Trump Klaim Israel dan Hizbullah Sepakat Hentikan Serangan Usai Kontak dengan Netanyahu

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 3 Jun 2026, 08:05
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Presiden Amerika Serikat Donald Trump. (ANTARA/Anadolu/aa) Presiden Amerika Serikat Donald Trump. (ANTARA/Anadolu/aa) (Antara)

Ntvnews.id, Washington D.C - Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan Israel dan kelompok Hizbullah di Lebanon telah menyetujui penghentian pertempuran setelah eskalasi militer kembali meningkat akibat serangan Israel ke wilayah Lebanon.

Trump mengungkapkan bahwa dirinya telah melakukan pembicaraan melalui telepon dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Dalam komunikasi tersebut, ia mengaku memperoleh jaminan bahwa Israel tidak akan mengerahkan pasukan ke ibu kota Lebanon, Beirut.

"Tak akan ada pasukan yang dikirim ke Beirut, dan pasukan mana pun yang sedang dalam perjalanan sudah dipulangkan," kata Trump di media sosial Truth Social, dikutip dari Anadolu Agency, Rabu, 3 Juni 2026.

Menurut Trump, ia juga meminta Netanyahu untuk tidak melancarkan serangan besar-besaran ke Beirut. Selain berkomunikasi dengan pemimpin Israel, Trump mengaku telah melakukan percakapan yang positif dengan perwakilan senior Hizbullah.

"Dan mereka sepakat semua penembakan akan dihentikan, bahwa Israel tak akan menyerang mereka, dan mereka tak akan menyerang Israel," kata dia.

Baca Juga: Hasil Pemeriksaan Medis Trump, Dokter Anjurkan Diet

Pernyataan tersebut muncul setelah Israel kembali melancarkan serangan intensif ke Lebanon meskipun sebelumnya telah menyepakati gencatan senjata pada 17 April. Kesepakatan tersebut kemudian diperpanjang selama 45 hari dan secara perhitungan berakhir pada 1 Juni.

Pemerintah Israel beralasan serangan terbaru dilakukan sebagai respons atas aksi yang diklaim berasal dari Hizbullah dan menyasar wilayah serta warga Israel.

"Israel akan menyerang target teror di Beirut," kata Netanyahu.

Hubungan antara Israel dan Hizbullah memang diwarnai sejumlah pelanggaran kesepakatan gencatan senjata. Pada November 2024, kedua pihak sempat mencapai kesepakatan penghentian konflik. Namun, setelah itu Israel beberapa kali dituduh melanggar perjanjian dengan tetap melancarkan operasi militer di Lebanon.

Arsip foto - Presiden AS Donald Trump. /ANTARA/Anadolu/pri. <b>(Antara)</b> Arsip foto - Presiden AS Donald Trump. /ANTARA/Anadolu/pri. (Antara)

Gelombang serangan terbaru juga terjadi ketika Amerika Serikat dan Iran sedang berupaya merumuskan kesepakatan untuk mengakhiri konflik yang berlangsung sejak 28 Februari.

Dalam salah satu usulan yang diajukan Teheran, Iran meminta agar Amerika Serikat dan sekutunya menghentikan serangan terhadap Lebanon. Namun, meningkatnya aksi militer Israel memicu kemarahan Iran dan disebut berdampak pada terhentinya sementara proses negosiasi damai yang tengah berlangsung.

Perkembangan tersebut menambah kompleksitas situasi di Timur Tengah, di mana upaya diplomasi masih terus berjalan di tengah ketegangan yang belum sepenuhnya mereda antara berbagai pihak yang terlibat dalam konflik kawasan.

x|close