Kemenhut Integrasikan Kearifan Lokal dan Pemuda untuk Capai FOLU Net Sink 2030

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 22 Mei 2026, 14:55
thumbnail-author
Chika Prisila Ardala
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Pegiat lingkungan sekaligus pemeran utama dalam film dokumenter Pegiat lingkungan sekaligus pemeran utama dalam film dokumenter (Antara)

Ntvnews.id

, Jakarta - Kementerian Kehutanan berkomitmen mengintegrasikan kearifan lokal masyarakat adat serta inovasi generasi muda sebagai pilar utama dalam mendukung pencapaian target penurunan emisi gas rumah kaca melalui program Indonesia Forestry and Other Land Uses (FOLU) Net Sink 2030.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM (BP2SDM) Kementerian Kehutanan Indra Exploitasia Semiawan mengatakan strategi tersebut penting agar upaya pemulihan lingkungan tidak hanya berhasil secara administratif, tetapi juga memberikan dampak nyata di lapangan.

Komitmen itu salah satunya diwujudkan melalui peluncuran film dokumenter lingkungan berjudul Merawat Esok yang merekam kiprah tokoh lokal dan generasi muda dalam menjaga kelestarian hutan secara mandiri.

"Peluncuran film 'Merawat Esok' yang bertepatan dengan Hari Kebangkitan Nasional ini menjadi momentum bahwa tanggung jawab terhadap alam tidak hanya berada pada tokoh-tokoh lingkungan, melainkan menjadi tanggung jawab kita bersama untuk menyiapkan kehidupan masa depan," kata Indra selepas pemutaran perdana film tersebut di Kantor Kementerian Kehutanan, Jakarta, Rabu, 20 Mei 2026.

Baca Juga: Indonesia Tekankan Penguatan Hak Kepemilikan Tanah Masyarakat Adat di COP30

Indra menjelaskan bahwa melalui kegiatan yang mendapat dukungan dari Pemerintah Kerajaan Norwegia tersebut, Kemenhut juga menampilkan berbagai inovasi agroforestri hasil binaan generasi muda, seperti produksi kopi dan madu hutan.

Menurutnya, langkah tersebut menjadi bukti bahwa upaya perlindungan hutan dapat berjalan seiring dengan peningkatan kesejahteraan ekonomi masyarakat.

Kementerian Kehutanan optimistis perlindungan ekosistem penting seperti hutan, lahan gambut, dan mangrove dapat berjalan lebih inklusif serta berkelanjutan melalui kolaborasi antara kebijakan pemerintah, kekuatan kearifan lokal, dan kreativitas pemuda sebagaimana tergambar dalam film dokumenter tersebut.

Dalam sesi diskusi yang melengkapi peluncuran film, pentingnya pelibatan masyarakat adat dan kelompok tani kembali menjadi sorotan, terutama dalam menghadapi dampak perubahan iklim ekstrem seperti ancaman siklus El Nino.

Pegiat lingkungan sekaligus pemeran film, Ramon Y. Tungka, menyebut masyarakat adat di berbagai daerah Indonesia sebenarnya telah memiliki kearifan tradisional dalam menjaga alam jauh sebelum isu krisis iklim global berkembang luas.

"Teman-teman di komunitas masyarakat adat sudah merumuskan kearifan lokal untuk melestarikan alam itu sejak dahulu kala. Inisiasi yang berpihak kepada alam ini akan menjadi sangat efektif bilamana diadopsi secara formal dan melibatkan semua sektor," kata Ramon saat merespons pertanyaan dari perwakilan akademisi IPB University Alif Nur Hidayat terkait eksistensi komunitas lokal di era digital.

Baca Juga: Pigai: RUU Masyarakat Adat Atur Pengakuan hingga Pembentukan Komisi Nasional

Hal senada disampaikan perwakilan Kelompok Tani Hutan (KTH) Cibulao Hijau Jawa Barat, Kiryono, yang menegaskan komitmen masyarakat akar rumput dalam menjaga keseimbangan ekosistem tetap berjalan secara mandiri.

"Dengan adanya program atau tanpa program apa pun, kalau kita sebenarnya sudah punya komitmen, kita tetap berlanjut melakukan apa yang mesti dilakukan untuk alam. Melalui wadah solidaritas kelompok tani, kita bergerak bareng melakukan konservasi di lapangan," kata dia menambahkan.

(Sumber: Antara)

x|close