Trump Marah pada Netanyahu Saat Telepon soal Eskalasi Konflik Lebanon

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 2 Jun 2026, 15:18
thumbnail-author
Winny
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Arsip foto - Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. ANTARA/Anadolu Agency/pri. Arsip foto - Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. ANTARA/Anadolu Agency/pri. (Antara)

Ntvnews.id, Washington - Presiden Amerika Serikat Donald Trump dilaporkan meluapkan kemarahannya kepada Kepala Otorita Israel Benjamin Netanyahu dalam percakapan telepon yang berlangsung pada Senin, 1 Juni 026. Informasi tersebut diungkap media Amerika Serikat, Axios, yang mengutip sejumlah sumber yang mengetahui isi pembicaraan tersebut.

Menurut laporan Axios, ketegangan dalam percakapan itu dipicu oleh meningkatnya situasi keamanan di kawasan Lebanon dan respons militer Israel yang dinilai tidak seimbang. Salah seorang sumber menyebut Trump secara langsung menyinggung posisi politik dan persoalan hukum yang sedang dihadapi Netanyahu.

"Anda pasti sudah ada di penjara kalau bukan karena saya. Semua orang sekarang membenci Anda. Semua orang membenci Israel karena hal ini," kata Trump kepada Netanyahu, merujuk proses hukum pidana terhadap Netanyahu, sebut salah seorang sumber.

Axios melaporkan bahwa Trump memahami adanya peningkatan serangan yang dilakukan kelompok Hizbullah terhadap Israel dalam beberapa hari terakhir. Namun demikian, ia disebut menilai tindakan balasan yang dilakukan Israel telah melampaui batas dan berpotensi memperburuk situasi keamanan di kawasan Timur Tengah.

Ketegangan tersebut muncul di tengah upaya diplomatik yang sebelumnya dilakukan Amerika Serikat. Pada 16 April lalu, Washington menjadi tuan rumah pertemuan langsung pertama antara perwakilan Lebanon dan Israel. Setelah pertemuan itu, Trump mengumumkan tercapainya kesepakatan gencatan senjata antara kedua pihak.

Baca Juga: Iran Tegaskan Siap Dukung Lebanon Hadapi Serangan Israel

Meski kesepakatan telah diumumkan, laporan menyebutkan bahwa serangan militer Israel terhadap sejumlah wilayah di Lebanon selatan masih terus berlangsung. Selain itu, pasukan Israel juga disebut tetap mempertahankan kontrol tembakan di beberapa kawasan perbatasan. Situasi tersebut kemudian memicu respons dari Hizbullah yang melancarkan operasi militer terhadap pasukan Israel.

Di sisi lain, perkembangan terbaru juga datang dari Iran. Pada Senin, 1 Juni 2026, Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menyatakan bahwa Teheran berpotensi menghentikan proses negosiasi dengan Amerika Serikat apabila Israel terus melakukan tindakan yang dianggap bermusuhan terhadap Lebanon. Iran juga mengisyaratkan kemungkinan mengambil langkah lebih lanjut terhadap Israel jika situasi tidak mengalami perubahan.

Baca Juga: Ancaman Serangan Israel Picu Gelombang Pengungsian Warga di Ibu Kota Lebanon

Sejumlah sumber yang dikutip Axios mengungkapkan bahwa kemarahan Trump dalam percakapan tersebut tidak hanya diwujudkan melalui kritik keras, tetapi juga disertai penggunaan kata-kata kasar kepada Netanyahu. Bahkan, menurut sumber yang sama, Trump menyebut Netanyahu sebagai "gila" ketika menyampaikan ketidakpuasannya terhadap kebijakan Israel dalam merespons perkembangan konflik di Lebanon.

Laporan tersebut menambah panjang daftar ketegangan diplomatik yang mewarnai hubungan antara Amerika Serikat, Israel, Lebanon, dan Iran di tengah upaya berbagai pihak untuk menjaga stabilitas kawasan serta mencegah konflik yang lebih luas di Timur Tengah.

(Sumber: Antara)

x|close