Ntvnews.id, Bangkok - Pemerintah Thailand mendesak Iran agar memberikan akses aman bagi delapan kapal yang masih tertahan di kawasan Selat Hormuz. Permintaan tersebut disampaikan langsung oleh Menteri Luar Negeri Thailand, Sihasak Phuangketkeow, saat bertemu Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi di sela pertemuan menteri luar negeri BRICS di New Delhi, India, Kamis, 15 Mei 2026.
Dalam laporan media lokal Thailand, Sihasak mengungkapkan kekhawatiran negaranya terhadap konflik yang terus memanas di Timur Tengah serta dampaknya terhadap perekonomian global. Pembahasan itu muncul dalam diskusi informal antara kedua pejabat tinggi tersebut.
Sihasak juga menyoroti situasi di Selat Hormuz yang dinilai semakin mengkhawatirkan akibat pembatasan pelayaran yang dilakukan Iran. Kondisi itu menyebabkan sejumlah kapal dari berbagai negara tidak dapat melintas.
"pembatasan navigasi yang dilakukan di Selat Hormuz dan membuat banyak kapal dari berbagai negara tertahan"
Baca Juga: Menlu Iran Akui Ada Ranjau di Selat Hormuz
Sementara itu, Abbas Araghchi menyatakan memahami kekhawatiran yang disampaikan Thailand terkait jalur pelayaran internasional tersebut. Ia optimistis akses di Selat Hormuz dapat kembali dibuka dalam waktu mendatang.
Menurut Araghchi, blokade terhadap jalur strategis itu akan dicabut setelah tercapainya kesepakatan damai antara Iran dan Amerika Serikat.
Dalam pertemuan tersebut, Thailand juga menegaskan komitmennya untuk mengirim bantuan kemanusiaan dan obat-obatan ke Iran melalui Oman sebagai bentuk dukungan di tengah konflik yang berlangsung.
Ilustrasi - Unit-unit angkatan laut Iran dan Rusia melakukan simulasi penyelamatan kapal yang dibajak selama latihan gabungan di Pelabuhan Bandar Abbas, dekat Selat Hormuz, Hormozgan, Iran, Kamis (19/2/2026). /ANTARA/HO-Iranian Navy/Joint Military Ex (Antara)
Ketegangan di kawasan Timur Tengah, termasuk Selat Hormuz, meningkat sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan besar-besaran ke Iran pada 28 Februari lalu. Sebagai respons, Iran melakukan serangan balasan terhadap aset militer AS di negara-negara Teluk serta wilayah Israel.
Sebagai bagian dari langkah balasan sekaligus tekanan ekonomi terhadap lawannya, Iran resmi menutup Selat Hormuz pada 2 Maret. Situasi di jalur perdagangan energi dunia itu semakin memanas setelah Amerika Serikat turut memblokade kapal-kapal yang menuju maupun keluar dari pelabuhan Iran.
Arsip - Kapal tanker minyak Inggris Stena Impero dikelilingi oleh kapal cepat Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) di Selat Hormuz (21/7/2019). (ANTARA/Xinhua/HO-ISNA/Morteza Akhoundi/aa) (Antara)