AS Siapkan Aturan Baru untuk Mobil China, Mercedes-Benz Ikut Terseret

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 2 Jun 2026, 08:33
thumbnail-author
Adiantoro
Penulis
thumbnail-author
Editor
Bagikan
Ilustrasi. Logo Mercedes-Benz. (Foto: Reuters) Ilustrasi. Logo Mercedes-Benz. (Foto: Reuters)

Ntvnews.id, Jakarta - Upaya Amerika Serikat (AS) membatasi pengaruh China di industri otomotif nasional berpotensi menimbulkan dampak tak terduga. 

Salah satu merek yang bisa ikut terkena imbas adalah Mercedes-Benz, produsen mobil premium asal Jerman yang selama puluhan tahun beroperasi di Negeri Paman Sam.

Mengutip Carscoops, Selasa (2/6/2026), ancaman tersebut muncul dari Rancangan Undang-Undang (RUU) Modernisasi Kendaraan Bermotor yang tengah dibahas di Kongres AS. 

Regulasi ini dirancang untuk membatasi aktivitas perusahaan otomotif yang memiliki keterkaitan kepemilikan dengan negara yang dianggap sebagai "musuh asing", termasuk China.

Menariknya, persoalan yang dihadapi Mercedes-Benz bukan terkait lokasi produksi. Perusahaan ini telah lama memproduksi kendaraan di Alabama dan mengoperasikan pabrik van di South Carolina. 

Fokus perhatian justru tertuju pada struktur kepemilikan saham perusahaan. Saat ini, perusahaan otomotif milik negara China, BAIC Group, tercatat sebagai salah satu pemegang saham terbesar Mercedes-Benz dengan kepemilikan hampir 10 persen. 

Selain itu, Chairman Geely Holding Group, Li Shufu, juga menguasai hampir 10 persen saham. Secara total, investor asal China memiliki sekitar 19,7 persen saham Mercedes-Benz.

Beberapa tahun lalu, kondisi tersebut tidak menjadi persoalan. Namun, ketentuan dalam RUU baru membuka kemungkinan perusahaan dengan keterkaitan kepemilikan terhadap pemerintah negara yang dianggap lawan AS dapat menghadapi pembatasan bisnis, termasuk di sektor otomotif.

Jika aturan tersebut diterapkan secara ketat, Mercedes-Benz berpotensi masuk dalam kategori yang diawasi, meskipun perusahaan ini merupakan merek Jerman dan memiliki basis manufaktur yang kuat di AS. 

Saat ini Mercedes-Benz mempekerjakan sekitar 10.000 pekerja di AS dan baru saja mencatat produksi kendaraan ke-5 juta di negara tersebut. 

Perusahaan juga tengah memperluas kapasitas produksi dengan memindahkan manufaktur model GLC ke AS.

Baca Juga: Mobil China Ini Bikin Mercedes-Benz, BMW hinga Porsche Kewalahan

Pengecualian Bisa Gugur karena Kepemilikan Saham

RUU tersebut memang memberikan pengecualian bagi produsen yang telah lama memproduksi kendaraan di AS. 

Namun, terdapat klausul yang memungkinkan pengecualian tersebut tidak berlaku apabila perusahaan memiliki hubungan kepemilikan langsung maupun tidak langsung dengan pemerintah negara yang masuk dalam daftar musuh asing.

Kondisi inilah yang membuat kepemilikan saham BAIC menjadi perhatian utama para pembuat kebijakan di Washington. Meski demikian, Mercedes-Benz belum menunjukkan kekhawatiran berlebihan. 

CEO Mercedes-Benz, Ola Källenius, menyatakan perusahaan siap mencari solusi apabila isu kepemilikan saham menjadi hambatan. 

Dia juga optimistis persoalan tersebut dapat diselesaikan tanpa menimbulkan gangguan besar terhadap operasional perusahaan.

Mercedes-Benz mengaku terus berkomunikasi dengan para pembuat kebijakan untuk memahami arah regulasi yang sedang dibahas dan memastikan investasi serta operasinya di AS tetap terlindungi.

Taruhannya tidak kecil. Sepanjang tahun lalu, Mercedes-Benz menjual lebih dari 300.000 kendaraan penumpang di pasar AS. 

Angka tersebut menjadikan AS sebagai salah satu pasar terpenting bagi merek asal Jerman tersebut.

Meski larangan penjualan masih jauh dari kepastian dan isi RUU masih dapat berubah, kasus ini menunjukkan bagaimana eratnya keterkaitan industri otomotif global dengan dinamika geopolitik yang terus berkembang.

x|close