapat mengganggu keamanan kawasan.

‎“Selat Hormuz terbuka untuk perdagangan, tetapi akan ditutup bagi penumpukan militer dan segala upaya yang mengganggu keamanan,” tegasnya.

Ketegangan di kawasan Timur Tengah meningkat sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada Jumat, 28 Februari 2026.

Serangan tersebut memicu aksi balasan dari Teheran serta menyebabkan gangguan di kawasan Selat Hormuz.

Baca Juga: Menteri Energi AS Prediksi Selat Hormuz Dibuka Kembali Akhir Musim Panas 2026

Gencatan senjata kemudian mulai berlaku pada Selasa, 08 April 2026, melalui mediasi Pakistan.

Namun, perundingan yang berlangsung di Islamabad belum menghasilkan kesepakatan jangka panjang.

Gencatan senjata tersebut selanjutnya diperpanjang tanpa batas waktu oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Sejak Senin, 13 April 2026, Amerika Serikat mulai memberlakukan blokade angkatan laut yang menargetkan lalu lintas maritim Iran di jalur perairan strategis tersebut.

(Sumber: Antara)

x|close